Social Icons

16 May 2011

Doa Marial, Doa Kontemplasi


Relasi Ibu Magda dengan kedua putrinya membantu saya untuk memehami apa doa itu. Sering, sekurang-kurangnya pada permulaan, doa terletak pada tingkat permohonan. Memang biasanya begitu. Namun, jika relasi tersebut mau menjadi lebih mendalam dan mencapai suatu tingkat kematangan, doa kita harus menjadi lebih daripada sekedar permohonan; semakin harus menjadi “kontemplasi (hadir dalam suatu ruang bersama.)” Menurut hemat saya, itulah ciri-ciri doa marial. Doa marial bertujuan menatap Maria dan hadir padanya, khususnya dalam relasinya dengan Allah dan dengan orang-orang lain.

Maria mengajar kita….

Santo Lukas dalam injilnya menggambarkan Maria sebagai pola iman. Kebahagiannya yang terbesar ialah bahwa ia percaya, sebagaimana dinyatakan oleh Elisabeth. Kemudian Yesus akan menegaskan bahwa kebesaran ibu-Nya, sebagaimana juga setiap orang Kristen, ditemukan dalam imannya (Luk 11:21). Maria adalah seorang yang harus menemukan iman kristianinya sambil menempuh suatu jalan yang sebelumnya belum pernah ditempuh orang. Ia harus menemukan suatu hubungan baru sebagai manusia dengaa Allah yang begitu mendekatkan diri sehingga banyak orang sampai tidak mampu mengenalinya. Sambil mengikuti Maria, seperti Maria dan bersama dengan dia – dan dengan salah satu cara juga di dalam dia, karena iman Maria kita juga percaya – kita ingin menerima Allah-yang-datang-dalam Yesus, Sang Emanuel.

Maka, saya mengarahkan diriku kepada wanita ini untuk belajar menerima Yesus Kristus, untuk belajar mendengarkan Dia dan menemukan-Nya, lemah seperti seorang anak (Luk 2:7), dinyatakan oleh orang-orang miskin (Luk 2:18), dan oleh para nabi (Luk 2:25), yang membingungkan dalam perkataan-Nya (Luk 2:50), tersembunyi dalam keseharian (Luk 2:51). Semua peristiwa dan perkataan ini diterima Maria dan ia “menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya” (Luk 2:51), seperti tanah yang baik menerima benih (Luk 8:51). Setiap kali Lukas berbicara tentang Maria, ia juga berbicara tentang kita. Demikian juga doa saya akan menjadi suatu kontemplasi tentang Maria yang menerima Yang Abadi dan Yang Tak Terungkapkan. Maurice Zundel membantu kita memahami misteri Maria secara lebih mendalam, ketika ia menulis:

“Perawan Maria membuat kehidupan lebih mulia sebab ia telah masuk ke dalam Yang Tak Terjangkau… Maria mengantar kita bukan melalui kata-kata melainkan melalui hidupnya sendiri dalam semuanya yang tidak dikenal tentang Allah, dalam semuanya yang tidak dikenal tentang alam semesta, dalam semuanya yang tidak dikenal tentang hidup kita sendiri.”


Jadi, Maria mengajar kita mau menerima Putranya. Berbahagialah mereka yang mau menatap Maria untuk belajar dari dia bagaimana harus mendengarkan Allah yang bersabda dan bagaimana menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Lebih berbahagia, mereka yang belajar dari Maria menerima Sabda itu sampai ke dalam lubuk hati, agar menjadi sumber kerinduan dan kebijaksanan hidup mereka. Itulah seluruh makna doa marial: menatap untuk menjadi serupa. Menatap Maria untuk menjadi beriman seperti dia. Hadir padanya untuk dapat menerima sikap-sikapnya, seperti keheningan, iman, keterbukaan, kerendahan hati. Sebab, Maria mengajar kita untuk mendengarkan dengan sepenuh hati agar Yesus Kristus mulai diam dalam diri kita dan mengubah seluruh diri kita.


Demikianlah dengan sendirinya, tanpa kita sadari bagaimana, kita beralih dari doa kepada Maria menuju doa bersama Maria. Saya mulai dengan menatap Maria dalam keheningannya yang merupakan keterbukaan total untuk mendengarkan dan menerima Yang Abadi. Maria mengantar saya ke dalam imannya, ke dalam sikap hatinya. Kemudian Maria mundur, membiarkan saya berdialog secara pribadi dengan Allah. Tetapi ia tetap hadir, bersatu dengan saya dalam doa, menopang doa tersebut, menopang pertemuan ajaib itu antara Sang Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya; pertemuan yang ia sendiri alami begitu mendalam denga mengenal terang, penghiburan serta malam gelapnya.

Seorang yang mengerti kita…

Mgr.J.C.Thomas, uskup Ajaccio, pernah menunjukkan bagaimana sepanjang hidupnya Maria mengalami segala hal-ikhwal seorang ibu! Ia menjadi ibu seorang anak yang tidak lain daripada yang lain, ibu seorang remaja yang memprihatinkan, seorang nabi popular, seorang bidaah yang berbahaya, seorang narapidana, seorang yang dihukum mati, seorang yang menjalani hukuman. Bisa dikatakan juga bahwa Maria mengenal segala macam “iman”: iman yang mempertanyakan (Luk 1:34), iman yang meluap-luap dalam terang (Luk 1:45-46), iman yang tidak mengerti lagi (Luk 2:50), iman yang mengoyakkan hati dan yang memisahkan dari orang lain (Luk 2:34-35), iman yang menderita dan menyakitkan (Yoh 19:25), iman yang merupakan kekuatan persatuan (Kis 1:14;2:4). Iman seperti apa pun yang kita miliki, tahap apa pun yang kita lewati dalam hidup rohani kita, kita selalu dapat mengatakan bahwa Maria “telah mengalaminya” dan bahwa ia mengerti kita.



Jadi, berdoa kepada Maria pertama-tama adalah menatap dia baik-baik, hadir padanya untuk menjadi serupa dengan dia. Memiliki keterbukaan yang murni seperti dia bagi Yang Abadi yang menyerahkan diri kepada kita dalam Yesus Kristus. Di dalam Maria saya menemukan jalan iman yang digariskan oleh Roh Kudus, yang dihayati oleh manusia yang sempurna, sebagaimana dikumandangkan dan dipersembahkan kepada Gereja oleh pengarang Injil. Suatu jalan yang tersedia bagi saya, dan saya melibatkan diri jalan itu melalui doa. Suatu jalan yang akan membimbing saya mengikuti Kristus (“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu”,Yoh 2:25) menuju kegembiraan Bapa.



Sumber:
Buku "DOA ROSARIO, Menatap untuk Menjadi Serupa"
OLeh Georges Madore, SMM
Post a Comment