Social Icons

31 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (4)


MISTERI KOTA REINHA (4)


Saya lanjut lagi sambungan MKR yang ketiga.

Isi SMS memberitau bahwa bapak saya sudah koma. Dan hendak di bawa ke rumah sakit. Saya membalas SMS ipar dan memberitau bahwa saya akan turun di pelabuhan Kota Reinha. Ada juga om yang menelpon dari Atambua dan memberitau hal yang sama. Setelah tiba di pelabuhan Kota Reinha, saya dan Cici turun dari Sirimau dengan berdesak-desakan bersama penumpang yang akan menuju ke Makassar.
Tiket yang saya beli adalah tujuan Makassar tapi Tuhan berkehendak lain. Di pelabuhan sudah ada tanta dari Pante Besar yang menunggu untuk menjemput kami berdua.



 Kami segera menuju ke Pante Besar dan nginap di rumah adik bungsu dari kakek saya (yang sudah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu). Tanta segera menyiapkan makan pagi. Selesai makan pagi, saya langsung berangkat ke Lokea ditemani sepupu yang bernama Mr. Anthony Fernandez hehehe… (Anthony, kalau ko baca ini… jangan marah. Hidup ini indah. Salam buat Epin).
Kami berdua menuju rumah nenek Margaretha Diaz (nenek Etha Diaz ini ibu kandung dari tanta Lusia Diaz. Sudah saya jelaskan pada episode yang lalu hehehe….seperti sinetron saja).

Tiba di Lokea, kami duduk sebentar di rumahnya nenek sambil memberitau maksud kedatangan kami berdua ke situ. Di situ ada juga om. Lalu om memberi gambaran makam dari ketiga nenek kami yang marah itu. Saya pun menyuruh Anthony ke pasar untuk membeli lilin 3 (tiga) bungkus, rokok 1 bungkus, sirih, pinang dan kapur secukupnya.

Segera kami berdua berpamitan untuk pergi ke Konga. Kami masih singgah sebentar di Pante Besar untuk mengganti motor. Bertiga kami berangkat ke Konga menggunakan 2 motor. Saya, Anthony serta Erik. Keduanya adalah sepupu saya.

Aneh
Tiba di pekuburan Konga lama, saya langsung mencari makam nenek (tapi saya malah lewati Konga hehehe… maklumlah… lama tak berkunjung ke Kota Reinha). Rupanya tidak susah mendapati makam tersebut. Di sekitar makam itu ada juga orang lain yang sedang merenovasi kuburan keluarganya. Dan ada pula beberapa anak kecil bermain.

Kami bertiga bakar lilin sambil berdoa. Rupanya ada juga yang meninggal beberapa bungkus lilin disitu. Dalam doa juga saya mengambil sirih dan pinang lalu buat acara adat sedikit dengan ketiga nenek saya. Saat itu kedua ponakan saya lagi pergi ke tempat pompa air yang dibuat oleh Jepang untuk menyuplai air ke pulau Konga. Jadi mereka berdua tidak sempat melihat saya melakukan hal ini hehehe… Jika melihatnya, pasti sudah lari tunggang-langgang. Apalagi yang bernama Anthony itu hahaha… (jangan marah ooo Anthony hehehe…)
 
 Ada keanehan yang saya rasa saat saya telpon ke rumahnya bapak serani saya di Atambua. Saat saya menelpon dan berbicara dengan om, orang-orang yang lagi kerja di makam sebelah langsung diam. Tak ada satupun suara yang keluar dari mereka. Semua peralatan kerja dilepas. Selesai saya bicara, keadaan makam terasa hening. Saya sendiri jadi heran dengan keadaan itu. Hal ini berulang lagi ketika saya menelpon menanyakan tentang cara membuat adat dengan orang mati. Semua yang lagi bekerja berhenti. Yang berbicarapun langsung diam. Itu berlangsung sampai saya selesai berbicara.  Hmmm… ada apakah gerangan? Saya mulai sadar, bahwa makamnya nenek ini memang keramat. Berarti orang yang lagi kerja di makam sebelah tau tentang makamnya nenek yang keramat ini.



Semua lilin yang saya bakar, habis secara serempak. Cuma tertinggal satu lilin yang tidak terbakar habis. Padam karena tertiup angin. Lilin itu saya bakar lagi, dan saya anggap lilin itu untuk jiwa-jiwa di Api Pencuci.

Sebelum pulang ke Pante Besar, tak lupa saya mengambil beberapa batang sirih dan pinang. Sirih-pinang itu saya taruh di dalam tas hitam kecil yang saya bawa dari Toraja. Sebelum kembali ke Pante Besar, saya mengambil sebatang sirih dan memakannya. Sirih dan pinang itu hendak saya bagikan buat om dan tanta di Atambua.

Berita Yang Sedih
Saya mengantar motornya om. Lalu minum kopi sore ditemani om. Saat itu juga (sore hari, adik laki-laki saya sedang berada di rumahnya Ulu. Ulu bilang: saat ini ada seorang nenek—“arwah nenek kami” sedang bakar lilin di kamarnya bapak). Tiba-tiba datang dua orang cewe bersaudara dari Pante Besar (yang satunya punya akun di Facebook dan berteman dengan saya). Satunya tinggal di Atambua (samping rumah kami) serta cewe yang satunya memang tinggal di Pante Besar. Beberapa menit kami bercerita, hp saya berdering. Berita tentang kematian bapak sungguh mengagetkan saya.

Malamnya, keluarga bapak saya duduk berkumpul.
Untung saja ada kapal feri tujuan Kupang pada keesokan harinya.
Tanggal 15/7 sore, kami ber-6 berangkat ke Kupang; saya, Cici Fz, Anthony Fz, Epin Fz, dan kedua tanta saya.



Tiba di Kupang tanggal 16/7, istirahat sejenak. Setelah selesai semua persiapan di jalan. Kamipun makan pagi dan melanjutkan perjalanan ke Atambua.

Setiba di rumah, ku tatap jasad yang kaku. Air mata berlinang. Ku pegang kaki bapak. Air mata ini terus berlinang.
Esok hari (Minggu 17/7) jenasah bapak di makamkan di kuburan Katolik Atambua. Malam pertama saya lalui dan tidak ada kejadian penting. Pada malam kedua, saya mengeluarkan uang sejumlah Rp 350.000 dari tas pinggang warna hitam itu. Dan tas itu saya simpan di atas lemarinya bapak. Dalam tas itu ada kamera dan sirih-pinang. Esok sore saya ambil lagi tas itu, tapi di dalamnya ada uang Rp 50 ribu. Entah siapa yang menaruh uang itu di tas saya. Dalam hati saya yakin bahwa uang itu ditaruh oleh nenek. Saya cuma tersenyum saja. Jaman sekarang mana ada yang mau kasih 50 ribu gratis… hhmmmm…
Tapi sayangnya, sirih dan pinang itu saya lupa beri kepada yang memerlukannya. Entah pada malam yang ke berapa, datang adik perempuan bapak. Saya menyuruh tanta duduk. Lalu saya masuk ke kamar untuk mengambil tas pinggang itu.

Apa yang terjadi???

Sirih serta pinang yang saya simpan di dalam tas hitam hilang. Saya bertanya pada semua penghuni rumah, tapi tak ada satupun yang mengambilnya. Dalam beberapa hari itu, hati ini gundah gulana. Saya bertekad mencari tau tentang kehilangan sirih-pinang ini di orang-orang pintar (orang-orang yang mendapat karunia dari Yang Maha Kuasa).

Hari berikutnya saya berkunjung lagi ke rumahnya tanta Lusia Diaz dan menceritakan kejadian ini pada om saya. Om juga bersedia menemani saya ke rumah nenek di km 10 jurusan Kupang.

Hari Minggu 24/7, saya pergi lagi ke rumahnya tanta untuk mengajak om ke nenek di km 10. Om bilang tunggu sebentar. Saat saya sementara bermain Playstation, om masuk dan memberi tau bahwa hari ini tidak jadi menemani saya ke km 10 karena ada orang yang mau datang ke sini untuk mengobati tanta yang tidak bisa jalan.
Sayapun menunggu sambil bermain PS. Selesi bermain PS, saya berjalan arah depan rumah. Tapi ada seorang bapak lainnya sedang berdiri di samping rumah. Saya merasa aneh dengan kehadiran orang ini.

Sekedar info saja: orang ini juga salah satu ‘pengikut setan’ di kampong saya.

Lalu orang itu pun pergi meninggalkan rumahnya om. Di depan rumahnya tanta ada juga saudara sepupu bapak.
Om itu masuk ke dalam rumah. Saya juga hendak pergi ke kamarnya tanta. Tapi saat di tepi jendela, saya melihat ke ruang tamu, rupanya ada orang-orang lagi duduk berkumpul. Ada juga seorang bapa tua duduk disitu. Segera saya ikut bergabung.

Rupanya sepupu saya sementara diobati. Dalam hati saya bertanya-tanya, siapakah “bapa tua” ini? Saya duduk diam sambil memperhatikan. “Bapa tua” ini duduk sambil merokok, lalu bercerita, bahwa beliau mendapat anugerah dari ini duduk sambil merokok, lalu bercerita, bahwa beliau mendapat anugerah dari Yang Maha Kuasa. “Bapa tua” ini selalu bersama-sama dengan “Santa Maria Magdalena” (dalam agama Katolik dikenal orang-orang Kudus. Orang yang telah mati jika jiwanya sudah masuk ke dalam Surga berarti jiwa tersebut sudah kudus). Sebelum beliau mendapat anugerah, beliau berpuasa selama 40 hari. Selesai berpuasa, beliau mendapat cobaan dari setan. Tapi beliau tidak tertarik dengan godaan setan. Lalu beliau dianugerahi karunia yang jarang sekali didapati orang lain. Setan selalu takut bila melihat beliau. Lalu om bercerita bahwa “Bapa tua” ini sudah menyembuhkan banyak orang. Juga ada sodara lain yang gila selama 15 tahun. Dia disembuhkan dan langsung tidak gila lagi. Hebat memang karya Yang Maha Kuasa. Saya juga mendengar percakapan antara “Bapa tua” ini dengan Santa Maria Magdalena.

“Bapa tua” ini juga tidak mau menerima uang sepeserpun jika membantu mengobati orang lain. Lalu beliau juga memberitau saya bahwa bapak saya saat sakit tidak bisa lagi dibantu untuk diobati. Saat di rumah sakit, beliau tiba di depan pintu kamar tempat bapak saya dirawat, beliau tidak bisa masuk karena pintu sudah di jaga ketat oleh setan. “Bapa tua”  ini juga bercerita bahwa dia bisa sampai ke tempat ini (rumahnya tanta) karena om ini (maksudnya adik sepupu dari bapak saya). “Bapa tua” ini bilang bahwa dia bisa bertemu dengan om karena hatinya om bersih. Ck..ck..ck… kapan yaa… hati saya bisa putih dan bersih tanpa dosa????.... (jangan mengejek saya ya…. Saya juga orang berdosa hihihihi…)

Tiba-tiba “Bapa tua” ini langsung bilang, “antar saya ke kamarnya yang sedang lumpuh”. Om menunjuk kamanya tanta, Segera saja “Bapa tua” ini masuk ke kamarnya tanta. Setan yang sedang berada di situ langsung kabur setelah melihat “Bapa tua” ini. Setelah dipegang kakinya tanta beberapa menit, “Bapa tua” ini menyuruh tanta berdiri. Tapi tanta bilang tidak bisa. “Bapa tua” ini bilang lagi, “tidak apa-apa, berdiri saja”. Tanta berdiri sambil terheran-heran. “Bapa tua” ini bilang lagi, “Jalan. Ayo jalan, tidak apa-apa. Jangan takut”. Tiba-tiba tanta berjalan menuju ke kamar tamu tempat kami duduk berkumpul. Semua yang hadir disitu terheran-heran.
Setelah semua berkumpul di kamar tamu dengan wajah penuh rasa syukur yang tak terkira, ku lihat om berlinang air mata. Rasa syukur pada Yang Maha Kuasa yang begitu mendalam.
Tapi kakak sepupu saya ini tidak langsung sembuh (Mungkin dalam hatinya kurang percaya atau masih ragu, makanya tidak langsung sembuh saat itu.Yang bersangkutan jangan marah ooo hehehehe… )

Siapa yang tidak percaya dengan segela pekerjaan Yang Maha Kuasa, maka semuanya akan sia-sia. Apakah Anda percaya dengan campur tangan Yang Maha Kuasa dalam hidup Anda? Saya pribadi selalu percaya. Karena jika Yang Maha Kuasa meninggalkan saya sedetik saja, maka jiwa ini akan terlepas dari badan. Itu pasti. Bersyukur dan berterima kasihlah pada Yang Empunya Jiwa-mu.

Setelah selesai mengobati tanta, “Bapa tua” ini minta diantarkan ke Tanah Merah. Adik sepupu laki-laki yang duduk di kamar belakang segera mengiyakan untuk mengantar. Mereka berdua segera menuju ke Tanah Merah dengan sepeda motor. Beberapa menit saja adik ini sudah pulang kembali. Semua terheran-heran. Semua bertanya dengan penuh takjub.

“Memangnya kamu terbangkah pergi-pulang ke Tanah Merah?” Saya sendiri dipenuhi rasa heran. Memangnya perjalanan dari Tenukiik-Tanah Merah cuma 2-3 menit saja? Yang benar saja aahhh….. hehehe…

Dan juga ada tetangganya tanta yang melihat mereka berdua pergi. Om yang melihat mereka pergi, datang melihat tanta (tadi juga saat masih ada “Bapa tua” itu disini, om ini juga berada bersama-sama dengan kami), tapi dia juga kaget melihat adik sepupu itu sudah kembali. Om itu terheran-heran sambil bertanya pada adik, “heee…. Kau sudah kembalikah? Memangnya kau terbangkah tadi?”

Hahahaha…. Memang kejadian yang mengherankan.  Itulah salah satu misteri Allah di depan mata saya.



Bersambung……


Post a Comment