Social Icons

Showing posts with label Mistery. Show all posts
Showing posts with label Mistery. Show all posts

18 August 2013

DEKRIT oleh KEUSKUPAN AGUNG KWANGJU


Dekrit oleh Ordinaris Keuskupan Agung Kwangju

“Saya, Uskup Agung Andrew Chang-Moo Choi, melaksanakan tugas Ordinaris Keuskupan Agung Kwangju melalui kebaikan belas kasihan dan berkat dari Allah, dengan pertimbangan yang murah hati serta perintah dari Bapa Suci, pengganti dari Rasul Petrus, walaupun hal ini menyakitkan hati saya, namun saya tidak mempunyai pilihan kecuali membuat pengumuman berikut ini untuk membela kehidupan iman yang benar dari umat Kristiani, serta menjaga kesatuan dan persaudaraan dalam komunitas Gereja (bdk. Kan. # 391)

Pertama, saya telah mencapai keputusan bahwa ‘Julia Yoon dari Naju dan mereka yang mempercayai fenomena yang berhubungan dengannya, tidak lagi mempunyai itikad untuk membentuk kesatuan dan harmoni dengan Gereja Katolik. Mereka tetap menolak untuk mengikuti deklarasi Ordinaris (1 Januari 1998 dan 5 Mei 2005) dan petunjuk pastoral (5 Mei 2001) dan hanya menunjukkan penolakan terhadap panduan-panduan tersebut. Mereka tidak mengikuti permintaan dan perintah yang saya buat selama kunjungan pribadi saya ke rumah Julia Hong-Sun Yoon dan suaminya, Man-Bok Kim, bersama-sama dengan beberapa saksi (Maret hingga Agustus 2003), bahwa mereka tetap melaksanakan kehidupan iman mereka seperti biasa (seperti menghadiri Misa hari Minggu, mengaku dosa sebelum peringatan hari-hari besar seperti Natal dan Paskah, dan memberikan persembahan kepada paroki) dan menunjukkan catatan finansial dari semua sumbangan yang telah mereka terima. Mereka juga tidak merespon ultimatum saya di bulan Februari 2005. Mereka tetap melanjutkan mengajarkan ‘fenomena yang berkaitan dengan Julia Yoon dari Naju’ sebagai ‘wahyu pribadi’ atau ‘mukjizat’, memperkirakan pembangunan apa yang disebut dengan ‘basilika’ untuk mengumpulkan dana, menyebarkan informasi yang menyesatkan bahwa Bapa Suci dan Tahta Suci mengakui (Naju), dan mengkritik saya, Persatuan Uskup-uskup Korea, dan Gereja Katolik Korea melalui media cetak dan elektronik. (bdk. pamflet-pamflet promosi mereka, buku-buku, koran, dan situs internet).

Saya membuat konfirmasi akhir bahwa perbuatan mereka yang sedemikian adalah sama sekali bukan sikap yang benar dan seimbang sebagai umat beriman; juga bukan suatu perbuatan devosi atau ritual penyembahan yang benar kepada Allah. Sejalan dengan itu, saya menyatakan bahwa para klerus, kaum awam dan kaum religius yang berpartisipasi dalam administrasi Sakramen-sakramen atau perayaan dari Sakramental, yang telah saya larang, pada ‘kapel’ yang tidak resmi atau ‘Gunung dari Bunda Yang Terberkati’, mengakibatkan penalti ekskomunikasi otomatis (bdk. Kan # 1336 dan 1364). Oleh karena hal-hal ini adalah perbuatan-perbuatan ketidaktaatan melawan panduan dan penilaian pastoral dari Ordinaris, pelanggaran terhadap Hukum Kanon (bdk. Kan # 1369, 1371, dan 1373), dan penolakan-penolakan untuk membentuk kesatuan seperti halnya menimbulkan kerusakan kepada persaudaraan dalam komunitas Gereja, penalti ini berlaku tidak hanya kepada umat beriman yang menjadi bagian dari Keuskupan Agung Kwangju tetapi juga kepada semua klerus, kaum awam, dan kaum religius di dalam Gereja Katolik.

Kedua, saya telah memastikan bahwa Rm. Aloysius Hong-Bin Chang dari keuskupan saya, yang mengesahkan bahwa ‘fenomea yang berkaitan dengan Julia Yoon dari Naju’ adalah ‘wahyu pribadi’ dan ‘mukjizat’, mengemukakan secara tak tergoyahkan bahwa (keputusannya) adalah ‘sebuah pilihan berdasarkan hati nuraninya’ dan berulang ulang memutarbalikkan (kata-katanya) dan melanggar kewajibannya untuk taat kepada Ordinaris, yang kepadanya ia telah bersumpah di hari pentahbisannya, tergantung kepada situasi, tidak lagi mempunyai intensi untuk membentuk kesatuan dan harmoni dengan kesatuan para imam di Keuskupan Kwangju. Dalam kedua pertemuan komite personel (1 Juni 2007 dan 15 Januari 2008), ia tidak hendak mengakui pengesahan yang telah dilakukannya melainkan hanya bermaksud untuk mempertahankan sikapnya, yang menegaskan bahwa ia adalah hanyalah ‘salah satu dari orang yang percaya kepada fenomena yang berkaitan dengan Julia Yoon dari Naju’ daripada seorang imam sebuah keuskupan yang setia kepada tugas ketaatan di mana ia telah bersumpah kepada Ordinaris (bdk. Kan # 273 dan 278).

Sejalan dengan itu, Rm. Aloysius Hong-Bin Chang tidak lagi memiliki status dan hak sebagai seorang imam yang menjadi bagian dari Keuskupan Kwangju, dan semua kemampuan isitimewa bagi imam-imam diosesan, yang seragam secara nasional, dikaruniakan kepadanya di hari pentahbisannya, dengan ini ditarik (bdk. Kan # 194, 1333, 1336, dan 1371).

Saya berdoa kepada Tuhan, melalui belas kasihan dan rahmat-Nya yang tidak terbatas, orang-orang ini akan menyadari kesalahan-kesalahan mereka, kembali ke pangkuan Gereja Katolik, menerima berkat-berkat kesatuan dan harmoni melalui Sakramen Pengakuan Dosa, dan sesegera mungkin berpartisipasi dalam ritual yang benar dalam penyembahan kepada Allah. Bunda Suci, Bunda Juruselamat kami dan Bunda kami, Pelindung Gereja Korea dan dikandung tanpa dosa asal; Santo Yusuf; dan semua santo santa para martir Korea, doakanlah kami.”
21 Januari 2008,

Pada hari peringatan St Agnes, perawan dan martir.
Ditandatangani oleh Uskup Chang Moo Choi
Uskup Agung Andrew Chang-Moo Choi
Ordinaris dari Keuskupan Agung Kwangju

Pernyataan Uskup Agung Andrew Chang-Moo Choi merupakan kelanjutan dari  surat dari keuskupan Incheon (Naju termasuk dalam wewenang keuskupan ini), oleh uskup Boniface Choi Ki-san tanggal 29 Juni 2007 yang melarang umatnya untuk berziarah ke Naju. Larangan ini merupakan kelanjutan dari pernyataan senada dari Uskup Agung Victorinus Youn Kong-hi di tahun 1998, yang menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan bahwa penglihatan- penglihatan dan fenomena yang dialami oleh Julia dan patungnya merupakan sesuatu yang benar- benar supernatural dan berasal dari Tuhan. Pengganti Uskup Agung Youn, yaitu Uskup Agung Andreas Choi Chang-mou, di tahun 2001 dan 2005 juga sudah pernah mengeluarkan pernyataan serupa, dan pada tahun 2008 tersebut kembali mengeluarkan surat yang merupakan penegasan dari apa yang pernah disampaikan sebelumnya. Informasi yang lebih lengkap mengenai hal ini, dapat dibaca di link ini, klik di sini, dan di sini.
Selanjutnya dalam berita di UCAnews.com mengatakan:

“Keuskupan Agung Kwangju pada tanggal 24 Februari 2008 mengeluarkan pernyataan, “Sikap Keuskupan Kwangju dalam kaitan dengan Peristiwa Julia Youn di Naju”. Di dalam pernyataan itu, Keuskupan Kwangju mengutip surat dari Kongregasi Untuk Ajaran Iman (CDF/ Congregation for the Doctrine of the Faith) yang berkedudukan di Vatikan, yang mengatakan bahwa Vatikan menghargai keputusan Keuskupan Kwangju sebagai sikap resmi dari Gereja universal, yaitu keputusan terhadap apa yang dianggap sebagai penampakan, yang dialami oleh Julia di Naju.”

Surat dari Vatikan tersebut bertanggal 24 April, 2008.
Uskup Agung Andreas Choi Chang-mou dari Kwangju telah menyatakan di bulan Januari 2008 bahwa Youn dan para pengikutnya, yang telah mendesakkan keyakinannya terhadap apa yang disebutnya sebagai mukjizat ilahi yang berputar di sekelilingnya, telah mengakibatkan terjadinya ekskomunikasi latae sententiae. Ekskomunikasi tersebut tidak diterapkan melalui jalur penghakiman, namun lahir sebagai akibat otomatis dari sebuah tindakan yang menempatkan seseorang di luar komunitas umat beriman.”

Untuk membaca berita selengkapnya, silakan klik di sini, dan juga di sini, silakan klik
Mengingat bahwa sejauh ini ada banyak juga umat Katolik dari Indonesia yang sudah ‘berziarah’ ke sana, maka ada baiknya informasi ini diketahui oleh umat Katolik Indonesia, sebab nampaknya pihak otoritas Gereja Katolik (dalam hal ini sikap Vatikan sama dengan sikap Keuskupan Agung Kwangju) tidak mengakui penampakan/ fenomena Julia Kim ini. Kita sebagai umat Katolik selayaknya percaya kepada pihak otoritas Gereja Katolik di Naju, Korea Selatan, yang telah mengadakan penyelidikan seksama terlebih dahulu, sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut. Pihak Keuskupan Agung sudah telah membentuk komite khusus pada tanggal 30 Desember 1994, untuk menyelidiki fenomena- fenomena di Naju. Berdasarkan penyelidikan komite tersebut, ternyata ditemukan adanya keterlibatan beberapa elemen- elemen buatan/ elemen manusia, sehingga kredibilitas fenomena tersebut diragukan. Silakan membaca selengkapnya pernyataan Uskup Agung Kwangju sehubungan dengan hal ini, silakan klik.

Dalam sejarah Gereja Katolik, para penerima wahyu pribadi yang otentik selalu tinggal dalam kerendahan hati, tidak menentang otoritas Gereja, dan tidak menjadikan tempatnya menjadi tempat ziarah dengan memungut biaya masuk bagi pengunjung seolah menjadikannya tempat komersial. Hal ini nampaknya berbeda dengan yang terjadi di Naju, Korea Selatan. Menurut informasi yang kami terima dari salah seorang umat Katolik dan Romo yang berdomisili di Korea, pihak Vatikan telah menyelidiki dengan mengirimkan utusan untuk menjadi salah satu peziarah untuk mengetahui keadaan di lapangan, dan dengan demikian keputusan yang disampaikan oleh pihak otoritas Gereja juga didasari atas fakta dan penyelidikan terlebih dahulu.

Sebaliknya, klaim yang beredar di internet tentang kecondongan sikap Paus Banediktus XVI maupun Cardinal Ivan Diaz terhadap fenomena Julia Kim di Naju, dan mukjizat Ekaristi di Vatikan pada saat Julia Kim mengunjungi Vatikan di tahun 2010 yang lalu, merupakan ulasan dari pihak- pihak peliput, namun tidak secara resmi dikeluarkan oleh pihak Vatikan sendiri. (Jika Anda berhasil menemukan pernyataan tersebut langsung dari Vatikan, silakan memberitahu kami, agar kami dapat merevisi jawaban ini).

Maka, mari sebagai umat Katolik kita tunduk kepada keputusan Magisterium Gereja Katolik (yang dalam hal ini diwakili oleh keputusan dari pihak otoritas Gereja Katolik yaitu Keuskupan Agung Kwangju di Korea Selatan yang juga menjadi acuan bagi sikap Vatikan), sebab merekalah yang memang berhak menentukan apakah suatu wahyu pribadi yang terjadi di wilayahnya itu otentik -sungguh bersifat adikodrati dari Tuhan- atau tidak. Para pemimpin Gereja itulah yang dengan kompetensi khusus bertugas “untuk menguji segala sesuatu dan berpegang teguh kepada apa yang benar” (lih. 1 Tes 5:12; 19-21, sebagaimana dikutip dalam Lumen Gentium, 12). Selanjutnya, perlu kita ingat bahwa wahyu pribadi tidak menambah ataupun mengurangi perbendaharaan iman (deposit of faith) Kristiani (lih. KGK 67). Sebab seluruh wahyu telah dinyatakan oleh Kristus, dan peran wahyu pribadi (yang otentik) adalah membantu umat beriman untuk lebih menghayatinya hari demi hari; agar menghasilkan buah- buah Roh Kudus: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan pengendalian diri (Gal 5:22-23). Buah- buah Roh Kudus inilah yang menjadi tanda bukti akan iman yang sejati.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,


Sumber: http://katolisitas.org/7791/tentang-fenomena-julia-kim-naju

PENAMPAKAN BUNDA MARIA


Hasil googling hari ini 19/08/2013. Banyak bacaan yang membuat saya terkejut.
Jadi kita sebagai umat Katolik sebaiknya berhati-hati dalam menanggapi sebuah penampakan.

 Penampakan Bunda Maria yang Diakui Secara Resmi oleh Gereja Katolik

Penampakan yang telah diakui secara resmi oleh Takhta Suci Gereja Katolik :
  1. Guadalupe, Meksiko (1531): Penampakan kepada S. Juan Diego, seorang konverter bernama asli Cuauhtlatoatzin, ini diakui penuh oleh Uskup Agung Alonso de Montúfar pada 1555 – Pesta: 12 Desember – Bunda dari Guadalupe
  2. Quito, Ekuador (1594-1634)
  3. Siluva, Lithuania (1608-1612)
  4. Laus, Perancis (1664-1718): Penampakan kepada Benôite (Benedicta) Rencurel. Pengakuan resmi Vatikan pada 4 Mei 2008.
  5. Paris, Perancis (1830): Penampakan kepada S. Catherine Laboure, suster Puteri2 Kasih (Daughters of Charity), ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1836. Bunda Maria memberikan Medali Ajaib – Pesta: 28 November – Bunda dari Medali Ajaib. Catatan: Jenazah S. Catherine Laboure tidak hancur setelah 57 tahun dikuburkan.
  6. Roma, Italia (1842): Penampakan kepada Marie Alphonse Ratisbonne, seorang Yahudi yang pernah sangat membenci Iman Katolik, ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1842. Bunda Maria memberikan Medali Ajaib – Bunda Keajaiban.
  7. La Salette, Perancis (1846): Penampakan kepada dua anak kecil di desa La Salette ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1851. Bunda Maria memberikan pesan2 rahasia – Bunda dari La Salette.
  8. Lourdes, Perancis (1858): Penampakan kepada S. Bernadette Soubirous ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 18 Januari 1862 – Peringatan: 11 Februari – Bunda dari Lourdes. Catatan: Jenazah S. Bernadette Soubirous masih utuh hingga hari ini.
  9. Pontmain, Perancis (1871): Penampakan kepada sejumlah anak sekolah. Pengakuan resmi oleh Uskup Laval pada 2 Februari 1872 dan dipertegas oleh Paus Pius XI pada 1875 – Pesta: 17 Januari – Bunda dari Pontmain; Bunda Pengharapan.
  10. Gletrzwald, Polandia (1877): Penampakan ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1977 – Peringatan: 8 September – Bunda dari Gietrzwald.
  11. Knock, Irlandia (1879): Penampakan ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1936 – Bunda dari Knock.
  12. Castelpetroso, Italia (1888-1890)
  13. Fatima, Portugal (1917): Penampakan kepada tiga anak kecil di desa Fatima ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1930. Bunda Maria memberikan tiga pesan rahasia – Bunda dari Fatima.
  14. Beauraing, Belgia (1932-1933): Penampakan kepada 5 anak-anak ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 2 Juli 1949 – Pesta: 22 Agustus – Bunda dari Beauraing.
  15. Banneux, Belgia (1933): Penampakan kepada Mariette Beco ini diakui penuh oleh Tahta Suci pada 1949 – Pesta: 15 Januari – Bunda dari Banneux; Perawan Miskin.
  16. Kibeho, Rwanda (1981)
Catatan:
Penampakan di Beauraing dan di Banneux sering dianggap sebagai satu kesatuan yang berkelanjutan. Dengan demikian, hanya ada 15 kasus penampakan yang telah diakui oleh Gereja Universal.

Penampakan yang telah diakui secara resmi oleh Gereja lokal:
  1. Wisconsin, USA (1859): Penampakan kepada Adele Brise. Pengakuan resmi keuskupan lokal pada 8 Desember 2010.
Penampakan yang belum diakui:
  1. Medjugorje, Bosnia-Herzegovina (dulu, Yugoslavia)
  2. Garabandal
Penampakan yang ditolak:
  1. Naju, Korea (1985): Penampakan kepada Julia Kim.
  2. Centeno, Argentina (2010): Penampakan kepada seorang wanita berusia 32 tahun. Ditolak keotentikannya pada 15 April 2011.

Sumber: http://www.marypages.com/

31 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (5)


MISTERI KOTA REINHA (5)


Hari ini Senin (25/7) saya berencana pergi membeli tiket bus ke Kupang. Saya masih singgah di rumahnya tanta di sudut jalan. Tanta bilang, “Kami juga mau ke Kupang hari Selasa (26/7) malam. Nanti saya pesankan tiket juga buat kamu. Begitulah kata tanta pada saya. Okelah kalau begitu, saya tak perlu capek-capek ke agen bus.

Tapi hati ini gelisahnya minta ampun. Siapakah yang telah mengambil sirih-pinang yang saya bawa dari Konga? Tak ada satupun yang mengambilnya. Aneh. Hati gelisah sehari penuh.

Esoknya, kurang lebih jam sembilan bersama ojek saya pergi ke rumahnya tanta Lusia Diaz. Sesampainya di sana ada juga om (adik dari tanta Lusia Diaz) duduk bersama tanta di kamar tamu. Saya cerita tentang sirih-pinang yang hilang. Om bilang, “Saya kenal dengan orang yang bisa bantu kamu”. Saya menjawab, “Kalau begitu tunggu sebentar, saya pergi mengambil motor”. Saya pulang ke rumah dan meminta motor yang dipakai adik saya ke rumah sakit.

Tapi anehnya, saat ke rumahnya tanta, saya mengikuti jalan yang lainnya. Bukan jalan yang pagi tadi saya lalui bersama ojek. Kalau jalur yang satu ini, saya harus melalui depan rumahnya om yang selalu mengantar “Bapa tua” yang dikasihi Tuhan. Tepat di depan rumahnya om, saya singgah sebentar. Setelah bercerita pada om tentang sirih-pinang, om bilang nanti saya telpon “Bapa tua”. Kau tunggu sebentar. Om meminta adik sepupu saya untuk menelpon “Bapa tua”. “Bapa tua” mengiyakan. Beliau akan datang. Tunggu disitu. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saya makan disitu. Selesai makan, om bilang, “Lebih baik kamu ke rumahnya tanta Lusia Diaz. Karena saya lagi kerja ini. Nanti kamu duduk sendirian saja”. Saya juga mengiyakan saja. Segera saya menuju ke rumahnya tanta.

MISTERI KOTA REINHA (4)


MISTERI KOTA REINHA (4)


Saya lanjut lagi sambungan MKR yang ketiga.

Isi SMS memberitau bahwa bapak saya sudah koma. Dan hendak di bawa ke rumah sakit. Saya membalas SMS ipar dan memberitau bahwa saya akan turun di pelabuhan Kota Reinha. Ada juga om yang menelpon dari Atambua dan memberitau hal yang sama. Setelah tiba di pelabuhan Kota Reinha, saya dan Cici turun dari Sirimau dengan berdesak-desakan bersama penumpang yang akan menuju ke Makassar.
Tiket yang saya beli adalah tujuan Makassar tapi Tuhan berkehendak lain. Di pelabuhan sudah ada tanta dari Pante Besar yang menunggu untuk menjemput kami berdua.


22 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (3)


MISTERI KOTA REINHA (3)

Hari ini 17-an di Lembang (Lembang=Desa) kami. Tulisan ke-2 saya perbaiki sana-sini. Sebenarnya saya juga mau ke Kantor Lembang Kapala Pitu untuk mengikuti perayaan 17 Agustus di sana. Tapi dingin sekali pagi ini. Hati ini enggan beranjak dari depan Compaq Presario ini. Saatnya menyeterika dehh…. hehehe
Selesai seterika pakaian dinas untuk esok, saya langsung melanjutkan cerita ini. Jangan bosan dengan kata-kata saya yaaa… maklumlah, saya bukan ahli Bahasa Indonesia hehehe…
Seisi rumah sudah berangkat ke lapangan upacara 17-an. Tinggal saya seorang diri di depan notebook ini. Sendiri lagi dehh…

Jari-jariku mulai menari-nari lagi di atas keyboard diiringi lagu rohani “BAHASA CINTA” yang di nyanyikan Emilia Contessa.
Pada kesempatan ini juga saya mengucapkan terima kasih buat ayahanda tercinta dan om Bonnie Fernandez sekeluarga di LasianaKupang. Karena beliau berdua inilah jari-jariku bisa menari dengan lincahnya di atas tuts keyboard computer. Juga ucapan terima kasih buat Centrum Mahasiswa di Wali Kota --- Kupang. Masih adakah Centrum Mahasiswa (milik Keuskupan Agung Kupang ) di Wali Kota? Atas jasa-jasa mereka inilah saya bisa mendapat pekerjaan hingga saat ini. Terima kasih juga buat instruktur-instruktur di Centrum Mahasiswa (ketiga instruktur itu berasal dari Kota Reinha). Saya jadi teringat dengan seorang teman cewe saat itu yang selalu pulang bersama saya setiap hari. Cuma dia sendiri yang menjadi pesaing saya saat itu. Cewe itu tamatan SMEA. Tapi jari-jarinya juga begitu lincahnya bermain-main di atas tuts keyboard. Saya lupa namanya. Jika kamu membaca ini kawanku, tersenyumlah karena saya masih ingat dirimu (ngelantur.com) hahaha….

Lanjut ahh….
Beberapa hari kemudian… Saya berkeliling kota Atambua menggunakan motor Yupiter Z milik ipar saya yang tinggal di perumahan Rai Belu. Tiba di Tenubot, saya menyempatkan diri mampir ke rumahnya om Jack K. Di sini saya mendapat informasi tentang seorang Pastor yang bisa menyembuhkan orang sakit karena black magic.

17 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (2)


Sore ini (16/8)… tulisan ini saya lanjutkan lagi. Banyak juga yang mengusulkan agar tidak menuliskan cerita tentang black magic. Tapi apa boleh buat… perjalanan saya selama 6 (enam) minggu di NTT berkaitan dengan “KEKUATAN JAHAT” melawan “KEBAIKAN”.

Selamat membaca…


Nenek Yang Marah
Lalu nenek berkata lagi buat tanta Meri.
“Kamu Meri, kamu buat seekor kuda yang biasa saya tunggangi.” (Maksudnya patung atau gambar di makam nanti jika telah selesai direhab.)

Tapi tanta Meri menjawab, “Nenek, saya tidak punya uang.”

Nenek menjawab, “Meri, saya tau kamu punya uang. Coba ambil tas yang kamu gantung di pohon itu. Sebenarnya saya marah karena kamu gantung tas di pohon yang saya pakai untuk ikat kuda saya.”

Tanta Meri kaget. Dalam hatinya dia berkata, darimana nenek tau kalau di dalam tas saya itu ada uang? Segera saja tas itu diambil. Dan…. ternyata di dalam tas tanta Meri ada uang lima puluh ribu rupiah hehehe….

08 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (1)

MISTERI KOTA REINHA (1)

Sebenarnya saya sendiri enggan untuk menceritakan kembali kejadian yang saya alami selama 6 (enam) minggu di tempat kelahiranku dan kampung halaman nenek moyangku. Tapi misteri itu selalu menghantui setiap tidur malamku sejak masih di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan juga saat sudah tiba di tempat saya berdomisili sekarang ini, Toraja. (sebelum cerita ini saya ketik). Cerita ini akan saya update jika saya ingat lagi cerita ini... Cerita ini saya tempatkan di Label Mistery.

Okelah… saya segera saja memulai cerita ini. Selamat membaca…
Beberapa nama orang sengaja tidak saya sebutkan, tapi ada juga yang harus saya sebutkan nama aslinya.

Berita Mengejutkan
Sore itu, saya mendapat kabar mengejutkan dari Atambua (tempat kelahiran saya. Kabupaten yang bertetangga dengan Timor Leste)---tanggalnya saya lupa---bahwa bapak saya sudah terima ‘Minyak Suci’ (dalam agama Katolik, jika seseorang telah menerima Minyak Suci berarti orang tersebut sudah mendekati ajalnya) gara-gara penyakit yang di deritanya (Kanker hati dan gagal ginjal sebelah). Tak ada harapan kata dokter. Cobalah dengan pengobatan alternatif. Begitulah berita yang saya terima sore itu.
Segera saja saya langsung mengecek jadwal pesawat ke Kupang. Ternyata pesawat pada hari Minggu (19/6) sampai dengan hari Selasa sudah penuh lowongannya hehehe…, untuk hari Rabu (22/6) masih kosong 4 kursi. Saya pun membeli tiket pesawat Merpati untuk hari Rabu. Hari Selasa (21/6) malam saya dan si kecil ‘Cici’ dan mas Darmo Timotius berangkat dari Toraja ke Makassar dengan bus malam.
Kami tiba di Makassar dengan selamat. Kami bertiga turun di rumahnya saudara dari mas Darmo Timotius (nama tempatnya saya lupa). Selesai makan-minum pagi, mas Darmo T. segera berangkat ke pelabuhan untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal laut ke Ngada (Flores). Siangnya, saya bersama Cici segera ke bandara Hasanudin dengan menumpang taksi. Tapi sayangnya…pesawat cancel keberangkatan ke Kupang pada hari itu. Kamipun diantar ke hotel dengan tanggungan dari Merpati. Hhmmm… mungkin pilot dan pramugari ingin nginap di Makassar bukan di Kupang hehehe…
Nginap di hotel gara-gara pesawat batal keberangkatan ke Kupang.