Social Icons

29 August 2013

James Caviezel “The Passion of the Christ”



Wawancara:





   Mendapatkan Peran
Sebelum memainkan peran Yesus, pernahkah orang mengatakan bahwa kamu mirip Yesus?

Tidak pernah. Waktu aku lebih muda, seseorang mengatakan bahwa aku mirip Mel Gibson. Ketika aku mengatakannya kepada Mel, ia menjawab sambil tertawa, “Tidak, aku jauh lebih cakep.”

Bagaimana kamu mendapatkan peran ini?

Dalam suatu pertemuan makan siang di Malibu, Mel bertanya, “Tahukah kamu bagaimana sesungguhnya Yesus wafat?” Aku mengerti maksudnya dan bertanya, “Kamu ingin aku memerankan Yesus?” Mel menatapku dan menjawab, “Ya.”

Aku merasa takut sekaligus gembira. Aku mengatakan ya kepada seseorang yang akan menjadikan kisah Injil hidup. Kemudian Mel mengatakan bahwa ia akan membuatnya dalam bahasa yang sudah mati: Aram, Ibrani kuno dan Latin.

Keesokan harinya Mel menelepon dan bertanya, “Apakah kamu sungguh mau berperan dalam film ini? Jika aku adalah kamu, aku tidak akan mau menerimanya.” Sepertinya ia hendak mengujiku, sebab peran ini dapat berarti tamatnya karirku. Aku menjawab bahwa setiap kita harus memikul salib kita masing-masing - baiklah kita mengambil dan memikulnya, jika tidak, kita akan jatuh tertimpa olehnya.

Mel mengatakan bahwa akan banyak yang menentang dan ia bertanya apakah aku siap. Aku mengatakan bahwa aku telah mempersiapkannya sepanjang hidupku. Dan memang demikian.



James Caviezel dilahirkan di Washington pada tahun 1968 sebagai seorang dari empat bersaudara dalam keluarga Katolik yang taat. Ia bercita-cita menjadi seorang pemain basket NBA. Tetapi, harapannya itu hancur ketika ia mengalami cedera kaki semasa kuliah.

Aku hanya ingin menjadi seorang pemain bola basket profesional, tetapi aku merasa Tuhan merencanakan yang lain. Ayahku mengatakan, “Jika Tuhan memanggilmu untuk melakukan sesuatu, tidakkah kau pikir Ia memanggilmu untuk menjadi seorang imam?” dan aku pikir benar. Tetapi kemudian, datang tawaran-tawaran untuk berperan, dan aku tahu, aku mulai menyadari bahwa Tuhan yang memberikannya kepadaku. Aku percaya bahwa Ia menghendaki aku memerankan Yesus. Ia mempersiapkanku untuk ini sejak lama, dengan memberiku peran-peran lain yang aku mainkan sebelumnya.”

Apakah Mel menceritakan mengapa ia ingin membuat film ini?

Mel mengatakan bahwa ia mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya dan ia kembali kepada Injil sekitar 12 tahun yang lalu. Ia mulai melakukan meditasi sengsara dan wafat Yesus. Dengan meditasi itu, Mel mengatakan bahwa luka-luka Kristus menyembuhkan luka-lukanya. Dan aku pikir hal itu tampak nyata dalam film.

Persiapan Caviezel bukan hanya belajar bahasa Aram kuno, melainkan juga doa - sebelum, selama dan sesudah pembuatan film.

Doa, doa, dan doa. Mel dan aku hanyalah pekerja-pekerja Tuhan dan hanya itulah yang terus-menerus kami minta. Karena itulah kami memusatkan diri setiap hari pada Perayaan Misa dan menerima Ekaristi Kudus. Tak sehari pun terlewatkan selama masa pembuatan film itu di mana aku tidak menerima Komuni. Aku berusaha menjadi seorang Katolik yang terbaik. Aku kembali pada kebenaran: apa yang Tuhan kehendaki aku lakukan? Selalu kembali pada: apa yang Tuhan kehendaki?


   Saat-saat Pengambilan Gambar

Tantangan terberat apa yang harus kamu hadapi selama pembuatan film?

Dulunya aku pikir belajar bahasa-bahasa kuno akan menjadi tantangan terberat. Tetapi, ternyata penderitaan fisik jauh lebih berat.

Sejak dari awal, pembuatan film ini merupakan siksaan bagiku dalam segala bentuk. Aku diludahi dan dipukuli. Aku memanggul salibku selama berhari-hari, lagi dan lagi menyusuri jalan-jalan yang sama; tulang bahuku sempat terlepas karena beban salib yang berat.  

Aku tidur empat jam sehari. Pukul 2 pagi aku harus mulai di makeup; aku tak dapat duduk, karena makeup akan lengket di tubuhku. Delapan jam diperlukan untuk mengenakan makeup padaku dan kemudian dua jam diperlukan untuk melepaskan semua makeup itu plus aku harus duduk di bawah pancuran air selama setengah jam agar makeup benar-benar lepas. Juga, karena makeup yang hebat, aku tidak dapat melihat dengan mata kananku, sehingga aku mengalami hyper-focus pada mata kiri. Dengan segala makeup yang menempel di tubuhku, kadang, aku merasa gatal-gatal seperti terbakar di sekujur tubuhku. Mel akan menghampiriku dan bercanda, “Jim, kamu adalah pizza terbesar di seluruh dunia.”

Pengambilan gambar dilakukan di Italia pada musim dingin. Aku tergantung di atas salib, hanya dengan selembar kain penutup pinggang, di tengah udara yang dingin membeku. Aku memandang ke bawah melihat ratusan krew dengan jaket tebal dan syal serta sarung tangan, sementara aku sendiri tak dapat berbuat apa-apa karena tangan-tanganku terikat pada kayu salib. Angin bertiup mengiris-iris tubuhku. Karena dingin yang menggigit, aku menderita hypothermia, yang rasanya seperti menjepitkan seluruh tubuhmu dalam balok es. Sungguh menderita. Aku sulit bernapas, tidak dapat mencerna makanan dengan baik, berat badanku turun drastis dan aku menderita sakit kepala berkepanjangan. Mesin pemanas memang ada, tetapi tidak mungkin didekatkan padaku karena segala makeup itu akan meleleh.

Aku ingat suatu ketika, di atas salib, aku mengeluh kepada Tuhan, “Jadi, apakah Engkau tidak menginginkan film ini dibuat?” Pada akhirnya, aku harus pergi ke tempat yang lebih dalam dari kepalaku, aku harus pergi ke dalam hatiku. Dan satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan doa. Sungguh menyakitkan.

Adegan yang cukup lama di mana Yesus didera dengan cambuk-cambuk besi sungguh mengerikan. Untuk adegan ini Mel telah mengatur supaya ditempatkan suatu papan di punggungku, kira-kira setengah inci tebalnya, agar para prajurit Romawi tidak mengenai punggungku. Tetapi, pukulan salah seorang dari mereka luput, menghantam tepat di punggungku dan merobek kulitku. Aku tidak dapat berteriak, aku tidak dapat bernapas. Pukulan itu begitu menyakitkan hingga seluruh sistem tubuhku tergoncang. Aku jatuh tersungkur dan Mel mengatakan, “Jim, ayo bangun.” Ia tidak tahu bahwa aku sungguh terkena. Cambukan itu meninggalkan luka sepanjang 14 inchi (± 36 cm) di punggungku yang kemudian menjadi contoh untuk 'membuat' luka-luka penderaan lainnya. Aku tidak terkena pukulan lagi sesudahnya, tetapi insiden itu menyadarkanku akan bagaimana kira-kira rasanya dicambuk.

Aku menganggap semua penderitaan itu layak untuk memainkan peran Yesus. Peran ini sungguh berarti bagiku. Dengan memerankannya, aku jauh lebih menghayati Jalan Salib. Jalan Salib adalah sengsara Kristus demi umat manusia, demi menebus dosa-dosa kita, demi membawa kita kembali kepada Allah; dan Kasih yang melakukan semuanya.

Menurut cerita, kamu disambar petir juga?

Oh, ya! Waktu itu kami sedang shooting Khotbah di Bukit. Semuanya amat tenang, hingga kemudian, tiba-tiba rasanya seperti seseorang menampar telingamu dengan kuat. Aku seperti melihat warna merah sekitar tujuh delapan detik. Orang mulai berteriak. Mereka mengatakan bahwa aku seperti terbakar api di bagian sebelah kiri kepalaku dan bercahaya di sekujur tubuhku. Apa yang dapat aku katakan adalah bahwa aku kelihatan seperti baru saja pergi ke salon Don King. Aku mendongak ke atas dan bertanya, “Apakah Engkau tidak menyukainya?”

Yang menakjubkan, tak seorang pun mengalami luka-luka akibat sambaran petir. Banyak peristiwa menakjubkan lainnya yang terjadi saat pengambilan gambar. Seorang imam melayani Sakramen Ekaristi setiap hari dan terjadi juga beberapa penyembuhan. Orang-orang disembuhkan. Tuhan ada di sana. Kalian dapat merasakannya.


   Imannya

Ketika dua tahun yang lalu, Mel Gibson memilihnya untuk memerankan Yesus dalam The Passion of the Christ, bukan suatu kebetulan bahwa ia memiliki wajah yang tepat (Kata Mel, “Wajahnya memancarkan kemurnian dan ketakberdosaan kanak-kanak, yang menurutku sangat penting.”), usia yang tepat, 33 tahun, dan inisial nama yang tepat, JC (untuk Jesus Christ). James Caviezel seorang Katolik yang taat.

Bagaimana peran sebagai Yesus mempengaruhimu dalam berdoa rosario?

Aku berpendapat bahwa tidaklah mungkin aku memerankannya sebaik dalam The Passion tanpa imanku. Setiap hari sebelum pergi ke lokasi shooting, aku mempersiapkan diri dalam meditasi atau melalui rosario, selalu dengan perantaraan Maria. Aku menerima Sakramen Tobat; Roh Kudus membantuku menyadari dosa-dosaku. Kemudian, aku ambil bagian dalam Perayaan Ekaristi dan senantiasa apabila aku menerima Ekaristi dalam tubuhku, aku merasa semakin berada dalam Kristus.

Walaupun demikian, Mel tidak memilihku karena aku seorang Katolik. Mel juga memilih orang-orang Yahudi, Muslim, bahkan mereka yang tidak beragama. Ia memilih mereka karena mereka hebat dalam profesi mereka.

Apakah berperan sebagai Yesus mempertebal imanmu?

Aku mengasihi-Nya lebih dari yang aku pikir mungkin aku lakukan. Aku mengasihi-Nya lebih dari isteriku, keluargaku. Ada saat-saat ketika aku di sana (di atas salib), dan aku hampir-hampir tak dapat berbicara. Serangan hypothermia menyiksa terus-menerus, aku terhubung ke suatu tempat yang tak akan pernah mungkin aku pergi. Aku tidak ingin orang melihatku. Yang aku inginkan ialah mereka melihat Yesus Kristus.

Caviezel tidak khawatir dunia tahu bahwa ia seorang religius. Ia bangga akan imannya dan senang membicarakannya - meskipun para wartawan Hollywood telah memintanya untuk tidak menyinggungnya dalam wawancara. Ketika ditanyakan apakah iman Kristianinya juga berperan penting dalam hidup sehari-harinya dan dalam hidup perkawinannya, ia menjawab:

Apakah kamu bergurau? Tidak punya iman dan tidak berdoa di sini, di tempat ini, akan sama seperti pergi ke medan perang tanpa senjata.

Sama seperti orang beriman lainnya, iman Caviezel merupakan suatu proses - iman yang tumbuh selama bertahun-tahun dan semakin nyata sebagai akibat dari campur tangan Tuhan, kadang-kadang lewat cara yang paling aneh.

Iman merupakan suatu proses dan Tuhan menyatakan kebenaran-Nya kepada kita pada waktunya.


   Tuduhan Anti-Yahudi

Apakah pertentangan mengenai film dan tuduhan bahwa Mel seorang anti-Yahudi mengejutkanmu?

Ini hal yang paling menyedihkan. Yang dapat aku katakan adalah bahwa Mel Gibson sama sekali bukan seorang anti-Yahudi. Tak pernah aku melihatnya bersikap demikian. Maia Morgenstern (yang berperan sebagai Bunda Maria) adalah seorang aktris cantik Yahudi Roma yang orangtuanya tewas dalam pembantaian orang-orang Yahudi. Setiap hari Mel akan bertanya, “Maia, ceritakan padaku mengenai adat istiadatmu. Maukah kau?” Ia ingin membuat film ini se-Yahudi mungkin. Ia menghendaki seorang Yesus yang amat Yahudi. Iman kita berakar dalam tradisi Yahudi. Kita percaya kita adalah keturunan Daud; kita percaya kita adalah keturunan Abraham; jadi, tidak mungkin kita membenci diri kita sendiri. Orang banyak yang berdiri di hadapan Pontius Pilatus berteriak-teriak menuntut nyawa Kristus tidak mungkin membuktikan bahwa seluruh bangsa menghendaki kematian-Nya. Sama halnya, karena perbuatan-perbuatan Mussolini tidak mungkin kita mengutuk seluruh bangsa Italia, atau karena tindakan-tindakan bengis Stalin tidak mungkin kita mengutuk seluruh bangsa Rusia. Kita semua bersalah atas wafat Kristus. Dosa-dosaku menghantar-Nya ke salib. Dosa-dosa kalian juga.  

Apakah sulit bersikap diam sementara kalangan Yahudi meneriakkan protes mereka?

Mereka punya hak untuk mempertahankan iman mereka. Tetapi, aku yakin bahwa apabila saudara-saudaraku Yahudi menyaksikan film ini, mereka akan sadar bahwa film ini bukan tentang mempersalahkan siapa. Melainkan tentang cinta. Tentang pengorbanan. Tentang pengampunan dan pengharapan.


   Menuntut Peran yang Sopan

James Caviezel mencengangkan banyak orang ketika dalam pengambilan gambar untuk suatu adegan dalam film “Angel Eyes” ia meminta lawan mainnya, Jennifer Lopez, untuk mengenakan kembali pakaiannya. Ia juga membuat marah sutradara film “High Crimes” karena melakukan hal yang sama terhadap aktris cantik Ashley Judd.

Sungguh sulit beradegan tanpa busana dalam film. Aku beranggapan ini tidak benar. Jangan salah sangka. Aku suka bermain dalam film, tetapi tidak dalam film yang mengumbar nafsu. Juga dalam kekerasan liar. Bukan hanya karena isteriku, meskipun itu penting. Itu dosa; yang aku maksud itu salah. Tetapi, aku tidak suka membicarakan hal-hal seperti itu.”


   JC menurut teman-temannya

Teman-temannya mengatakan bahwa Caviezel bertekad untuk tidak bersikap seperti seorang bintang. Ketika ditahan oleh satpam dalam suatu pemutaran film perdana karena tidak membawa karcis, ia tidak mengatakan bahwa ia salah seorang aktornya. Meskipun film “The Passion of the Christ” meraih sukses, ia tetap rendah hati.

Bukan aku; bukan Mel Gibson. Malahan bukan tentang film itu sendiri atau suksesnya. Aku ingin orang pergi dengan penghayatan siapa Yesus sesungguhnya. Ia seorang pria sejati. Sungguh suatu kehormatan besar bagiku boleh berperan sebagai Putra Allah. Tapi, aku tidak mau orang melihat aku. Aku ingin mereka melihat hanya Yesus.


   Audiensi Pribadi dengan Bapa Suci

Pertengahan Maret 2004, James Caviezel beserta isterinya, Kerry (seorang guru sekolah), beroleh kesempatan diterima Bapa Suci dalam suatu audiensi pribadi di ruang perpustakaan Bapa Suci di Vatikan, Roma. Dalam kesempatan tersebut, Paus Yohanes Paulus II menyampaikan berkat serta menghadiahkan seuntai rosario kepada Caviezel. 
dari berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Post a Comment