Social Icons

28 November 2013

MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?

MENDOAKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL?
MANA AYATNYA DALAM KITAB SUCI?

PENDAHULUAN

Berbicara mengenai Api Penyucian, erat hubungannya dengan praktek mendoakan orang yang sudah meninggal. Sebagai orang Katolik, kita menghormati jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal dan dengan tekun mendoakan serta mempersembahkan intensi Misa bagi mereka.

Namun mungkin kita beberapa kali menghadapi tantangan dari orang non-Katolik mengenai praktek ini. Mengapa kita mendoakan orang yang sudah meninggal? Bukankah orang yang sudah meninggal itu sudah tidak punya hubungan lagi dengan kita di bumi? Memangnya doa-doa dan silih kita bisa membantu mereka masuk Surga?

Praktek mendoakan orang yang sudah meninggal, selain sangat Alkitabiah, juga amat indah. Melalui praktek ini, Gereja mewartakan sebuah kebenaran yang indah bahwa Persekutuan Orang Kudus tidak terputus oleh kematian, bahkan justru "diperkuat" oleh kematian [di dalam Yesus], dalam arti, hubungan kita dengan jiwa-jiwa tersebut kini justru tidak lagi terbatas oleh waktu dan jarak fisik.

Ingat bahwa Gereja Katolik, yang adalah Gereja Semesta atau Universal, bukan hanya Gereja yang di dalamnya ada banyak usia, bangsa, suku, dan bahasa, melainkan juga Gereja yang terdiri dari Gereja Berziarah (kita yang masih di bumi), Gereja Menderita (jiwa-jiwa di Api Penyucian), dan Gereja Berjaya (jiwa-jiwa yang berbahagia di surga).


APA DASAR DARI PRAKTEK INI MENURUT KITAB SUCI?

1)
"Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati."
(2 Makabe 12:43-44)

Ayat tersebut diambil dari sebuah perikop yang menceritakan tentang Yudas Makabe, seorang panglima perang tentara Israel, yang menemukan jimat dan berhala pada jenazah para prajuritnya. Yudas, seoranh yang saleh, lantas memohon ampun bagi prajurit-prajurit tersebut.

Maka jika kita mendoakan orang mati, kita sesungguhnya sedang mewartakan kebenaran Kristiani, yaitu kebangkitan orang mati dan harapan akan hidup kekal di dalam Tuhan.

*

2)
"Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."
(Roma 8:38-39)

Kita meyakini bahwa kasih Kristus tidak putus saat seseorang meninggal. Justru, kasih inilah yang menjadikan adanya Gereja Berziarah, Gereja Menderita, dan Gereja Berjaya. Kasih ini memberikan kita semua kesempatan untuk saling mendoakan dan saling tolong-menolong menanggung beban (Galatia 6:2)

*

3)
"Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya."
(2 Tim 1:18)

Ayat ini adalah doa Rasul Paulus saat mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal. Onesiforus adalah sahabat Paulus yang rajin mengunjunginya saat ia dipenjara. Di sini kita melihat bahwa Rasul Paulus pun memohon belas kasih Tuhan kepada jiwa sahabatnya itu pada saat kematiannya. Hal ini tentu tidak masuk akal jika doa bagi orang meninggal tidak ada gunanya.

*

4)
"Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."
(Matius 22 : 31-32)

Di sini Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Farisi. Pada masa itu tentu saja Bapa Abraham, Ishak, dan Yakub sudah meninggal menurut mata manusia. Tetapi ternyata mereka tidak meninggal, melainkan hidup di mata Allah. Malahan, orang-orang benar ini bisa dibilang "lebih hidup" daripada kita di bumi, karena mereka telah berada bersama Sang Sumber Kehidupan itu sendiri. Maka, apakah mereka bisa mendengar doa kita? Ya, tentu saja! Dan mereka pun dapat mendoakan kita juga!

*

PENUTUP

Demikianlah, setidaknya ada 4 ayat Kitab Suci yang menjadi dasar praktek berdoa bagi orang yang sudah meninggal.

Jadi sudah jelas bahwa praktek ini bukan tidak beralasan, namun justru bertumpu pada iman akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal, dan juga pada keyakinan bahwa kasih dan kerahiman Allah tidak berhenti sampai pada kematian. Sebab, Allah macam apa yang kasih-Nya dibatasi oleh kematian? Tentu bukan Allah kita, Allah yang menguasai surga dan bumi, Allah yang hidup dan mengagumkan, Allah yang kudus dan kekal sampai selama-lamanya, amin!


—Deo Duce—
 
 
 
Sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152415568154638&set=a.99350589637.111403.91119074637&type=1&relevant_count=1&ref=nf
Post a Comment