Social Icons

29 August 2013

The Passion of the Christ "Dalam Terang Passio"

PENGANTAR
Aku merasa beruntung dapat menyaksikan film “The Passion of the Christ” dengan dipandu oleh Romo Gabriel Antonelli, CP dalam Retret Sengsara Yesus yang diadakan pada tanggal 20 - 22 Maret 2004 di Biara Passionis, Bandulan - Malang. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam bagiku pribadi. Penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh Rm Gabriel sebelum, selama maupun sesudah pemutaran film, sungguh membantuku dalam menikmati dan berusaha menangkap pesan yang hendak disampaikan lewat film karya Mel Gibson ini. Dengan segala kekurangan yang ada, aku berusaha membagikan pengalaman berharga tersebut, dengan harapan sebanyak mungkin orang dapat pula menikmati “The Passion of the Christ” dalam terang yang benar dan dengan demikian dibangkitkan serta dikobarkan dalam semangat cinta kepada Dia yang begitu mengasihi kita.




PASSIO YESUS
Sebelum pemutaran film, Romo Italia ini membekali kami dengan beberapa hal yang perlu kami ketahui sehubungan dengan Passio Yesus. Menurut beliau, 'Passio' (bhs Latin) diterjemahkan secara kurang tepat ke dalam bahasa Indonesia sebagai 'sengsara'. Padahal, sesungguhnya Passio mempunyai arti yang lebih luas dari sekedar sengsara atau penderitaan.

Passio mengandung arti:
  • cinta yang sangat kuat, (yang mendorong orang untuk rela berkorban / menderita)
  • keinginan dan semangat yang amat besar 
  • hasrat yang berkobar-kobar

Yesus merasakan passio ini bagi manusia. Passio ini yang menghantar-Nya untuk menderita hingga wafat disalib, passio ini yang menguasai seluruh hidup-Nya, sesungguhnya seluruh  Injil merupakan Pasio Yesus bagi manusia. Dalam terang Passio inilah, Rm Gabriel mengajak kami menyaksikan “The Passion of the Christ”.


TAMAN GETSEMANI
Adegan film di mulai di Taman Getsemani. Yesus, yang mengetahui bahwa saatnya sudah tiba, sesudah Perjamuan Malam terakhir, mengasingkan diri ke Taman Getsemani. Di sana, Ia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada BapaNya di surga. Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat suatu taman yang lain, Taman Eden, di mana Adam dan Hawa tinggal berbahagia, hingga iblis yang menyamar sebagai ular membujuk mereka untuk makan buah dari POHON terlarang. Karena bujukan iblis, leluhur kita yang pertama itu melanggar perintah Tuhan dan dengan demikian jatuh ke dalam dosa. Dosa mengakibatkan 'rusaknya' hubungan Allah dengan manusia, sehingga pintu gerbang kerajaan surga tertutup untuk selamanya bagi manusia.

Sejak jatuhnya Adam ke dalam dosa, hidup manusia senantiasa dikuasai dosa. Yesus datang untuk menebus dosa manusia; Yesus datang untuk menjadi korban silih dosa. Dengan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus akan memulihkan kembali hubungan Allah dengan manusia. Melalui POHON Salib-Nya, pintu gerbang kerajaan surga akan dibuka kembali bagi manusia.

Iblis, musuh besar Allah, berusaha mati-matian agar hal itu tidak terjadi. Selanjutnya Rm Gabriel mengajak kami untuk mengingat kembali peristiwa sebelum Yesus menampilkan diri di hadapan orang banyak, di mana Ia mengasingkan diri di padang gurun dan dicobai iblis. Sesudah segala bujuk rayunya yang gagal, “Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Luk 4;13). Malam itu, di Taman Getsemani adalah waktu yang tepat, waktu yang telah lama dinanti-nantikan si iblis. Sama seperti ia mencobai manusia pertama hingga jatuh ke dalam dosa karena ketidaktaatan, demikian pula sekarang ia mencobai Yesus agar jatuh kedalam dosa yang sama.

Lewat Injil, dan dengan bagus digambarkan dalam film, kita mengetahui betapa Yesus sesungguhnya amat ngeri dan gentar menyongsong salib-Nya. Namun demikian, jika Adam jatuh ke dalam bujukan si iblis, sebaliknya Yesus justru menyatakan ketaatan-Nya kepada Bapa. “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26:39). Dengan Fiat-Nya itu, Yesus mengalahkan iblis. Lihat, Yesus meremukkan kepala si ular! “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15) Sebab itu, pantaslah jika Gereja menggelari Yesus sebagai Adam Baru. Adam pertama mendatangkan dosa, Adam Baru menebus dosa.


YUDAS
Yudas adalah salah seorang murid yang paling dikasihi Yesus, salah seorang dari dua belas rasul pilihan-Nya, yang tinggal bersama-Nya, yang menyertai kemana pun Ia pergi, yang kepadanya Yesus mengungkapkan rahasia-rahasia pengajaran yang tersembunyi bagi para murid yang lain. Iblis berhasil menanamkan rancangan keji di benak Yudas untuk mengkhianati Yesus. Dan Yudas, dengan kehendak bebasnya, memilih untuk menawarkan diri menjual Guru Ilahi-nya dengan harga tiga puluh keping perak, harga yang dibayarkan orang Israel pada waktu itu untuk membeli seorang hamba. Dan dengan ciuman, ia menyerahkan Yesus kepada orang-orang yang menghendaki nyawa-Nya.

Sesudah Yesus ditangkap oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, Yudas menyaksikan betapa Gurunya yang lemah lembut itu diperlakukan dengan kasar dan brutal. Timbullah rasa sesal dalam hati Yudas. Ia berupaya memperbaiki kesalahannya dengan berusaha membeli Guru-nya kembali; suatu usaha yang sia-sia. Yudas pun dihantui perasaan bersalah, hati nuraninya, yang digambarkan sebagai anak-anak kecil dalam film, mengejar dan menuduhnya terus-menerus kemana pun ia pergi; bahkan setan ikut pula mengejeknya. Tak tahan dengan itu semua, Yudas memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya dengan mencabut nyawanya.


BUNDA MARIA
Sejak menyatakan Fiat-nya, Bunda Maria perlahan-lahan menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya dan atas diri Putranya, yaitu bahwa Putranya harus melaksanakan kehendak BapaNya menyerahkan diri hingga wafat sebagai korban silih dosa bagi keselamatan umat manusia. Bunda Maria belum sepenuhnya paham akan rencana keselamatan Allah, tetapi ketika Yesus ditangkap di Taman Getzemani, nalurinya menyatakan bahwa saatnya sudah tiba. Maka Bunda Maria pun mengatakan, “Saatnya sudah tiba, ya Allah.” Kemudian, bukannya berdoa mohon belas kasihan Allah agar salib itu dijauhkan dari dirinya dan dari Putranya, Bunda Maria malahan menegaskan kembali Fiat-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Salib adalah bentuk hukuman mati yang paling keji, dan hanya diperuntukkan bagi penjahat-penjahat yang melakukan tindak kriminal yang paling berat dan serius. Si terhukum dianggap orang hina dan terbuang. Orangtua dan keluarga si terhukum pada umumnya tidak mau menyertai si terhukum dalam jalan salibnya, karena malu akan hinaan dan cemoohan orang banyak yang mau tak mau harus mereka terima juga. Bunda Maria bukannya menghindar, malahan ia minta agar dibawa lebih dekat dalam menyertai Putranya terkasih dalam jalan salib-Nya. “Bawalah aku dekat pada-Nya,” pintanya.
Bagi seorang ibu yang paling lemah lembut dari segala ibu, tentulah hatinya serasa disayat sembilu melihat bagaimana Putranya diperlakukan. Sebagai seorang ibu yang normal, harusnya Bunda Maria pingsan menyaksikan Putranya didera, menyaksikan tubuh Putranya terkasih dihancur-remukkan dengan kejam dan brutal, menyaksikan Putra-Nya yang sudah tidak seperti manusia lagi. Nyatanya, Bunda Maria tetap tegar menghadapi itu semua didorong oleh cinta yang teramat besar kepada Putranya dan kepada manusia serta penyerahan diri yang total kepada Allah-nya. Sepanjang film kita dapat menyaksikan bagaimana Bunda Maria menyertai Putranya; anggukan kecil, tatapan mata, kehadirannya walaupun tanpa kata, merupakan penghiburan dan peneguhan bagi Yesus untuk tetap bertahan hingga kesudahannya. Adegan cinta kasih Ibu dan Putranya yang paling menyentuh adalah ketika Yesus jatuh saat memanggul salib dan Bunda Maria segera berlari mendapatkan-Nya, “Ibu di sini, ibu di sini.” Kata-kata sederhana itu sungguh mengungkapkan banyak makna. Sementara Yesus Sendiri, di tengah sengsara-Nya, menghibur Sang Bunda yang dirundung duka dengan penuh cinta, "Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru."  


Setiap deraan, setiap pukulan dan tamparan, setiap kesakitan yang diderita Putranya, semuanya itu mengenai dan diderita juga oleh Bunda Maria secara batin seolah-olah nyata adanya. Sungguh mengharukan menyaksikan adegan di mana Bunda Maria, yang tak berdaya dan tak kuasa melindungi Putranya dari deraan cambuk yang keji, sesudah penderaan berakhir segera bersimpuh di lantai, di mana cabikan-cabikan daging Putranya tercecer dan darah Putranya menggenangi lantai; dan dengan mesra diselamatkannya semua itu dari nista.


Lihat juga, bagaimana tangan-tangan Bunda Maria dengan tegang menggenggam pasir untuk meredam segala gejolak jiwanya saat paku-paku runcing dipalukan menembusi tangan dan kaki Putranya. Cinta kasih Bunda Maria terhadap Putranya tidak berakhir di kayu salib. Saat salib dipancangkan dan ditegakkan dengan Putranya terkasih bergantung di atasnya, Bunda Maria menyatakan cinta kasihnya yang tulus mesra, cinta kasihnya yang tak terbatas, dengan mencium ujung kaki Putranya. Tak peduli apa kata orang, Yesus tetap senantiasa jantung hatinya. “Daging dari dagingku. Hati dari hatiku,”katanya.

Saat yang menusuk hati adalah ketika Maria memangku jenasah Putranya. Pikiranku tiba-tiba beralih ke peristiwa Natal, Allah yang menjadi manusia, yang lahir ke dunia dalam rupa bayi mungil, dibuai mesra dalam pelukan sang Bunda. Sekarang, di akhir hidup-Nya, tubuh yang sama, yang telah dihancurbinasakan karena dosa-dosa manusia, dikembalikan ke dalam pelukan bunda-Nya dalam keadaan tidak bernyawa. Betapa hati Bunda Maria pedih perih serasa disayat sembilu. Bunda Maria mengarahkan pandangannya kepada kita, seolah hendak berkata, “Ini yang engkau perbuat terhadap Putraku.” Namun demikian, tidak terpancar kemarahan, kekecewaan atau pun dendam di wajahnya, yang ada hanyalah wajah yang diliputi dukacita mendalam dan penyerahan diri total kepada Allah-nya, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”


SIMON dari KIRENE
Kita tidak pernah tahu orang bagaimanakah sesungguhnya Simon dari Kirene ini. Yang kita tahu hanyalah bahwa ia dipaksa untuk membantu memikul salib Yesus dalam jalan salib-Nya. Digambarkan bagaimana Simon berusaha menolak perintah ini. Penolakannya dapat dimengerti; tidak ada orang yang mau berurusan dengan orang yang dieksekusi, bahkan orangtua ataupun kerabat si terhukum sendiri pun tidak. Di hadapan orang banyak dengan tegas Simon mengatakan, “Baik, aku membantu memanggul salib, tapi ingat bahwa aku tidak ada urusan dengan orang ini.”    

Berjalan bersama Yesus di jalan salib-Nya kiranya mengubah hati Simon yang keras menjadi seperti hati-Nya yang lembut dan rela menolong sesama dengan tulus hati. Sungguh indah menyaksikan bagaimana Yesus dan Simon, pada akhirnya, dengan tangan saling bertautan bahu-membahu memikul salib yang berat bersama.


IBLIS
Iblis terus membayangi sejak awal sengsara hingga wafat Kristus. Iblis berusaha membujuk Yesus di Taman Getsemani, iblis mengobarkan rasa iri, benci dan keinginan untuk membinasakan Yesus dalam diri imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi, iblis menghasut orang banyak dalam memutarbalikkan kebenaran dan menjatuhkan hukuman mati keji atas Yesus, iblis membuat para serdadu kesetanan hingga menyiksa dan menganiaya Yesus dengan keji dan brutal.

Sungguh ironis bahwa pada akhirnya, senjata yang ia gunakan untuk memusuhi dan membinasakan Yesus, justru merupakan bumerang bagi kebinasaannya sendiri. Iblis dikalahkan dan kekuasaannya digunduli.   


MISTERI SENGSARA YESUS
Sengsara Yesus tidak terbatas pada 12 jam terakhir hidup-Nya dan tidak terbatas pada aspek fisik saja. Ada empat tingkat sengsara / penderitaan yang perlu kita ketahui serta mengerti agar dapat memahami misteri sengsara dengan tepat. Itulah sebabnya mengapa Rm Gabriel menyebutnya Misteri Sengsara Yesus.

1. Sengsara Fisik
2. Sengsara Rohani / Spiritual
3. Sengsara Sakramental
4. Sengsara Aktual

1. Sengsara Fisik

Sengsara ini mudah dilihat dan dipahami. Banyak orang mengatakan bahwa film “The Passion of the Christ” terlalu mengeksploitasi kekejaman dan kebrutalan secara berlebihan. Mengenai hal ini, Rm Gabriel - yang memang ahli dalam hal Kain Kafan Turin - mengatakan bahwa sesuai dengan penyelidikan yang dilakukan terhadap kain kafan, memang begitulah yang sesungguhnya terjadi pada waktu itu. “Film yang apa adanya,” begitu komentar Bapa Suci. Selanjutnya Rm Gabriel mengingatkan kita untuk tidak sekedar memandang sengsara Yesus dari segi pietiesme belaka, melainkan kenyataan bahwa Yesus dengan sukarela menanggung sengsara demi passio-Nya terhadap manusia.

“Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.” (Yoh 10:17)

2. Sengsara Rohani / Spiritual

Inilah sengsara yang paling berat bagi Yesus. Yesus adalah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Sebagai manusia, Yesus juga memiliki perasaan yang sama seperti yang dimiliki manusia. Yesus ngeri dan takut; Yesus mengalami tekanan serta guncangan jiwa yang hebat saat di Getsemani. Yesus merasa pilu dikhianati oleh salah seorang murid yang paling dikasihi-Nya, disangkal oleh murid yang lainnya, serta ditinggalkan seorang diri oleh para pengikut-Nya. Yesus merasakan kesedihan mendalam saat difitnah dan ajaran-ajaran-Nya diputarbalikkan serta dijadikan bahan olok-olok, saat dihinakan dan diludahi, saat dihujat, saat ditolak oleh orang-orang yang kepadanya Ia mencurahkan segala kasih sayang-Nya. Bagaimana perasaan Yesus saat Ia yang adalah raja segala raja, diejek sebagai raja cacing? Bagaimana perasaan Yesus saat Ia bahkan dianggap lebih rendah dan hina dari Barabas, penjahat paling mengerikan di negeri itu, dijatuhi hukuman mati dengan keji dan hina sebagai penyamun. Dalam film kita melihat air mata duka-Nya mengalir jatuh; bukan hendak digambarkan Yesus yang cengeng ataupun sentimentil, melainkan manusia Yesus yang menanggung sengsara batin yang luar biasa.

Terlebih dahsyat lagi sengsara-Nya di atas kayu salib, di mana Ia merasa ditinggalkan oleh Bapa, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” (Mat 27:46). Namun demikian, Yesus tetap setia dan taat pada Bapa hingga kesudahannya.            

3. Sengsara Sakramental

Digambarkan dengan jelas dalam film bagaimana Kurban Tak Berdarah dalam Ekaristi sama dengan Kurban Berdarah di Kalvari.

“Dalam perjamuan malam terakhir, 'pada malam waktu Ia diserahkan' (1Kor 11:23), Ia meninggalkan bagi mempelai kekasih-Nya, Gereja, satu kurban yang kelihatan (seperti yang dibutuhkan kodrat manusia), yang olehnya, [kurban] berdarah itu, yang dibawakan di salib satu kali untuk selama-lamanya, dikenang sampai akhir zaman dan kekuatannya yang menyelamatkan dipergunakan untuk pengampunan dosa, yang kita lakukan setiap hari.” (Konsili Trente: DS 1740)

Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus menjadi kurban, Yesus menjadi makanan dan minuman bagi siapa saja. Yesus tidak pernah menolak untuk disantap siapa saja: orang yang rindu, orang yang suam-suam kuku atau pun orang yang dingin; orang sehat atau pun sakit. Yesus selalu dalam keadaan sebagai makanan.

“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:51)

Di atas salib, ketika seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, segera mengalirlah keluar darah dan air yang diyakini Gereja sebagai lambang sakramen-sakramen Gereja.

4. Sengsara Aktual

Sengsara Yesus berlangsung hingga akhir jaman:
  • dalam Gereja-Nya yang dikejar-kejar
  • dalam mereka yang sakit 
  • dalam mereka yang menderita 
  • dalam mereka yang mengalami ketidakadilan

“Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” (Mat 25:45)


KEBANGKITAN KRISTUS

Satu-satunya peristiwa yang menggembirakan dalam film ini adalah kebangkitan Kristus. Sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus adalah satu dan tak terpisahkan. “Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” (1 Kor 15:14)


KESIMPULAN

Bagaimana pun baiknya film “The Passion of the Christ,” Rm Gabriel berpendapat bahwa film ini tidak dapat dijadikan bahan pelajaran agama karena beberapa 'kejanggalan' di dalamnya, antara lain:

1. Tokoh Veronika sesungguhnya merupakan tokoh fiksi. Pada saat eksekusi berlangsung, tak seorang pun diperkenankan berada dekat si terhukum. Jadi, tidaklah mungkin ada seorang perempuan yang berhasil menerobos penjagaan para prajurit dan, terlebih lagi, menyeka wajah Yesus dengan saputangannya. Menurut tradisi nama perempuan itu ialah Veronica. Nama tersebut sesungguhnya berasal dari kata Latin 'vera', yang artinya 'benar' dan kata Yunani 'eikon', yang artinya 'gambar', menunjuk pada gambar Yesus yang tertera di Kain Kafan (Turin).

2. Sesuai penyelidikan dan ilmu kedokteran, Yesus dipaku pada pergelangan tangan-Nya, bukan pada telapak tangan-Nya.

3. Keseluruhan salib beratnya lebih dari 100 kg. Yesus memanggul 'hanya' bagian patibulum yang beratnya sekitar 50 kg.

4. Mahkota duri tidak lagi dikenakan Yesus sepanjang jalan salib dan penyaliban.

5. Peran Klaudia, isteri Pontius Pilatus dianggap berlebihan.

6. Maria Magdalena, menurut Rm Gabriel, bukan perempuan yang kedapatan berzinah dan hendak dijatuhi hukuman rajam. (pendapat lain lihat “Maria Magdalena” oleh Rm William P. Saunders)

Info tambahan lihat: “Passio Yesus Kristus” oleh Rm William P. Saunders
“Salib: Hukuman Mati yang Ngeri dan Keji” oleh Rm Kamilus Ndona Sopi, CP


PENUTUP

“The Passion of the Christ” membantu kita membuka mata hati akan Passio Yesus yang begitu dahsyat terhadap manusia. Passio Yesus, yang memberikan Diri-Nya sehabis-habisnya, dengan wafat di kayu salib demi keselamatan manusia. Mengenai passio-Nya, Yesus Sendiri menegaskan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15:13)

Mengalami cinta-Nya, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” (Mzm 116:12). Dan ketika sedang asyik merenungkan hal ini, terlintas di benak kata-kata manis dari santa kesayanganku:

“Cinta hanya dapat dibalas dengan cinta.”
~ St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus


Surabaya, 18 April 2004
Hari Raya Kerahiman Ilahi



Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
Post a Comment