Social Icons

17 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (2)


Sore ini (16/8)… tulisan ini saya lanjutkan lagi. Banyak juga yang mengusulkan agar tidak menuliskan cerita tentang black magic. Tapi apa boleh buat… perjalanan saya selama 6 (enam) minggu di NTT berkaitan dengan “KEKUATAN JAHAT” melawan “KEBAIKAN”.

Selamat membaca…


Nenek Yang Marah
Lalu nenek berkata lagi buat tanta Meri.
“Kamu Meri, kamu buat seekor kuda yang biasa saya tunggangi.” (Maksudnya patung atau gambar di makam nanti jika telah selesai direhab.)

Tapi tanta Meri menjawab, “Nenek, saya tidak punya uang.”

Nenek menjawab, “Meri, saya tau kamu punya uang. Coba ambil tas yang kamu gantung di pohon itu. Sebenarnya saya marah karena kamu gantung tas di pohon yang saya pakai untuk ikat kuda saya.”

Tanta Meri kaget. Dalam hatinya dia berkata, darimana nenek tau kalau di dalam tas saya itu ada uang? Segera saja tas itu diambil. Dan…. ternyata di dalam tas tanta Meri ada uang lima puluh ribu rupiah hehehe….


Saya jadi lucu mendengar cerita ini.
Makanya…. jangan berbohong dengan arwah orang mati hahaha…  iya ga….

Lalu nenek memanggil Epin (adik sepupu saya). Nenek berkata, “Epin, kamu tidak usah pulang Atambua lagi. Kamu menikah saja dengan cewek Larantuka. Nanti nenek yang bantu kamu.”

Dan si Epin langsung menangis terisak-isak mendengar kata-kata dari nenek.

Nenek berkata lagi, “Lusia, saat mereka bawa Maria Upa (adik ketiga dari bapak saya) ke Maumere…. saya cuma lihat saja mereka lewat rumah saya (maksud nenek saya adalah makamnya). Dia mereka bawa sampai Maumere, saya juga ikut sampai ke Maumere. Sampai dimana kamu bawa dia, saya akan ikut. Dia meninggal saya yang ambil. Yo (adik kedua dari bapak saya) juga meninggal saya yang ambil.”

Rupanya nenek saya memang marah sekali karena belum ada satupun keturunannya yang sekarang datang untuk bakar lilin dan berdoa buat dia.

Saat malam, semua melihat ada seekor rusa putih berjalan di dekat makam sambil memperhatikan mereka. Rusa itu tidak liar. Rusa itu jinak sekali. Lalu rusa berjalan menjauhi mereka.

Lalu tanta bercerita lagi. Pernah dalam mimpinya tanta, nenek datang dan memberitau, “Lusia, kamu sakit ini saya yang buat. Tapi saya hanya cubit kamu sedikit saja.”
Dan tanta saya cuma sakit tapi tidak parah seperti saat sakit yang dulunya. Kali ini hanya tidak bisa jalan.

Sekedar info: tanta saya, Maria Upa (Maria Fernandez) dibawa ke Maumere dalam keadaan sudah meninggal dunia. Saat itu hendak diterbangkan jasadnya ke Kupang untuk dimakamkan di Atambua.

Kata-Kata Yang Mengganggu Pikiran
Dan ada satu dialog yang sangat mengganggu saya hingga tulisan ini saya buat. Dialog tersebut kurang lebih seperti di bawah ini….

“Lusia, dalam makam ini ada satu yang tidak boleh di keluarkan. Jika kamu mengambil barang tersebut dari makam saya, maka Larantuka akan heboh/gempar. Jika Larantuka heboh/gempar, kamu semua tidak bisa tahan.”

Dialog yang lainnya saya lupa hahaha…. soriiii.

Keesokan harinya, bahan-bahan untuk membuat makam segera didatangkan dari Larantuka. Semen, pasir, paku, besi 9 mm dan yang lainnya.
Sore harinya, ada lima orang ibu-ibu serta penjaga pulau Konga yang datang ikut nimbrung di makamnya nenek.

Sekedar info: di Konga ada sebuah pulau. Pulau ini bernama Konga dan saat ini pulau Konga merupakan tempat pemeliharaan mutiara oleh Jepang. Pulau Konga masuk Kabupaten Flores Timur. Kabupaten Flores Timur beribu kota Larantuka.

Ibu-ibu serta penjaga pulau Konga itu mulai bercerita.

Bahwa setiap sore, jam enam tepat, mereka selalu melihat ada orang kulit putih, berjanggut putih panjang, berbaju putih panjang, memakai mahkota seperti raja keluar dari makam ini dan menunggang kudanya yang putih lalu terbang menghilang di angkasa. Setiap jam enam sore pula semua penduduk sekitar makam tersebut akan menutup pintu dan jendela karena takut. Mereka bilang bahwa kuburan ini keramat. Jika ada yang duduk di sore hari, tapi arah kursinya akan menghadap ke tempat yang lain. Tidak mau duduk menghadap ke pekuburan karena takut. Padahal penjaga pulau Konga terkenal berani. Tapi takut juga duduk menghadap ke kubur ini saat jam enam sore.

Ibu-ibu dan penjaga pulau Konga melanjutkan ceritanya.

Dulu, nenek saya punya dua pengawal. Namanya mereka sudah lupa (MANGGOTU & de ROSARI). Rupanya cerita ini selalu diceritakan turun-temurun ke anak-cucu oleh orang-orang di Konga. Sebenarnya… saat tanta menceritakan ini, semua keluarga yang berada di Atambua & Larantuka cuma tau tentang warna kulit satu pengawal ini. Yaitu berkulit putih seperti orang bule. Ciri-ciri pengawal yang satunya belum ada yang tau.

Selesai makam nenek dipasang keramik, keluarga tanta pulang kembali ke Atambua. Tak lupa tanta membawa sepotong tanah dari makam nenek. Beberapa hari di Atambua, tanta bermimpi: nenek datang bertemu dengannya. Dalam mimpinya itu nenek berkata, “Lusia, supaya kamu sembuh, tanah yang kamu bawa itu rendam di air hangat lalu gosoklah di bagian yang sakit.” Keesokan harinya tanta segera menggosokan tanah tersebut ke bagian tubuh yang sakit. Beberapa hari kemudian, tanta berangsur-angsur sembuh.

Bagaimana keadaan tempo dulu, silahkan ke Konga dan bertanya langsung ke penduduk di Konga tentang makam tersebut. Makam ini berada di pekuburan lama, kampung Konga lama. Bagaimana sepakterjang ke-tiga orang nenek kami ini, silahkan bertanya langsung ke Konga. Karena orang-orang di Konga lebih tau persis tentang ke-tiga nenek kami ini.

Setelah selesai menceritakan kejadian yang menimpa tanta saya, saya pun segera pamit pulang ke rumah.

Tikus Kiriman
Sepanjang malam pikiran saya penuh dengan misteri ini. Malam sekitar jam 7, saya lagi nonton tv, tiba-tiba ada seekor tikus masuk melalui jendela nako langsung berlari ke kamar yang bapak saya (kamar yang dipakai saat masih sehat dulu). Lalu adik laki-laki saya mencari tikus itu. Tapi tidak di dapat. Adik saya itu langsung mengambil serbuk lilin yang sudah dicampur dengan garam lalu ditabur di pintu. Dan anehnya, tikus itu tidak bisa keluar dari kamar itu. Kurang lebih jam 11-an saya melihat tikus tersebut gelisah di pintu kamar. Adik saya memberi tau bahwa itu tikus kiriman dari orang yang mengguna-gunai bapak saya. Saya heran, tapi perasaan ini saya simpan dalam hati. Esok paginya, saya mencari tikus itu. Ternyata “tikus” itu lagi bersembunyi di belakang lemari. Langsung saja saya tolak lemari ke dinding dan…. “tikus” kiriman itu terjepit antara lemari dan tembok. “Tikus” itu mati seketika.
Dan memang betul, bapak saya sakit karena diguna-gunai oleh orang yang sama. Orang yang mengguna-gunai adik bungsu bapak saya sampai meninggal dunia.

Malam itu juga…
Di tengah malam, saya berpikir keras tentang maksud dari cerita tanta itu. Bahwa apa yang ada dalam kuburan tidak boleh diambil. Jika kamu keluarkan dari makam saya, maka Larantuka akan heboh.
Belum berani saya mengambil kesimpulan dari cerita tanta itu. Saya pribadi masih takut.
Maksudnya nenek apa ya….

Hari berikutnya saya mengajak Cici ke pekuburan untuk bakar lilin dan berdoa buat arwah kakek, nenek, om, tanta dan saudara-saudara yang lain. Karena sudah bertahun-tahun tidak pergi ke pekuburan ini, saya mengajak salah satu saudara saya yang tau letak dari makam-makam tersebut. Hari mulai gelap, sebelum pulang tak lupa kami bakar lilin di bawah Salib Yesus buat arwah saudara-saudara yang meninggal di tempat lain.
Malam ini kami cuma berjaga-jaga saja di sekitar rumah. Tak ada yang menarik malam ini hingga pagi. Ini terjadi dalam beberapa hari.

Pengikut Setan
Kami sekeluarga selalu berusaha untuk menyembuhkan bapak saya dari sakitnya. Dan adik laki-laki saya yang bungsu mendapat seorang laki-laki muda yang bisa membantu kami. Anak muda ini kami undang ke rumah, setelah melihat kondisi fisik bapak, dia bilang, “Saya tidak bisa langsung pegang karena kondisi bapak tidak memungkinkan. Kondisi bapak terlalu lemah.” Akhirnya dia mengusulkan pakai perantara. Rupanya saat itu semua tidak ada yang bisa bermeditasi. Malam itu gagal. Hari-hari berlalu seperti biasanya.

Suatu malam (tanggalnya saya lupa), tiba-tiba adik saya yang bungsu telpon ke rumah. Rupanya dia sudah dapat orang yang bisa meditasi. Mereka bertiga (adik bungsu, ipar, dan  perantara—orang yang bisa meditasi) menuju ke rumahnya anak muda itu di Motabuik (Motabuik berada kurang lebih 4 km dari Atambua menuju ke Kupang).

Agar pembaca tidak berpikir yang aneh-aneh, saya menjelaskan sedikit cara anak muda ini menyembuhkan orang yang sedang sakit karena ‘black magic’.
Sebelum memulai, perantara harus duduk bermeditasi mengosongkan pikirannya dan tertidur. Lalu anak muda ini berdoa ala Katolik. Di mulai dengan “Tanda Salib” lalu doa “Bapa Kami” satu kali diikuti dengan doa “Salam Maria” tiga kali. Lalu meminta ijin sekaligus meminta bantuan Yesus Kristus. Lalu anak muda mulai memanggil jiwa ‘pengikut setan’ ini. Hhmmm…. Benar, jiwa ‘pengikut setan’ ini datang dan masuk ke badan perantara yang sudah terlelap itu. Saat proses ini, di atas kepala anak muda itu berdiri salib yang berkilau dan Yesus juga ada di situ bersama-sama dengan mereka.

Proses pemanggilan jiwa ‘pengikut setan’ ini berhasil. Terjadilah dialog diantara mereka berdua. Adik saya dan ipar jadi pendengar dan jadi saksi. Suara yang keluar adalah suara asli dari ‘pengikut setan’ ini. ‘Pengikut setan’ ini berjanji untuk tidak menyusahkan bapak saya lagi. Sebenarnya saat itu ‘pengikut setan’ ini hendak dihabisi saja. Tapi dia memohon agar dia tidak dihabisi. Saat terjadi dialog-dialog ini, tiba-tiba terdengar isteri dari ‘pengikut setan’ ini menangis di sebelah rumah kami. Dia mengira suaminya telah meninggal. Padahal kami cuma meminjam jiwa suaminya sebentar. Setelah selesai dialog yang cukup lama, jiwanya segera dikembalikan.
Dialog yang lainnya cuma mereka bertiga yang tau. Saya juga masih menyimpan rekaman dialog antara ‘pengikut setan’ ini dengan adik.

Esok pagi, laki-laki ini segera menuju ke Kupang untuk meminta bantuan teman-temannya sesama pengikut setan lainnya.

Malam berikutnya, datang anak muda yang mendapat karunia itu ke rumah kami. Dia datang untuk meminta ‘pengikut setan’ itu membersihkan semua magic-nya dari badan bapak saya. Tapi ternyata gagal malam itu. Kami meminta anak muda itu untuk melihat fisik bapak. Saat itu banyak orang di kamar. Anak muda ini memegang badan bapak dari kepala sampai kaki. Lalu ada seorang ipar perempuan melihat wajah bapak berubah menjadi wajahnya ‘pengikut setan’ itu. Setelah selesai. Mereka bertanya pada bapak. “Bapak kenal dia?”. Bapak kenal semua yang hadir di kamar. Tapi anehnya, saya tidak dikenal oleh bapak kandung saya sendiri. Hati saya tidak merasa kecut. Dan saya sendiri mencoba bertanya beberapa kali kepada bapak.

“Bapak kenal saya?”, bapak menjawab “tidak”. Dengan hati penuh penasaran, saya mengambil buku “Orasi” yang selalu saya bawa dalam dompet saya. Saya taruh di telapak tangan saya lalu saya menggenggam tangan bapak bersamaan dengan buku “Orasi” itu sambil bertanya, “Bapak kenal saya?”, bapak menjawab, “Kenal.” Semua tertegun.
Dahsyat memang kuasa Allah Yang Maha Rahim.


Malam semakin larut. Saya masih tetap mengetik cerita ini (16/8), pikiran ini cuma tertuju ke arwah ke-tiga nenek saya di Konga. Apakah nenek saya datang menjenguk saya di Toraja malam ini? Saat jari-jari ini mulai menari-nari di atas papan keyboard notebook Compaq Presario ini, suara anjing melolong di pinggir rumah menambah seramnya malam ini. Kejadian inipun saya alami saat membuat tulisan yang pertama. Tapi hati ini tidak merasa takut sedikitpun, karena perasaan hati ini damai sekali. Saya tau… di samping saya ada “Malaikat Pelindungku”, ada “nenek saya dari Konga” dan ada “arwah saudara-saudara yang lain” yang selalu menyayangi saya. Saya teringat beberapa kata sebelum saya pulang kembali ke Toraja, “JANGAN TAKUT DENGAN BAYANGAN MANUSIA”. Paham maksud saya? Nanti saya akan ceritakan di penghujung kisah pada tulisan yang akan datang.

Sebungkus URBAN nyaris habis, teh sisa seperempat di bawah gelas. Asap rokok ku hembus perlahan. Di iringi lagu dari Ebiet G. Ade (Cintaku Kandas di Rerumputan) hhmmm…
Malam semakin larut, sunyi sepi di atas bukit Lolai. Seisi rumah sudah terlelap. Udara dingin menembus kulit menusuk tulang dengan hebatnya. Tapi jemari ini mulai lagi menari-menari melanjutkan kisah ini. Selamat membaca….


Beberapa hari ….

Cerita ini saya tunda karena terjadi hal aneh lagi di depan mata saya. Lilin di depan mata saya mengeluarkan cahaya aneh yang tidak bisa saya ceritakan. Peristiwa ini juga saya alami saat menulis bagian pertama yang sudah saya upload di blog ini. Biarlah peristiwa ini menjadi kenangan indah buat saya pribadi. Antara saya dan Yang Maha Kuasa, dan antara saya dengan arwah-arwah nenek saya yang sudah pergi mendahului kami.
Saya lanjutkan di lain kesempatan…


Ingat!!!! TUHAN hanya sejauh DOA. Berdoalah sesering mungkin karena Doa Mengubahkan segala-galanya. DOA adalah sumber Kekuatan.

Byee… sampai jumpa lagi.

Siapakah salah satu pengawal nenek saya yang bernama MANGGOTU ini?
Tunggu misteri-misteri yang saya alami selanjutnya….


Bersambung….


Post a Comment