Social Icons

04 April 2011

To Forgive and Forget Tiny Offences

Memaafkan dan melupakan perasaan sakit hati kita
Tidak bisa dihindari bahwa dalam keseharian kita, saat berurusan dengan orang lain di pekerjaan kita, di rumah dan juga dalam hubungan di masyarakat, terjadi gesekan satu sama lain. Juga memungkinkan bahwa seseorang menyinggung perasaan kita, atau memperlakukan kita dengan tidak adil; yang dapat membuat kita terluka.

Sudahkah kita mengampuni tujuh kali? Kita mungkin tanyakan ini pada diri kita. Kita bisa katakan, 'Apakah aku selalu memaafkan?' Tuhan menanyakan ini kepada Petrus dalam Injil Mat 18:21-35. Tahukah kita bagaimana, dalam peristiwa apapun, caranya memaafkan? Spontankah kita melakukannya?
Kita ingat jawaban Tuhan Yesus kepada Petrus dan juga pada kita semua, 'Bukan hanya tujuh kali, Aku katakan kepadamu, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali.' Dengan kata lain, selalu, tidak terbatas. Tuhan meminta kita yang mau mengikutiNya, kamu dan saya, suatu cara untuk mengampuni dan memberi maaf tanpa batas. Dia minta kepada para sahabatNya satu keterbukaan untuk bisa bermurah hati. Yesus inginkan kita menjadi seperti Dia.

Kemahakuasaan Allah, menurut Sto. Thomas Aquinas, tampak, di atas segalanya, dalam tindakanNya yang pemaaf dan sifatNya yang penuh kasih dalam mengampuni, sebab jalanNya menunjukkan betapa Dia berkuasa untuk mengampuni sesuai kehendakNya... Karenanya, tak ada yang dapat membuat kita menjadi serupa denganNya selain bila juga punya sifat suka memaafkan. Kebesaran jiwa kita juga akan terlihat bila kita memiliki sifat ini: mau bermurah hati.

Jauhlah dari kita, mengingat-ingat: mereka yang sudah menyakiti kita, atau penghinaan-penghinaan yang pernah kita alami -tak peduli betapa semuanya itu sungguh tidak adil, sangat tidak beradab atau tidak menyenangkan- karena tidak baik buat seorang anak Allah untuk menyiapkan atau menyimpan daftar keluhan-keluhan yang pernah dialami. Sekalipun orang tersebut tidak menjadi lebih baik, sekalipun mungkin dia kembali menyakiti kita atau berbuat sesuatu yang menyinggung perasaan kita, hindari kita kembali mengalami rasa pahit karena itu semua. Hati kita harus murni dan tetap bersih dari semua sikap permusuhan.

Maaf yang kita beri haruslah tulus, berasal dari hati kita, dan benar-benar seperti ampun yang Tuhan berikan pada kita. Ampunilah kesalahan kami, tiap hari kita katakan ini dalam doa Bapa Kami, seperti kamipun mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Segera memberi maaf, tanpa memberi ruang buat kepahitan atau semangat perpecahan mengisi ruang hati kita, tanpa harus balik menyakiti, menjadi sensasional atau dramatis. Kadang, dalam hidup kita sehari-hari, bahkan kita tidak perlu sampai mengatakan, 'Aku ampuni kesalahanmu' atau 'Aku memaafkanmu', cukuplah tersenyum, mengubah arah pembicaraan, menyatakan suatu tindakan kasih, yang intinya memberi maaf seakan-akan tidak ada perasaan tersakiti sama sekali.

Tidak penting kita menderita ketidakadilan sebelum kita berbuat kasih. Hal-hal kecil yang terjadi setiap hari ini memberi kesempatan terjadinya hal tersebut: argumentasi di rumah mengenai hal-hal sehari-hari, tanggapan tajam atau sikap yang menggelisahkan (biasanya lebih disebabkan karena kelelahan) di pekerjaan, dalam kemacetan lalu lintas atau dalam ketergesa-gesaan kita di sarana transportasi publik.

Kita tidak akan menghidupi hidup kristiani kita dengan baik jika, pada gesekan-gesekan kecil yang terjadi, kasih kita menjadi dingin dan kita mulai merasa jauh dari sesama, atau jika kita sendiri menjadi murung. Juga bukanlah cermin seorang kristen bila, saat mungkin beberapa masalah serius kita menyebabkan kita tidak bisa merasakan lagi kehadiran Allah, atau jiwa kita kehilangan perasaan damai dan sukacita. Tindakan kita tidaklah menunjukkan jalan kristiani bila kita membiarkan diri kita menjadi mudah tersinggung. Mari kita memeriksa diri kita untuk melihat seperti apa reaksi kita saat muncul berbagai hal yang menjengkelkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengikuti Tuhan kita benar-benar berarti menemukan, sekalipun dalam perselisihan-perselisihan sepele atau dalam hal ketidakadilan yang lebih serius, jalan menuju kesucian.



Source:

Post a Comment