Social Icons

02 October 2011

TERKUNGKUNG DALAM KEBIASAAN, TERJERAT DALAM KESEMPATAN


Sapaan seorang sahabat untuk para sahabat,

            Sebagian orang seperti katak dalam tempurung sehingga melihat dan menilai segala sesuatu sebagai benar atau salah,  dosa atau tidaknya dari standard kebiasaan yang dihidupinya, sementara yang lain menikmati kehidupan mereka tanpa nilai moral dan agama yang sebenarnya mau membantu untuk menghormati diri dan martabatnya sebagai manusia.

“TERKUKUNG DALAM KEBIASAAN TERJERAT DALAM KESEMPATAN”

“Mengutuk keadaan tertentu adalah tindakan mengurung dan membatasi jiwa untuk menikmati hidup sebagai sebuah anugrah.”


            Kebiasaan yang paling bagus di negeri orang adalah ketika saling bertemu sebagai saudara sebangsa dan setanah air, apalagi di kalangan para bujang abadi seperi para romo dan suster.Demikianlah kebiasaan kami di Manila, hari  ulang tahun atau teman yang telah menyelesaikan sekolah, selalu menjadi kesempatan untuk bertemu satu dengan yang lain biar pun hanya untuk sekedar canda tawa sambil menikmati hasil masakan beberapa romo dan suster yang memang jago memasak (Kami yang lain kan cuma jago makan saja..hehehehe..)

            Suatu ketika hadirlah dalam pertemua seperti itu seorang gadis Filipina, teman seorang romo yang memang diundang untuk datang mencicipi masakan khas Indonesia. Wajahnya cantik, tubuhnya sexi dan penampilannya juga membuat para suster memandang miring. Maklum dia hanya memakai celana pendek dan kaos yang ketat. Ada yang lucu; Rupanya para suster ini sudah berembug bersama agar tiap kali ada acara pemotretan harus ada 2 suster yang mengapit gadis ini sehingga terhindar dari para romo. Akhir ceritanya, ada suster yang bilang; “Romo, sadar ngga? Kenapa susterku sayang, susterku malang?” Mendapat sapaan seperti itu si suster langsung menyerangku dengan kata-katanya; “Dasar mata keranjang! Iya, asyik kan cuci matanya?” Emangnya mataku kotor, ter? Jawabku. “Tu, koq mata semua romo melotot ama  cewenya terus.” Oh, itu ya? “Emangnya suster prihatin atau cemburu ni.” Sanggahku! Hui...dasar gila kalau bicara dengan romo ini. Teringat kisah inspiratif dua biarawan yang mau menyeberang sungai dan kebetulan ada juga seoarang gadis cantik; Si  biarawan muda karena tidak mau mengotori diri, hati dan pikirannya, maka dia menyeberang sendirian sungai itu. Sedangkan si biarawan yang lebih tua mengendong gadis itu sambil menyeberang. Sekembalinya ke biara, si biarawan muda mengeluh kepadanya; “Mengapa engkau menggendong gadis itu padahal itu melawan aturan biara?” Sang biarawan tua hanya menjawab santai kepadanya; “Kawan, aku telah melepaskan gadis itu di seberang sungai, tapi kenapa engkau membawanya sampai ke biara?”

            Di Filipina, romo beli roti lalu makan sambil berjalan, itu biasa! Suster dengan atau tanpa kerudung antre untuk beli karcis dan nonton di bioskop umum, rasanya bukan sebuah penampakkan. Muda-mudi berciuman di tempat umum seperti station kereta api, mall atau di taman-taman, itu pemandangan biasa saja. Sayangnya, ada beberapa suster Indonesia yang  kalau melihat hal-hal seperti itu, selalu saja mengeluh, mengeritik dan menilai dari segi baik-buruknya dan salah benarnya, sehingga kadang es krim yang enak pun tidak ada rasa di mulut karena mendengar keluhan teman-teman suster tertentu.

            Ini tentunya pengalaman yang biasa saja, tapi kadang tanpa tidak kita sadari, kita membawa ukuran di tempat dan komunitas kita untuk menilai hal -hal di luar diri, komunitas, agama dan bahkan negara orang lain dengan patokan bahwa kebiasaan kitalah yang paling benar. Banyak orang mengeluh dan terus mengeluh sehingga tidak tersisa lagi waktu dan kesempatan untuk menikmati hidup itu sebagai anugerah. Sebaliknya juga kadang keluar dari situasi keterikatan karena aturan dan adat istiadat, membuat kita menggunakan kesempatan untuk menikmati hidup dengan bebas, tanpa batasan nilai moral dan agama. Karena itu, benarlah judul tulisan ini: “Kadang sebagian orang terkukung dalam kebiasaannya, sementara yang lain terjerat dalam kesempatan.”

          Cerita singkat ini hanya mau mengatakan kepada kita sekalian bahwa tindakan menyesuaikan diri dengan adat-istiadat serta kebiasaan orang lain tanpa kehilangan nilai-nilai baik dan bijak yang telah kita hidupi, adalah kebijaksanaan dan keutamaan yang harus tertanam di dalam hati setiap orang; orang tua, para guru dan pembina, romo dan suster, dan terlebih lagi anak-anak muda di zaman ini. Dalam dunia pembinaan anak, saya selalu menegaskan kepada orang tua bahwa “apa yang Anda tanam dalam jiwa anak-anakmu sekarang ini, adalah apa yang  Anda akan tuai di masa remaja dan muda mereka.” Nasehat ini hanya mau mengatakan kepadamu bahwa mendidik generasi muda dengan nilai-nilai moral dan agama tetap masih relevan sampai sekarang ini, sehingga anak-anak kita, generasi muda nantinya tidak terkukung dalam kebiasaan yang kakuh, tapi juga tidak terjerat dalam kesempatan yang saat ini menjadi dambaan banyak orang yang mengagung-agungkan faham kebebasan yang tak bermartabat. Tuhan menciptakan kita dilengkapi dengan otak dan hati untuk berpikir dan bermenunga. Semoga saja kita gunakan kemuliaan tubuh dan bukan untuk menghancurkan martabat luhur kita sebagai manusia.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Duc in Altum***
Post a Comment