Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts
19 January 2014
14 January 2014
BERSYUKURLAH ATAS KARUNIA HIDUP ANDA
“Sebaiknya koin in dibawa ke kolektor uang kuno”, kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dollar.
Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dollar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
05 December 2013
APAKAH UMAT KATOLIK BOLEH MERAYAKAN NATAL SEBELUM 25 DESEMBER?
Sebenarnya, dari pemahaman makna Adven, kita, umat Katolik, tidak dianjurkan untuk merayakan Natal sebelum hari Natal. Sebab justru karena kita menghargai hari Natal sebagai hari yang sangat istimewa, maka kita perlu mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Persiapan ini kita lakukan dengan masa pertobatan selama 4 minggu, yaitu mengosongkan diri kita dari segala dosa yang menghalangi kita menyambut Sang Juru Selamat; agar pada hari kelahiran-Nya, kita dapat mengalami lahir-Nya Kristus secara baru di dalam hati kita. Dengan demikian, kalau kita ingin merayakan Natal bersama keluarga, mari kita rayakan setelah Malam Natal, setelah hari Natal, selama dalam 8 hari (Oktaf Natal). Gereja Katolik memang merayakan Natal sejak Malam Natal sampai hari Epifani (Minggu Pertama setelah Oktaf Natal) dan bahkan gereja-gereja memasang dekorasi Natal sampai perayaan Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis (hari Minggu setelah tanggal 6 Januari).
03 December 2013
JUAL MILIKMU BUKAN DIRI DAN IMANMU
Mutiara Bulan Desember 4, 2013:
JUAL MILIKMU BUKAN DIRI DAN IMANMU
Pengakuan Uskup Agung KONRAD KRAJEWSKI,
ketua karya amal Vatikan, sebagai karya amal atas nama Paus (Sekarang Paus Fransiskus);
“Bapa Suci mengatakan kepada saya di awal: "Anda dapat menjual meja Anda. Anda tidak membutuhkannya. Anda perlu keluar dari Vatikan. Jangan menunggu orang datang. Anda perlu keluar dan mencari orang-orang miskin,” kata Prelatus itu.
Pengakuan Uskup Agung KONRAD KRAJEWSKI,
ketua karya amal Vatikan, sebagai karya amal atas nama Paus (Sekarang Paus Fransiskus);
“Bapa Suci mengatakan kepada saya di awal: "Anda dapat menjual meja Anda. Anda tidak membutuhkannya. Anda perlu keluar dari Vatikan. Jangan menunggu orang datang. Anda perlu keluar dan mencari orang-orang miskin,” kata Prelatus itu.
01 December 2013
Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya
Lingkaran Adven: Lambang dan Maknanya
oleh: P. Francis J. Peffley
Pada Masa Adven, banyak keluarga memasang Lingkaran Adven di rumah
mereka. Selain hiasan-hiasannya yang tampak semarak serta membangkitkan
semangat, ada banyak sekali lambang yang terkandung di dalamnya, yang
belum diketahui banyak orang.
Pertama, karangan tersebut selalu
berbentuk lingkaran. Karena lingkaran tidak mempunyai awal dan tidak
mempunyai akhir, maka lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa
awal dan akhir.
28 November 2013
MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?
MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?
MANA AYATNYA DALAM KITAB SUCI?
PENDAHULUAN
Berbicara mengenai Api Penyucian, erat hubungannya dengan praktek
mendoakan orang yang sudah meninggal. Sebagai orang Katolik, kita
menghormati jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal dan dengan tekun
mendoakan serta mempersembahkan intensi Misa bagi mereka.
Namun
mungkin kita beberapa kali menghadapi tantangan dari orang non-Katolik
mengenai praktek ini. Mengapa kita mendoakan orang yang sudah meninggal?
Bukankah orang yang sudah meninggal itu sudah tidak punya hubungan lagi
dengan kita di bumi? Memangnya doa-doa dan silih kita bisa membantu
mereka masuk Surga?
08 November 2013
25 October 2013
21 October 2013
PRASANGKA
Mengeneai
PRASANGKA orang2 itu, ibu Teresa dari kota Kalkuta memberikan nasehat berikut
kepada kita:
> Orang sering berlaku tidak masuk akal, irasional, dan egois. -
--- Maafkan sajalah mereka.
> Pada saat kamu berbuat baik, akan ada kemungkinan kamu justru dituduh egois, menyimpan motif tersembunyi.
--- Akan tetapi tetaplah lakukan perbuatan baikmu itu.
> Pada ketika saat kamu sedang meraih sukses dan keberhasilan, Ketika itu pula akan kamu menangkan beberapa teman setia dan beberapa musuhmu yang sesungguhnya.
---Teruskanlah suksesmu.
> Orang sering berlaku tidak masuk akal, irasional, dan egois. -
--- Maafkan sajalah mereka.
> Pada saat kamu berbuat baik, akan ada kemungkinan kamu justru dituduh egois, menyimpan motif tersembunyi.
--- Akan tetapi tetaplah lakukan perbuatan baikmu itu.
> Pada ketika saat kamu sedang meraih sukses dan keberhasilan, Ketika itu pula akan kamu menangkan beberapa teman setia dan beberapa musuhmu yang sesungguhnya.
---Teruskanlah suksesmu.
11 October 2013
KIAT SUKSES DALAM PEKERJAAN
Sekurangnya ada Sepuluh Kiat Sukses Dalam Pekerjaan.
+++
Pertama: Awalilah setiap hari dengan berdoa bagi pekerjaanmu. Dengan
begitu, engkau akan menemukan gagasan-gagasan yang terbaik.
Ke-dua: katakan kepada dirimu bahwa engkau menyukai pekerjaanmu. Maka
pekerjaan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan, bukan sesuatu yang
menjemukan. Mungkin engkautidak perlu mengubah pekerjaanmu. UBAHLAH
DIRIMU, maka pekerjaanmu akan tampak berbeda.
Ke-tiga:
RENCANAKANLAH Pekerjaanmu -- Kerjakanlah rencanamu. Ketiadaan sistem
menghasilkan perasaan, "Saya tertimbun pekerjaan."
09 October 2013
DI ATAS KERIKIL
Saya teringat kembali pada kejadian sore itu di rumahnya teman saat saya berkunjung ke sana.
Pulang kerja seperti hari-hari biasanya. Tiba di rumah, merpati kecilku sudah menyiapkan makan siang buatku. Selesai makan, merpati minta izin untuk bermain Counter Strike di laptop. Tepat jam 15.00 kami berdua melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan oleh orang Katolik. "KERAHIMAN ILAHI". Setelah selesai, merpatiku minta izin untuk ikut acara ulang tahun saudaranya. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Saya sendiri ke Rantepao untuk membeli obat dan vitamin. Tapi saya masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah teman. Di rumah teman, kami bercerita tentang beberapa hal. Ada beberapa anak kecil bermain di situ. Kami membicarakan tentang sakit yang dialami oleh teman ini. Dia sakit pada bagian punggung belakang sebelah kanan. Sudah ke dokter penyakit dalam. Kata dokter dia kekurangan oil (Saya juga tidak tau oil yang dimaksudkan oleh dokter itu. Dalam hati saya berkata, kenapa tidak minta saja oil dari istrimu ya??? hahahaha).
25 September 2013
SURAT PAUS FRANSISKUS
Tulisan ini saya cp dari http://www.facebook.com/gerejakatolik?fref=ts
Sapaan Sahabat untuk Sahabat:
Derita memang menyengsarakan, tapi derita yang kita alami menawarkan dua cara; "Entahkah semakin menjauh dari Tuhan atau semakin berpaut pada-Nya."
Kuteringat ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan Anna Romana, wanita yang tidak mau melakukan aborsi tapi ingin melahirkan secara normal dan ingin agar anaknya dibaptis di dalam Gereja Katolik.
"Kudengar Suara-Nya Menyapaku:
"JANGAN TAKUT, ANAK-KU...ENGKAU TIDAK SENDIRIAN!"
Inilah kisah dan surat dari Anna Romana kepada Paus Fransiskus:
Sementara mengendarai mobil dalam liburanku, kudengar handphoneku berdering. Sebuah nomor misterius terlihat di layar handphoneku. Dan, sungguh menjadi sesuatu yang membuat jantungku berdetak kencang bahwa suara yang menyapaku dari seberang sana adalah sosok yang paling dihormati di dalam Gereja Katolik. Dialah Paus Fransiskus.
Sapaan Sahabat untuk Sahabat:
Derita memang menyengsarakan, tapi derita yang kita alami menawarkan dua cara; "Entahkah semakin menjauh dari Tuhan atau semakin berpaut pada-Nya."
Kuteringat ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan Anna Romana, wanita yang tidak mau melakukan aborsi tapi ingin melahirkan secara normal dan ingin agar anaknya dibaptis di dalam Gereja Katolik.
"Kudengar Suara-Nya Menyapaku:
"JANGAN TAKUT, ANAK-KU...ENGKAU TIDAK SENDIRIAN!"
Inilah kisah dan surat dari Anna Romana kepada Paus Fransiskus:
Sementara mengendarai mobil dalam liburanku, kudengar handphoneku berdering. Sebuah nomor misterius terlihat di layar handphoneku. Dan, sungguh menjadi sesuatu yang membuat jantungku berdetak kencang bahwa suara yang menyapaku dari seberang sana adalah sosok yang paling dihormati di dalam Gereja Katolik. Dialah Paus Fransiskus.
24 September 2013
BUNDA PENOLONG ABADI
Tulisa ini saya cp dari http://www.facebook.com/gerejakatolik
"Terhadap
musuh siapa pun mereka diajarkan untuk tidak pantang menyerah. Akan
tetapi, malam ini....sekali lagi kukatakan bahwa malam ini....Anda
melihat bagaimana mereka merunduk merendah di hadapan Sang Bunda
Penolong Abadi mereka. Ya, Bunda Maria."
30 August 2013
PASSION JESUS CHRIST
Passio Yesus Kristus
oleh: P. William P. Saunders *
Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “Passio” Yesus Kristus?
~ seorang pembaca di Arlington
Passio
berasal dari bahasa Latin “patior” yang artinya “sengsara”. Passio
Yesus Kristus menunjuk pada sengsara yang diderita Kristus demi menebus
umat manusia, berawal dari sakrat maut di Taman Getsemani hingga
wafat-Nya di Kalvari. Kisah-kisah Sengsara dalam Injil menceritakan
detail sengsara Kristus, dan setidaknya sampai batas tertentu,
kisah-kisah tersebut sesuai dengan tulisan para ahli sejarah Romawi masa
itu - Tacitus, Seutonius dan Pliny Muda. Penemuan-penemuan arkeologi
yang dipadukan dengan penelitian-penelitian menggunakan ilmu kedokteran
modern menghasilkan gambaran yang akurat akan apa yang diderita Kristus.
Dalam abad di mana salib biasa digambarkan dengan Yesus “yang telah
bangkit” dan “sengsara” serta “korban” telah menjadi istilah-istilah
yang tidak disukai, hendaknya kita tidak kehilangan pandangan akan
kenyataan passio.
29 August 2013
SALIB : Hukuman Mati yang Ngeri dan Keji
Hukuman Mati yang Ngeri dan Keji
oleh: P. Kamilus Ndona Sopi, CP.
Konon,
hukum Yahudi menentukan bahwa para pemuja berhala, penghojat dan
pemberontak dirajam dengan batu dan digantung pada sebuah tiang. Mereka
dibiarkan mati secara mengerikan karena dipandang sebagai yang terkutuk
oleh Allah. Dan agar tidak menajiskan, maka mayatnya segera dikuburkan
(Ul 21:23). "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" (Gal
3:13).
James Caviezel “The Passion of the Christ”
Wawancara:
Sebelum memainkan peran Yesus, pernahkah orang mengatakan bahwa kamu mirip Yesus?
Tidak
pernah. Waktu aku lebih muda, seseorang mengatakan bahwa aku mirip Mel
Gibson. Ketika aku mengatakannya kepada Mel, ia menjawab sambil tertawa,
“Tidak, aku jauh lebih cakep.”
Bagaimana kamu mendapatkan peran ini?
Dalam
suatu pertemuan makan siang di Malibu, Mel bertanya, “Tahukah kamu
bagaimana sesungguhnya Yesus wafat?” Aku mengerti maksudnya dan
bertanya, “Kamu ingin aku memerankan Yesus?” Mel menatapku dan menjawab,
“Ya.”
Aku
merasa takut sekaligus gembira. Aku mengatakan ya kepada seseorang yang
akan menjadikan kisah Injil hidup. Kemudian Mel mengatakan bahwa ia
akan membuatnya dalam bahasa yang sudah mati: Aram, Ibrani kuno dan
Latin.
Keesokan
harinya Mel menelepon dan bertanya, “Apakah kamu sungguh mau berperan
dalam film ini? Jika aku adalah kamu, aku tidak akan mau menerimanya.”
Sepertinya ia hendak mengujiku, sebab peran ini dapat berarti tamatnya
karirku. Aku menjawab bahwa setiap kita harus memikul salib kita
masing-masing - baiklah kita mengambil dan memikulnya, jika tidak, kita
akan jatuh tertimpa olehnya.
Mel
mengatakan bahwa akan banyak yang menentang dan ia bertanya apakah aku
siap. Aku mengatakan bahwa aku telah mempersiapkannya sepanjang hidupku.
Dan memang demikian.
The Passion of the Christ "Dalam Terang Passio"
PENGANTAR
Aku
merasa beruntung dapat menyaksikan film “The Passion of the Christ”
dengan dipandu oleh Romo Gabriel Antonelli, CP dalam Retret Sengsara
Yesus yang diadakan pada tanggal 20 - 22 Maret 2004 di Biara Passionis,
Bandulan - Malang. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam
bagiku pribadi. Penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh Rm Gabriel
sebelum, selama maupun sesudah pemutaran film, sungguh membantuku dalam
menikmati dan berusaha menangkap pesan yang hendak disampaikan lewat
film karya Mel Gibson ini. Dengan segala kekurangan yang ada, aku
berusaha membagikan pengalaman berharga tersebut, dengan harapan
sebanyak mungkin orang dapat pula menikmati “The Passion of the Christ”
dalam terang yang benar dan dengan demikian dibangkitkan serta
dikobarkan dalam semangat cinta kepada Dia yang begitu mengasihi kita.
The Passion of the Christ
The Passion of the Christ, yang disutradarai oleh Mel Gibson, menggambarkan 12 jam terakhir hidup Yesus Kristus.
Mel
Gibson memasukkan iman Katoliknya yang kuat ke dalam film ini, demikian
juga James Caviezel, pemeran Yesus. Gibson mengejar kebenaran dalam
menyajikan kisah The Passion dengan berkonsultasi dengan para teolog
tingkat tinggi dan pejabat-pejabat gereja di Vatikan.
Di samping Injil dalam Perjanjian Baru tulisan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes, Mel Gibson dan Ben Fitzgerald menulis naskahnya dari beberapa sumber lain, termasuk “The City of God”, tulisan Venerabilis Maria dari Agreda (1602-1665, mistikus dan visioner) dan secara bebas menyadur catatan harian Beata Anna Katharina Emmerick (1774-1824, mistikus, stigmatis, visioner, dan nabi) dalam “The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ” (Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus).
Seorang ahli bahasa Yesuit di Los Angeles, Profesor Bill Fulco, imam Yesuit yang juga bertindak sebagai pelatih dialog selama pengambilan gambar, menterjemahkan naskah film ke dalam bahasa Latin dan bahasa Aram.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
24 February 2013
PRA PASKAH...
Masa Prapaskah merupakan suatu tradisi dalam Gereja Katolik untuk mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Paskah. Apakah Masa Prapaskah ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri? Jawabannya adalah tentu tidak. Namun demikian, sebagai umat Katolik kita mengimani bahwa Gereja Katolik yang dilembagakan oleh Kristus sendiri, berhak untuk menetapkan segala sesuatu yang bertujuan untuk membangun iman umatnya. Gereja Katolik bagaikan ibu kita yang menyediakan segala fasilitas yang diperlukan bagi anaknya untuk menjalani hidup yang utuh dan bahagia.
Masa Prapaskah berawal dari (t)radisi mempersiapkan katekumen (calon baptis) yang hendak menerima Sakramen Baptis pada Malam Paskah. Pada zaman dahulu, penerimaan Sakramen Baptis hanya dilangsungkan pada Malam Paskah, mengingat hubungan yang erat antara sakramen ini dengan Paskah Kristus. Orang yang menerima Sakramen Baptis, dikuburkan bersama Kristus dan bangkit kembali untuk menerima hidup baru. Seiring berjalannya waktu, periode persiapan bagi katekumen ini berkembang menjadi suatu periode mati raga/mortifikasi (penyangkalan diri) selama 40 hari yang di dalamnya termasuk Tri Hari Suci. Perlu dijernihkan di sini bahwa "Tri Hari Suci berlangsung mulai Misa Perjamuan Tuhan sampai Ibadat Sore Minggu Paskah" (DIREKTORIUM TENTANG KESALEHAN UMAT DAN LITURGI No.140). Ibadat Sore yang dimaksud di sini adalah Ibadat Harian dari buku Brevir. Jadi, Tri Hari Suci terdiri dari Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Adapun Misa Malam Paskah sudah tidak termasuk ke dalam Masa Prapaskah, melainkan peralihan ke Hari Raya Paskah. Namun demikian, umat yang menghadiri Misa Malam Paskah sudah memenuhi kewajiban menghadiri Misa Hari Raya (Minggu) Paskah, walaupun tetap dianjurkan untuk menghadiri Misa Hari Raya (Minggu) Paskah.
Pantang dan puasa di luar hari Rabu Abu dan Jumat Agung dapat kita lakukan setiap hari selama Masa Prapaskah, KECUALI pada hari Minggu (karena kita SELALU merayakan hari Minggu sebagai HARI RAYA dan pangkal segala pesta, walaupun hari-hari Minggu Prapaskah tetap bernuansa pertobatan). Mengapa Masa Prapaskah terdiri dari periode 40 hari? Angka “40” dalam Kitab Suci muncul dalam berbagai peristiwa. Musa berada di Gunung Sinai selama 40 hari 40 malam, Elia melakukan menempuh perjalanan ke Gunung Horeb selama 40 hari 40 malam, dan Yesus sendiri berpuasa 40 hari 40 malam. Inti dari semua peristiwa itu sama. Ada suatu “perjalanan rohani” dalam periode tersebut. Hal ini tepat sejalan dengan dokumen gerejawi LITTERÆ CIRCULARES DE FESTIS PASCHALIBUS PRÆPARANDIS ET CELEBRANDIS atau PERAYAAN PASKAH dan PERSIAPANNYA (PPP) No. 6 dikatakan bahwa “Masa Prapaskah tahunan adalah masa rahmat, karena kita mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah”. Maka dari itu, Masa Prapaskah tepat sekali kita manfaatkan untuk “menjadi manusia yang lebih baik”.
Dalam sejarah Gereja, banyak umat, baik secara individu maupun kelompok, melakukan upaya-upaya mati raga secara lahiriah. Seperti mencambuki diri sendiri dengan cambuk kecil, melakukan puasa yang ekstrim, memakai pakaian dari karung goni, dan sebagainya. Semua upaya mati raga ini dilakukan sebagai bentuk pertobatan. Saat ini, praktik-praktik mati raga semacam itu sudah tidak lazim dilakukan dalam Gereja (walaupun Gereja tidak melarang secara eksplisit, karena bagaimanapun bentuk-bentuk mati raga itu merupakan suatu devosional, sesuatu yang bersifat pribadi). Kini, mati raga kita bukan lagi “mencari penderitaan”, karena penderitaan selalu ada dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana kita menjalani mati raga dalam Masa Prapaskah ini? Berikut tips-tips yang mungkin bisa diterapkan.
1. Pertama sekali, kita harus menyadari kehidupan rohani kita. Apakah kehidupan kita lebih baik dari tahun lalu atau malah lebih buruk? Apapun itu, kita bertekad untuk menjadi lebih baik melalui sarana Masa Prapaskah yang ditetapkan oleh Gereja.
2. Apakah dosa yang kita sering akui dalam Sakramen Tobat? (atau bahkan malah jangan-jangan kita sudah lama sekali tidak menerima Sakramen Tobat?) Dosa yang sering kita akui menunjukkan bagian mana dalam diri kita yang masih harus diperbaiki.
3. Tidak membuat komitmen mati raga yang “wah”. Buatlah komitmen yang sederhana tapi “berdaya guna”. Gereja Katolik mewajibkan PANTANG BERIKUT PUASA HANYA PADA hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Namun demikian, adalah baik bila kita tetap melakukannya pada hari-hari lain juga selama Masa Prapaskah. PUASA berarti makan kenyang sekali sehari pada satu jam makan. Pada jam makan lain kita mengurangi porsi makan kita sambil mengingat orang-orang yang berkekurangan. PANTANG berarti tidak melakukan yang kita sukai DENGAN DILANDASI MOTIVASI ROHANI, dengan kata lain sebagai KORBAN ROHANI. Seseorang yang karena satu dan lain hal harus mengurangi konsumsi gula karena diabetes, misalnya, tidak bisa berkata “Saya pantang gula” (karena memang pada dasarnya orang itu harus mengurangi gula demi kesehatan). Orang seperti ini sebaiknya mencari bentuk pantang lain. Lain halnya apabila seseorang “kecanduan” mengonsumsi gula, maka pantang gula bisa dilakukan, demi mengurangi “kelekatan” terhadap konsumsi gula. Demikian juga mereka yang sudah terbiasa menjadi vegetarian, tidak bisa berkata "saya pantang daging" pada Masa Prapaskah, namun ia bisa melakukan pantang yang lain.
4. Bentuk pantang tidak terikat, melainkan kita mencari sendiri bentuk-bentuk yang memupuk pertobatan batin. Berikut usulan pantang/komitmen sederhana yang dapat dilakukan sebagai bentuk mati raga :
a. mengurangi segala bentuk “kelekatan” (atau “kecanduan”, misalnya dalam hal merokok, konsumsi makanan tertentu, main games, media sosial internet ) dan menggantinya dengan kegiatan postif seperti menghadiri Misa harian, membaca dan merenungkan Kitab Suci, berdoa rosario, dan sebagainya
b. pantang mengawali dan mengakhiri hari tanpa doa (dengan kata lain, berkomitmen untuk berdoa setiap hari).
c. pantang datang terlambat menghadiri Misa (dengan kata lain, berkomitmen untuk datang lebih awal untuk berdoa Rosario sebelum Misa misalnya).
d. pantang mengeluh (ketika kesulitan datang tidak mengeluh melainkan mempersembahkan kesulitan itu “demi Yesus dan bagi keselamatan jiwa-jiwa”)
e. pantang menghamburkan uang dengan berkomitmen menyisihkan uang jajan atau biaya transport yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan (misalnya jika ke tempat kerja sebenarnya bisa menggunakan kendaraan umum, maka tidak perlu naik taksi), untuk diserahkan ke Gereja sebagai Aksi Puasa.
f. pantang cemberut (berkomitmen untuk tersenyum SEKALIPUN kita disakiti).
g. pantang menggunakan tas plastik ketika belanja (berkomitmen "think globally, act locally")
Apabila mati raga yang kita lakukan selama Masa Prapaskah kemudian terus berlanjut menjadi kebiasaan baik setelah Masa Prapaskah selesai, maka diharapkan kita menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
Akhir kata, segala perbuatan baik kita sebenarnya tidak membenarkan diri kita di hadapan Allah. Bapa hanya menerima perbuatan baik kita hanya kerena Kristus. Maka, jangan lupa untuk mempersembahkan segala mati raga (baca: korban rohani) kita kepada Bapa dengan menyatukannya dalam Korban Kristus dalam Ekaristi, misalnya dengan berdoa singkat atau berkata dalam hati, “Bapa, terimalah korban rohaniku yang kupersatukan dengan Kurban Kristus di altar.”
Semoga berguna. Mari kita bersama-sama berjuang hingga Hari Raya Paskah yang cerah!
Subscribe to:
Posts (Atom)











