Social Icons

31 August 2011

MISTERI KOTA REINHA (5)


MISTERI KOTA REINHA (5)


Hari ini Senin (25/7) saya berencana pergi membeli tiket bus ke Kupang. Saya masih singgah di rumahnya tanta di sudut jalan. Tanta bilang, “Kami juga mau ke Kupang hari Selasa (26/7) malam. Nanti saya pesankan tiket juga buat kamu. Begitulah kata tanta pada saya. Okelah kalau begitu, saya tak perlu capek-capek ke agen bus.

Tapi hati ini gelisahnya minta ampun. Siapakah yang telah mengambil sirih-pinang yang saya bawa dari Konga? Tak ada satupun yang mengambilnya. Aneh. Hati gelisah sehari penuh.

Esoknya, kurang lebih jam sembilan bersama ojek saya pergi ke rumahnya tanta Lusia Diaz. Sesampainya di sana ada juga om (adik dari tanta Lusia Diaz) duduk bersama tanta di kamar tamu. Saya cerita tentang sirih-pinang yang hilang. Om bilang, “Saya kenal dengan orang yang bisa bantu kamu”. Saya menjawab, “Kalau begitu tunggu sebentar, saya pergi mengambil motor”. Saya pulang ke rumah dan meminta motor yang dipakai adik saya ke rumah sakit.

Tapi anehnya, saat ke rumahnya tanta, saya mengikuti jalan yang lainnya. Bukan jalan yang pagi tadi saya lalui bersama ojek. Kalau jalur yang satu ini, saya harus melalui depan rumahnya om yang selalu mengantar “Bapa tua” yang dikasihi Tuhan. Tepat di depan rumahnya om, saya singgah sebentar. Setelah bercerita pada om tentang sirih-pinang, om bilang nanti saya telpon “Bapa tua”. Kau tunggu sebentar. Om meminta adik sepupu saya untuk menelpon “Bapa tua”. “Bapa tua” mengiyakan. Beliau akan datang. Tunggu disitu. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saya makan disitu. Selesai makan, om bilang, “Lebih baik kamu ke rumahnya tanta Lusia Diaz. Karena saya lagi kerja ini. Nanti kamu duduk sendirian saja”. Saya juga mengiyakan saja. Segera saya menuju ke rumahnya tanta.


Tiba di rumhanya tanta, om yang ada disitu pagi tadi telah pergi. Saya duduk sampai jam 3 sore. Hati ini gelisah minta ammpuuunnnnnnnnnnnnnn…….

Jujur saja, saat itu saya sudah nekad pergi ke rumahnya teman saat SMP dulu. Teman ini yang diperbicangkan pagi tadi bersama om. Jaket segera ku kenakan. Saat berdiri dari tempat duduk, ku dengar ada motor yang memasuki pekarangan rumah tanta. Kakak sepupu perempuan bilang, itu om sudah datang. Saya keluar dan menjumpai om.
Om bilang, “Itu sirih-pinang nenek di Konga yang ambil kembali karena kau tidak kasih pada yang lainnya.” Jujur saja, saya kaget sekali. Rupanya nenek di Konga marah pada saya. Hal sudah saya rasakan beberapa hari yang lalu.

Berarti “Bapa tua” itu sudah ada di rumahnya om. Om segera mengajak saya untuk bertemu dengan “Bapa tua”. Setiba di rumahnya om memang sudah ada “Bapa tua” ini. Setelah berbincang-bincang sejenak, “Bapa tua” mengusulkan agar saya bersama “Bapa tua” ke rumah saja.  Saya pun mengiyakan dengan penuh keyakinan akan “Kebesaran Yang Maha Kuasa”.  Segera saya bersama “Bapa tua” berangkat menuju ke rumah menggunakan sepeda motor milik bapak saya. Setiba di rumah ada tanta serta beberapa orang adik saya.

Kami masuk ke ruang tamu. Saya memanggil tanta serta adik bungsu saya. Kami bertiga duduk sambil bercerita. Lalu datang adik perempuan saya yang lainnya. Jadi kami ada empat orang.
“Bapa tua” bilang, “Sebentar ya… Saya mau cari tau di mana mereka tanam ilmu hitamnya”.
Di depan rumah, melintas si ‘pengikut setan’ itu. Rupanya dia juga sudah tau. Sama seperti ‘pengikut setan’ lainnya di rumahnya tanta pada hari Senin kemarin.

Selesai “Bapa tua” mencaritau, saya bilang kalau di kamar yang ini juga ada setannya (Sama seperti yang “Bapa tua” ini rasa saat beliau melintas di depan rumah). Karena Cici juga bilang begitu. Bahwa di kamar ini juga dia sering melihat setan perempuan berambut panjang selalu duduk di atas tempat tidur.

“Bapa tua” mencoba sekali lagi. Ternyata ilmu hitam tidak di tanam di kamar itu, melainkan di depan rumah dan di samping rumah. Saat “Bapa tua” mencoba kali ini, setannya melawan juga. Setannya mereka itu juga mengirimkan kekuatannya untuk melawan.

“Bapa tua” bilang, “Apakah kalian mau berbicara dengan arwah bapak kalian?”. Kami semua serempak menjawab, “Iya…mau”.

Lalu “Bapa tua” meminta bantuan “dari atas” (“Bapa tua” tidak menyebut nama siapa yang datang berbicara dengan beliau. Tapi saya yakin, “Bapa tua” pasti berbicara dengan Santa Maria Magdalena.) untuk memanggil bapak saya.

Lalu datanglah “dari atas” memberitau bahwa bapak saya tidak ditemukan.

“Bapa tua” bilang, “Tolonglah… anak-anak ini mau berbicara dengan bapak mereka. Mintalah bantuan Bunda Maria untuk cek di BUKU BESAR di Surga”.

Datang lagi “dari atas” bilang, “Namanya belum ada di BUKU BESAR dan juga tidak ada di API PENCUCI.”

“Bapa tua” meminta bantuan lagi “dari atas” untuk mencari di mana jiwa bapak saya berada. Kami duduk berbincang sejenak.

Tiba-tiba “dari atas” datang dan memberitau bahwa jiwa bapak ada di ........... dan sementara disiksa oleh setan.

“Bapa tua” meminta tolong lagi untuk membawa jiwa bapak saya ke sini. Cuma lima detik saja. “Dari atas” menjawab, “Tidak bisa”.

“Bapa tua” memohon lagi, “Mintalah bantuan Bunda Maria”.

Dari atas” menjawab, “Baiklah”.

Kami berempat bercerita lagi sambil menunggu. Sementara bercerita “Bapa tua” bilang, “Sudah datang”.

Tiba-tiba “Bapa tua” mengalami kerasukan. Jiwa bapak masuk ke dalam tubuh “Bapa tua” ini lalu berbicara kepada kami bertiga.

Bapak saya cuma berbicara sebentar tidak lebih dari 5 detik.

Inilah perkataan bapak saat itu:

“Bapak sekarang diikat di leher oleh tiga orang. Sekarang bapak tidak janji untuk kamu semua.”

Bapak mengatakan itu sambil menangis. Suara yang keluar juga adalah suara bapak saya. Ku lihat air mata keluar dari “Bapa tua” ini. Hati kami semua jadi sedih. Jiwa bapak pun segera kembali lagi ke ..........

Setelah jiwa bapak pergi, tanta meminta bantuan “Bapa tua” supaya dia juga bisa berbicara dengan suaminya (adik bungsu bapak saya). “Bapa tua” menanyakan nama lengkapnya om. Lalu “Bapa tua” meminta bantuan “dari atas”.  Datang lagi “dari atas” bilang, “Dia tidak bisa dipanggil/diganggu karna masih di API PENCUCI”.

Waduhhh…. Rupanya jiwa-jiwa di API PENCUCI tidak bisa diganggu oleh siapapun tanpa seijin dari YANG MAHA KUASA. Hal ini baru saya tau sekarang. Lalu “dari atas” bilang, “Dia bisa berjumpa dengan jiwa suaminya hanya nanti malam jam 12.00” tepat.
Tanta pun mengiyakan.

Dan baru ku tau sekarang, ke mana jiwa kita, jika mati sebelum saatnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Mengerikan dan menyedihkan…………..

Sebelum “Bapa tua” ku antar kembali ke rumahnya om, beliau berkata, “Janganlah sedih. Nanti saya akan meminta tolong pada Yang Maha Kuasa agar jiwa bapak dikeluarkan dari ............”.

Lalu ku antar bapak tua ke rumahnya om. Dalam perjalanan, hati ini sedih sekali.

Setiba di rumahnya om. Ke empat setan yang bersemayam di depan dan di samping rumah kami segera di tangkap (Bagaimana prosesnya menangkap setan ini tidak perlu saya ceritakan. Biarlah ini menjadi misteri Allah Bapa bagi orang-orang yang mengalami langsung seperti saya ini. Tapi hati ini takut juga, karena empat setan itu ada di depanku beberapa saat. Hiiiii…..

Selesai sudah. “Bapa tua” bilang pada saya, “Jangan kuatir lagi. Orang-orang itu tidak bisa lagi membuat kalian susah. Dan tidak bisa lagi membuat kalian mati karena ilmu hitam. Dan juga jangan takut pada bayangan manusia”.

Nahh…. Ini maksudnya dari bayangan manusia. Maksudnya “jangan takut pada orang-orang yang menjadi pengikut setan”.

Ada misteri lain yang tidak bisa saya ceritakan, karena saya begitu takutnya pada Allah Bapa Yang Maha Agung. Dan juga saya diminta untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Biarlah saya, om, tanta, adik sepupu (anaknya om), serta “Bapa tua” yang tau semua ini. Ini juga menjadi misteri besar ALLAH BAPA bagi saya pribadi.

Pada kesempatan ini, saya mengucapkan:

Terima Kasih kepada “ALLAH BAPA YANG MAHA AGUNG”, “BUNDA MARIA”, “SANTA MARIA MAGDALENA”, serta BAPA TUA yang telah membantu kami KELUARGA BESAR FERNANDEZ di Tenukiik – Atambua dari maut yang menghantui setiap saat.


Malam harinya Selasa (26/7), kami satu rombongan berangkat ke Kupang. Dan Rabu (27/7) saya dan Cici menuju pelabuhan Makassar bersama SIRIMAU. Dan sehat-sehat saja hingga hari ini Selasa (30/8).

Tentang MISTERI KOTA REINHA tidak jadi saya ungkapkan karena ada seorang bapak mengirim pesan melalui email (akun di Google) dan meminta agar saya tidak mengungkapkan semua misteri yang saya tau. Kata-katanya halus dan berwibawa. Bapak ini tidak memberitau namanya. Katanya dia punya akun di Facebook, tapi tidak berteman dengan saya di FB. Dia juga tidak mau memberitau nama akun FB-nya, dan alamat emailnya tidak berisikan nama sama sekali. Cuma angka-angka. Dia juga meminta untuk tidak memberikan alamat emailnya pada orang lain. Dia berjumpa dengan blog ini melalui Paman Google Search dengan kata kunci “KOTA RENYA”. Katanya dia selalu ikuti blog saya sejak tulisan yang pertama. Dia juga menyuruh saya untuk men-delete foto-foto artis yang ada di blog ini. Bapak ini juga bilang, seisi blog ini berdampingan antara “Surga” dan “neraka” hehehe….
Jadi bingung juga saya. Padahal saya mau mengungkapkan semua yang saya tau.

Jadi penasaran juga dengan bapak ini. Siapakah dia?

Setelah beberapa hari saya di Toraja, tiba-tiba ada berita yang sangat menggembirakan buat kami semua sekeluarga. Baik yang ada di Toraja maupun yang ada di Atambua.

Ternyata jiwa bapak saya sudah dibebaskan dari neraka oleh ALLAH BAPA YANG MAHA AGUNG.

TERIMA KASIH ALLAH BAPA YANG MAHA BAIK.

Ada juga berita lainnya yang tidak mau saya ceritakan karena ini bisa membuat kami menjadi sombong. Saya tidak mau berdosa karena sombong. Silahkan bertanya sendiri pada adik-adik saya, apakah itu?

Tanggal 15 Agustus 2011 menjadi hari yang sungguh-sungguh istimewa buat saya pribadi dan keluarga kami dari ALLAH BAPA YANG MAHA BAIK.

TERIMA KASIH UNTUK BUNDA MARIA ratu surga yang telah membantu kami khususnya bapak saya pada tanggal 15 Agustus 2011 kemarin. (tulisan ini saya selesaikan pada tanggal 30 Agustus 2011).

TERIMA KASIH JUGA BUAT santa MARIA magdalena yang selalu menyertai “BAPA TUA” untuk membantu orang-orang yang mengalami kesusahan di dunia yang fana ini.

Tapi sayangnya…’pengikut setan’ itu tidak mau bertobat juga. Padahal sudah 8 (delapan) keluarga kami yang dia buat susah hingga meninggal dunia. Hhmmmm…. Mungkin dia menunggu YANG MAHA KUASA murka atas dirinya barulah dia sadar.


Ingatlah…hai ‘pengikut setan’, masa Anda sudah berada di zona kritis. Ini pun saya tau kemarin 29/8 saat saya sendirian di rumah.


Mohon maaf jika ceritanya tidak sempurna dan bahasanya amburadul serta berakhir disini.

Bye…



Post a Comment