Social Icons

13 March 2011

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI-NILAI

PENDIDIKAN KARAKTER

BERBASIS NILAI-NILAI
Oleh: Pastor Prof. Dr. Yong Ohoitimur, MSC.

LOKAKARYA 11 Maret 2011


MENGAPA DIPERLUKAN?
Mengapa nilai-nilai “Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai” itu penting di sekolah-sekolah Katolik?
  • Perubahan Zaman. Perubahan zaman serta kecanggihan teknologi ini membuat perilaku anak-anakpun berubah serta moral peserta didik rendah. Perubahan-perubahan zaman juga mengubah cara pandang dan cara hidup: serba praktis, serba cepat, memenuhi keinginan, kebebasan, demokratis--> yang penting tujuan tercapaiContoh yang lain; anak-anak jaman dulu beda dengan anak-anak jaman sekarang. Anak jaman dahulu sangat menghormati orang tua, sedangkan anak jaman sekarang sudah berkurang rasa hormat terhadap orang tua. Contoh yang lainnya, anak jaman sekarang suka nyontek saat ulangan atau ujian. Inilah fakta yang kita hadapi disekolah-sekolah kita. Ini merupakan suatu persoalan sangat serius yang harus kita cari solusinya bersama-sama. Pengaruh global juga kena imbasnya pada masyarakat Indonesia. Pendidikan bukan hanya membentuk aspek kognitif tetapi harus didasarkan juga pada pembentukan watak dan moral anak bangsa.
  • Konteks Indonesia. Pengaruh zaman pada tingkat global juga mengimbas pada masyarakat Indonesia. Kebangkrutan moral dan mentalitas. Contohnya;  Indonesia sendiri mengalami kebangkrutan moral dan mentalitas di segala bidang (kenakalan, kejahatan, korupsi dsbnya)
  • Tuntutan Kualitas Manusia. Penelitian memperlihatkan bahwa kemajuan suatu bangsa 80% tergantung pada faktor-faktor yang terkait dengan kualitas sumber daya manusia. Semakin rendah kualitas manusia mayoritas warga suatu negara, semakin buruk pula tingkat kesejahteraan/kualitas hidup masyarakatnya. Pendidikan Karakter memang harus diberlakukan karena jika tidak output yang kita hasilkan tidak bisa menjadi SDM yang terpakai di dunia usaha.
  • Pendidikan Kita Sangat Memprihatinkan. Sudah banyak usaha dilakukan untuk memajukan pendidikan kita. Tetapi kita selalu merasa belum cukup, karena orientasi pendidikan kita masih terbatas hanya pada pengayaan informasi--->aspek kognitif. Aspek nilai, moral spiritualitas, sudah tergusur karena praktek umum yang buruk alias tidak jujur.
  • Pendidikan Karakter. Buletin Character Education (Hasil studi Dr. Marvin Berkowtiz-University of Missouri-St. Louis). Di sekolah yang menerapkan pendidikan karakter terjadi peningkatan motivasi siswa untuk meraih prestasi akademik. Sedangkan di sekolah yang tidak menerapkan "Pendidikan Karakter" hampir tidak ada siswanya yang meraih prestasi akademik di segala tingkatan.
    Kelas yang secara komprehensif terlibat dalam "Pendidikan Karakter" menunjukkan penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Hakikat Pendidikan Karakter = Proses pengembangan karakter alamiah ke arah yang lebih matang, beradap, dan manusiawi.
    Pendidikan Karakter : Budi pekerti plus karena berkaitan dengan aspek kognitif, perasaan (emotion), perilaku atau tindakan (action). Contoh. Anak-anak di sekolah yang menerapkan pendidikan karakter selalu meraih prestasi, dan juga mempunyai nilai saling menghormati satu dengan yang lainnya.


Kesimpulan:
Pendidikan Karakter diperlukan karena:
  • Perubahan zaman menuntut kita menata kembali pendidikan yang berbasis nilai.
  • Kematangan kualitas pribadi tergantung pada kokohnya karakter yang dimiliki.
  • Di Indonesia, kita perlu mengubah orientasi pendidikan agar tidak terbatas pada aspek kognitif saja.


APA ITU PENDIDIKAN KARAKTER?
Karakter Institusi. Iklim atau budaya yang dimiliki sebagai jatidiri suatu lembaga sehingga secara spontan dapat dirasakan atau dialami oleh setiap orang. Karakter Sekolah bisa mengenal suasana umum, perilaku yang menonjol, praktek atau kebiasaan-kebiasaan yang terpelihara berdasarkan nilai-nilai tertentu yang diyakini.

Karakter Personal. Karakter alamiah merupakan watak bawaan seseorang yang secara menonjol ia miliki dan menjadi ciri khas kepribadian dalam berperilaku. Karakter binaan, yaitu watak yang berkembang melalui pembinaan/pendidikan seseorang sehingga ia memiliki kebiasaan bertindak tertentu secara social -> Habitus.

Hakikat Pendidikan Karakter. Pendidikan Karakter, merupakan proses pengembangan karakter alamiah ke arah yang lebih matang, beradab, dan manusiawi --> karakter binaan.

Karakter bertumbuh dalam proses social-budaya: keluarga, sekolah, agama, masyarakat. Sekolah, merupakan tempat istimewa untuk menumbuhkan karakter; sekolah mesti memiliki karakter yang baik.

Kesimpulan. Karakter sebagai identitas personal merujuk kepada keutuhan pribadi seseorang. Pendidikan Karakter, adalah suatu proses pembentukan watak atau budi pekerti yang meliputi: aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (emotion), dan perilaku atau tindakan (action).


PILAR-PILAR PENDIDIKAN KARAKTER
Pencetus:
F.W. FOERSTER (1869-1966). Karakter=Faktor yang menentukan kualifikasi seorang pribadi, jatidiri seorang person. Empat karakter utama: keteraturan batin (nilai dan prioritas), koherensi (integritas diri), otonomi (kemandirian diri), serta keteguhan (daya tahan untuk menghendaki apa yang baik).
Dalam proses pendidikan, anak dilatih untuk berpikir sendiri dan memecahkan masalah. Tapi hal ini ditolak oleh FW. Foerster.

THOMAS LICKONA (1993). Pendidikan karakter berawal "desiring the good" (keinginan untuk berbuat kebaikan). Pendidikan karakter yang baik melibatkan: "knowing the good", "desiring the good", "acting the good". Tanpa itu semua, manusia sama dengan robot/mesin hidup.
Anak diajarkan apa yang baik, dilatih untuk berbuat kebaikan dan anak dilatih untuk melakukan yang baik.

DOROTHY RICH (1997). Setiap pribadi memiliki: kemampuan (ability), nilai (values) mesin dalam tubuh (inner engine). Proses pembentukan karakter sama dengan mencapai "mega skills" (percaya diri, motivasi, usaha, tanggungjawab, inisiatif, kemauan kuat, kasih sayang, kerjasama, berpikir logis, kemampuan pemecahan masalah, dan berkonsentrasi pada tujuan. 
Anak-anak diajarkan nilai apa yang baik dalam kehidupan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa menjembatani antara sekolah dan rumah/orang tua dari peserta didik. Contohnya; pemberitahuan perkembangan anak kepada orang tua. Anak-anak dilatih untuk percaya diri, bertanggungjawab, berpikir logis, mampu memecahkan masalah, anak-anak mampu memotivasi diri ke hal-hal yang baik.

PENDEKATAN HUMANIS (sudah dilakukan di sekolah-sekolah yang ada di Amerika). Ada 6 pilar pendidikan yang harus dianut oleh setiap sekolah, yaitu nilai-nilai terpenting:
  • Trustworthiness—jujur, dan dapat dipercaya
  • Fairness—adil
  • Respect—hargai/hormati orang lain, santun
  • Caring—peduli, kasih sayang, melayani
  • Citizenship—menjadi warga yang baik, punya kontribusi bagi hidup bersama
  • Responsibility—bertanggungjawab, akuntabel.
RATNA MEGAWANGI. Beliau seorang muslimat. Menurut Ratna Megawangi, Pendidikan karakter itu baiknya berbasis pada 9 nilai karakter, yaitu: Cinta Tuhan dan kebenaran, Tanggungjawab, Disiplin, Kemandirian, Amanah, Hormat dan santun, Kasih Sayang, Kepedulian, kerjasama, Percaya diri, Kreatif, Pantang menyerah, Keadilan dan kepemimpinan, Baik dan rendah hati, Toleransi dan cinta damai.

LINGKUNGAN SEKOLAH TEMPAT SAYA BEKERJA. Dalam lingkungan sekolah yang saya tempati  juga mempunyai pilar-pilar pendidikan karakter berbasis pada 9 nilai yaitu:
  • Ketanggapan/responsive
  • Kreatif
  • Tanggungjawab
  • Integratif
  • Keadilan
  • Hospitalitas
  • Kasih Sayang
  • Rasa Hormat
  • Disiplin

Kesimpulan Pilar-Pilar Pendidikan Karakter. Dalam pendidikan karakter dimengerti sebagai watak atau budi pekerti yang didasarkan atas nilai-nilai mulia tertentu. Yang disebut pilar-pilar dalam pendidikan karakter tidak lain dari nilai-nilai mulia yang dipilih sebagai dasar perilaku dan tindakan. Nilai merupakan dasar pembentukan karakter.


STRUKTUR KEPRIBADIAN
Berikut ini saya paparkan sedikit tentang "STRUKTUR KEPRIBADIAN". Mungkin ini juga bermanfaat bagi teman-teman guru. Oke...lanjut....

Di atas telah dikatakan bahwa "Karakter" dibentuk oleh tiga aspek, yaitu: Pengetahuan (cognitive), Perasaan (emotion), dan tindakan (action).
Jika tiga aspek tersebut diterjemahkan ke dalam susunan kepribadian, maka hasilnya adalah terbentuk suatu "Piramida Kepribadian" sebagai berikut : (saya mengurut dari atas ke bawah saja ya.../tak ada gambar piramida-nya...hehehe)

  1. SKILL
  2. KNOWLEDGE
  3. BASIC ATTITUDES
  4. SELF CONCEPT
  5. BASIC VALUES
(1) Skills: kemampuan praktis yang dimiliki untuk melakukan suatu pekerjaan. Keterampilan pada umumnya diperoleh karena latihan dan kebiasaan.
(2) Pengetahuan (Rational Knowledge): merupakan lapisan lebih mendalam dibandingkan dengan keterampilan. Pengetahuan dibentuk melalui penyerapan informasi atau transfer pengetahuan.
(3) Sikap Dasar: merupakan pola dasar atau kecenderungan bersikap seseorang. Sikap dasar terekspresi melalui reaksi primer dalam interaksi sosial, teristimewa jelas pada cara seseorang berperilaku, bertindak, dan bertutur kata.
(4) Gambaran Diri: adalah cara pandang seseorang mengenai dirinya atau pencitraan diri. Gambaran diri bisa berarti suatu gambaran ideal yang seseorang ingin wujudkan bagi dirinya sendiri, tetapi juga sebagai citra diri berdasarkan apa yang diyakini sebagai bermakna bagi hidupnya.
(5) Nilai Dasar: adalah apa yang diyakini sangat penting dan bermakna, dijunjung tinggi, dijadikan cita-cita, dan pegangan sebagai basis bagi seluruh hidupnya.
(lainnya saya lupa...apa yang dikatakan si Prof...hehebe. Mohon maaf)


Proses Pendidikan: Pendidikan kita pada umumnya berhenti pada aspek kognitif (pengetahuan). Kurikulum berbasis kompetensi pernah coba memberikan perhatian pada tiga aspek: pengetahuan-sikap-keterampilan. Pendidikan sejati membimbing peserta sampai kenal dan meyakini nilai-nilai dasar.

Tuntutan Pendidikan Karakter: Pendidikan karakter bukanlah satu mata pelajaran yang baru, melainkan proses pembentukan karakter menurut nilai tertentu. Proses pembentukan karakter mesti terjadi melalui mata pelajaran apapun, yaitu melalui pengenalan nilai dan pembentukan sikap hidup yang baik.



Langkah-langkah Dalam Pembentukan Karakter:
·         Mengenal Realitas Diri & Lingkungan. Proses pembentukan karakter diawali dengan kesadaran kita tentang realitas pendidikan, pembinaan, dan kehidupan.
·         Seleksi Nilai-Nilai. Langkah di atas menjadi latar-belakang seleksi nilai. Karena seleksi nilai membutuhkan pendidikan nilai, maka langkah berikut yang mesti diambil ialah menentukan skala nilai-nilai dasar yang perlu kita tumbuhkan sampai meyakininya.
·         Penjabaran Nilai. Nilai-nilai dijabarkan ke lapisan praksis, diterjemahkan menjadi pola-pola perilaku dan tindakan, cara kerja dan cara berkomunikasi, serta prosedur standar operasional dalam lembaga pendidikan atau pembinaan.
·         Sosialisasi dan Pembiasaan. Baik visi maupun penjabarannya yang sudah ditetapkan perlu disosialisasikan secara meyakinkan kepada semua pemangku kepentingan, terutama para pendidik, karyawan/pegawai dan peserta didik.
·      Evaluasi. Evaluasi merupakan langkah sangat penting untuk mengukur perkembangan pembentukan karakter.


PROSES MEMBENTUK KARAKTER
Mengenal Realitas Diri & Lingkungan. Proses pembentukan karakter diawali dengan kesadaran akan kebiasaan diri dalam berbicara dan berperilaku. Kenali juga hal-hal yang baik dan membanggakan serta hal-hal yang buruk dan mengecewakan dalam lingkungan sekolah.
Seleksi Nilai-Nilai. Dalam kondisi riil pribadi dan lembaga, nilai-nilai mana yang hidup dan mana yang hilang? Kita mesti memilih nilai-nilai sesuai tradisi pendidikan Katolik, dalam hal ini sesuai charisma dan spiritualitas sekolah kita masing-masing. Sembilan nilai Dasar tersebut di atas ditetapkan sebagai nilai utama pendidikan di sekolah.
Penjabaran Nilai. Nilai-nilai dasar yang terpilih itu kemudian dijabarkan dalam perilaku atau tindakan yang menjadi standar. Misalnya, nilai “tanggungjawab”: apa yang dilakukan sebagai bentuk konkret tanggungjawab? Begitu juga dengan nilai hospitalitas”. Perilaku standar ditetapkan dan disosialisasi.
Caring/Nilai Kasih Sayang (mengunjungi siswa yang sakit, melayani siswa yang bermasalah) dan Respec (Menghargai orang lain seadanya, menjaga nama baik teman).
Pembiasaan dan Evaluasi. Setiap orang dalam lingkungan sekolah berkomitmen untuk membiasakan diri berperilaku menurut apa yang telah ditetapkan. Dari praktek yang konsisten, lahirlah habitus baru menurut nilai yang dihayati.
Pedagogi Refleksi. Proses pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk sadar dan berefleksi tentang pengalaman, peristiwa dan makna baginya. Langkah ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan “kesadaran”. Di sana nilai dan sikap dasar secara perlahan-lahan bertumbuh.
Proses Membentuk Karakter. Keteladanan Pimpinan serta Guru/Pegawai dan kerjasama antar guru sangat menentukan. Pertumbuhan karakter membutuhkan: sentuhan hati dan serentak tegaknya disiplin. Pimpinan perlu konsistensi dalam menerapkan peraturan dan transparan tentang setiap kebijakan, tanpa kehilangan respek dan kesantunan.
  
PENDEKATAN HOLISTIK
Relevansi Pendidikan Karakter. Proses belajar mengajar tidak dipusatkan pada Kecerdasan Intelektual  (IQ) saja, tetapi juga pada Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Sosial, dan Kecerdasan Spiritual/Moral. Pendidikan Karakter dengan sendirinya meninggalkan tradisi “teacher-centered” dalam pendidikan à “holistic approach”
Indikator Pendidikan Karakter. Di sekolah ada relasi akrab antara guru, siswa, pegawai/karyawan sebagai satu komunitas. Sekolah menjadi suatu “caring community”. Kerjasama dan saling mendukung dianggap lebih penting daripada persaingan/kompetisi. Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran dll merupakan bagian dari pelajaran sehari-hari. Disiplin dan manajemen kelas dilihat terutama dalam rangka “problem solving” daripada “rewards and punishments”. Sekolah memiliki orientasi moral yang jelas, misalnya dilarang keras berlaku tidak jujur. Sekolah memiliki kultur yang pasti dan terpelihara, misalnya bersih, rapih, tertib, dan ramah.
Penutup. Pendidikan Karakter di Sekolah merupakan proses membangun fondasi kehidupan tidak menyelesaikan bangunan kepribadian. Pimpinan Sekolah dan para guru perlu bekerja sama untuk menciptakan kultur sekolah yang sehat dan positif bagi proses pembentukan karakter. Kuncinya ada pada diri sendiri: memelihara “suasana hati” yang baik dan bersih.

Masih ada yang lainnya, tapi sepertinya jari-jari ini sudah lemassss...tak ada yang mau pijitin jari-jari ini... uh uh uh.... tunggu aja tulisan berikutnya....




ANDA SEDANG BERPROSES MENERAPKAN MANAJEMEN PENDIDIKAN KELAS DUNIA


Post a Comment