Social Icons

09 October 2013

IDENTITAS SEKOLAH KATOLIK

Tulisan ini saya cp saja langsung dari http://katolisitas.org

Prinsip pendidikan Katolik

Pihak Vatikan melalui Kongregasi untuk Pendidikan Katolik mengeluarkan suatu dokumen yang berjudul The Catholic School (Sekolah Katolik), klik di sini, yang menjabarkan tentang garis-garis besar sehubungan dengan pendidikan Katolik. Secara mendasar, ciri Katolik dari suatu sekolah Katolik nampak dalam konsep Kristiani tentang hidup yang terpusat pada Kristus.[1] Maksudnya adalah, Kristus menjadi pondasi dari kegiatan pendidikan di sekolah Katolik, dan Kristus memberikan arti yang baru bagi hidup dan membantu semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar untuk mengarahkan diri mereka kepada Kristus, sesuai ajaran Injil. Sekolah-sekolah Katolik mempunyai tugas untuk melengkapi pembentukan Kristiani dari para muridnya. Tugas ini menjadi penting dewasa ini, karena tugas pembentukan anak-anak tidak lagi dapat secara memadai diberikan oleh keluarga dan masyarakat.[2]
Maka Berikut ini adalah ciri-ciri khas sekolah Katolik, sebagaimana disebutkan oleh Tahta Suci[3], yaitu sekolah yang:
1. Diinspirasikan oleh visi adikodrati
2. Didirikan atas dasar antropologi Kristiani
3. Dihidupi oleh kesatuan persekutuan dan komunitas
4. Diresapi oleh pandangan Katolik di seluruh kurikulumnya
5. Didukung oleh kesaksian Injil
Paus Yohanes Paulus II di tahun 2004 pernah menyatakan bahwa adalah penting bahwa setiap institusi Katolik menjadi benar-benar Katolik, artinya semakin Katolik dalam pemahamannya dan semakin Katolik dalam identitasnya.[4] Maka sekolah-sekolah Katolik, yang mengemban tugas penting dalam mewujudkan misi Gereja untuk memperkenalkan Kristus kepada dunia dan untuk menyampaikan Terang Kristus kepada semua orang, juga perlu untuk menjadi semakin menyadari dan memahami identitasnya.

Mari sekarang kita melihat apa yang memberikan identitas Katolik kepada suatu sekolah:


1. Diinspirasikan oleh visi adikodrati

Gereja tidak menganggap pendidikan sebagai suatu proses yang berdiri sendiri terpisah dari perjalanan iman seseorang agar mencapai tujuan akhir hidup manusia, yaitu Surga. Dalam terang inilah, Gereja menganggap bahwa pendidikan adalah suatu proses yang membentuk pribadi seorang anak secara keseluruhan dan mengarahkan mata hatinya kepada Surga. Maka tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak-anak agar dapat menjadi warga yang baik bagi dunia, dengan mengasihi Tuhan dan sesamanya dan memperkaya masyarakat dengan ragi Injil, dan yang kelak akan menjadi warga Kerajaan Surga. Dengan demikian, tujuan pendidikan terarah kepada pembentukan anak-anak agar mereka dapat  memenuhi panggilan hidup mereka untuk menjadi orang-orang yang kudus, yaitu untuk menjadi seperti Kristus. Visi Kristiani ini harus dimiliki oleh seluruh komunitas sekolah, agar nilai-nilai Injil dapat diterapkan sebagai norma-norma pendidikan di sekolah.
Maka sebagaimana sering diajarkan oleh para Paus (Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan sekarang, Paus Fransiskus), adalah penting agar manusia di masa sekarang ini, diajarkan untuk menghargai martabat manusia, secara khusus dimensi rohaninya. Sebab dewasa ini terdapat kecenderungan banyak orang, baik pemerintah, atau mereka yang berkecimpung di dunia bisnis maupun media, yang menganggap pendidikan hanya sebagai sarana untuk memperoleh informasi yang dapat meningkatkan kesuksesan duniawi dan standar kehidupan yang lebih nyaman – itu saja. Nah, visi pendidikan yang sempit semacam ini, bukan visi pendidikan Katolik.
Kalau para pendidik, orang tua dan siapa saja yang mempersembahkan diri mereka dalam karya pendidikan Katolik itu gagal untuk memperhatikan visi adikodrati yang tinggi ini, yaitu untuk mengarahkan anak-anak didik mereka ke arah kekudusan, maka segala pembicaraan mereka tentang sekolah Katolik itu tidak lebih dari sekedar “gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Kor 13:1)
Di tengah-tengah tawaran berbagai tokoh idola, entah itu dari film kartun, bintang film Korea, atau dari permainan kartu dari Jepang, sekolah-sekolah Katolik perlu memperkenalkan kepada anak-anak figur para Santo dan Santa, yaitu para tokoh teladan dalam Gereja Katolik, yang dapat mendorong anak-anak untuk juga hidup seperti mereka. Sebab pada dasarnya kita semua dipanggil oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya, untuk mengenal, mengasihi dan melayani Dia, baik dalam kehidupan kita di dunia ini, maupun dalam kehidupan yang akan datang.
Secara khusus, dalam proses pendidikan di sekolah-sekolah Katolik, para murid perlu diajarkan untuk memilih dengan kesadaran dan kehendak yang bebas, untuk hidup sesuai dengan tuntunan ajaran imannya. Dalam suasana yang membangun iman ini, anak-anak dapat dibantu untuk menemukan panggilan hidupnya, sebab bukannya tidak mungkin, kehidupan panggilan hidup membiara dapat tumbuh sejak masa kanak-kanak dan remaja.

2. Didirikan atas dasar antropologi Kristiani

Penekanan kepada tujuan akhir kepada setiap anak didik, yaitu kepada kekudusan, akan mengakibatkan penghargaan yang mendalam akan kebutuhan untuk melengkapi anak-anak dalam segala segi, agar mereka semakin dapat bertumbuh sesuai dengan gambar dan rupa Tuhan (lih. Kej 1:26-27). Iman Katolik mengajarkan bahwa rahmat Allah menyempurnakan kodrat, “grace perfects nature“. Dalam hidup manusia ada kesatuan antara hal-hal yang sifatnya kodrati dan adikodrati. Maka penting bagi semua pendidik untuk mempunyai pemahaman akan kepribadian manusia yang utuh, baik ditinjau dari hal jasmani maupun rohani. Para pendidik perlu membentuk anak didik mereka agar mencapai kesempurnaan baik dari segi lahiriah maupun rohaniah.
Maka dalam proses pembentukan karakter anak di sekolah- yang melibatkan orang tua, guru, para staf pengajar, pengurus maupun komite- harus memahami apakah artinya manusia itu. Tentang hal ini Gereja mengajarkan:

2.1 Pendidikan Katolik berfokus kepada manusia secara keseluruhan

“Proses pendidikan ….. berfokus pada pribadi manusia dalam keseluruhannya, transenden, dalam identitas historisnya.  Dengan proyek pendidikan yang diinspirasikan oleh Injil, sekolah Katolik dipanggil menanggapi tantangan ini [yaitu kecenderungan anggapan bahwa pendidikan dikatakan harus terlepas dari agama], dengan keyakinan bahwa “hanya dalam misteri Sang Fiman yang menjadi manusia-lah, misteri manusia sungguh-sungguh menjadi jelas.”[5]
Selanjutnya, dalam dokumen yang berjudul “Sekolah Katolik” (The Catholic School) tersebut , Kongregasi Tahta Suci menyatakan:
“Karena itu, sekolah Katolik berkomitmen untuk perkembangan manusia seutuhnya, sebab di dalam Kristus, manusia yang sempurna, semua manusia menemukan kepenuhannya dan kesatuannya. Di sini terletak secara khusus sifat Katolik dari sekolah itu. Tugas sekolah Katolik untuk menumbuhkan nilai-nilai manusiawi… dalam kesesuaian dengan misi khususnya untuk melayani semua manusia, mempunyai asalnya dari figur Kristus. Ia adalah Seseorang yang menghormati manusia, memberikan makna bagi hidup manusia, dan adalah teladan yang ditawarkan oleh sekolah Katolik kepada para muridnya.[6]

2.2 Pendidikan Katolik menekankan hak-hak azasi manusia, martabat sebagai anak Tuhan, solidaritas dan kasih

“Dalam dunia yang beraneka ragam, para pendidik Katolik harus dengan sadar mendorong aktivitasnya dengan konsep Kristiani tentang pribadi manusia, dalam persatuan dengan Magisterium Gereja. Konsep itu termasuk konsep untuk mempertahankan hak-hak azasi manusia, tetapi juga menunjukkan bahwa pribadi manusia mempunyai martabat sebagai anak Tuhan. Konsep ini memberikan kemerdekaan yang sepenuhnya, [yaitu] dimerdekakan dari dosa oleh Kristus sendiri, melalui kasih. Konsep ini menghasilkan kepastian akan hubungan solidaritas di antara semua manusia; melalui sikap saling mengasihi dan komunitas gerejawi. Konsep ini mencanangkan pengembangan yang sepenuhnya dari semua yang bersifat manusiawi, sebab kita telah dijadikan penguasa dunia oleh Sang Penciptanya. Akhirnya, konsep ini memperkenalkan Kristus, Putera Allah yang menjelma dan Manusia yang sempurna, sebagai baik teladan maupun sarana. Bagi semua orang, meneladani Kristus adalah sumber yang tak pernah habis, untuk mencapai kesempurnaan pribadi maupun kesempurnaan kelompok.”[7]

2.3. Sekolah Katolik bertugas menyatukan para muridnya dengan Kristus

Maka Gereja menekankan bahwa sebuah sekolah layak disebut Katolik, jika sekolah itu, yang didirikan di atas dasar Kristus Yesus Sang Penebus, mempersatukan Kristus dengan setiap muridnya. Kristus bukan sesuatu yang ditambahkan kemudian atau sebagai faktor tambahan dalam filosofi pendidikan dan kegiatan belajar mengajar di sekolah, tetapi menjadi pusat dan tonggak penyangga dari keseluruhan kehidupan di sekolah, sebagai terang yang mencerahkan bagi setiap murid yang datang ke sekolah (lih. Yoh 1:19).
Maka Injil Kristus dan Pribadi Kristus, adalah Sumber inspirasi dan Pembimbing bagi sekolah Katolik dalam setiap segi: filosofi pendidikan, kurikulum, kehidupan komunitas, pemilihan guru dan bahkan lingkungan fisik sekolah. Supaya dalam segala yang ada di sekolah itu dapat mengarahkan siapapun kepada Kristus. Adalah tugas pendidikan Katolik untuk menyampaikan Kristus kepada setiap murid, dan membentuk mereka agar menjadi semakin menyerupai Kristus.

3. Dihidupi oleh kesatuan persekutuan dan komunitas

Penekanan akan aspek komunitas di sekolah Katolik mengambil dasar dari kodrat sosial dan pribadi manusia dan kenyataan Gereja sebagai rumah dan sekolah bagi persatuan. Bahwa sekolah Katolik adalah komunitas pendidikan adalah salah satu dari perkembangan-perkembangan yang memperkaya bagi sekolah di masa sekarang ini.

3.1. Sekolah Katolik sebagai suatu komunitas iman untuk mewujudkan nilai-nilai Kristiani

“Deklarasi Gravissimum educationis menyatakan kemajuan yang penting tentang citra sekolah Katolik: suatu peralihan dari sekolah sebagai sebuah lembaga, menuju sekolah sebagai suatu komunitas. Dimensi komunitas ini, mungkin adalah hasil dari kesadaran akan kodrat Gereja sebagaimana dinyatakan oleh Konsili (Vatikan II). Dalam teks-teks Konsili, dimensi komunitas secara mendasar adalah konsep teologis…. di mana Gereja digambarkan sebagai umat Tuhan…”[8]
Paus Paulus VI mengatakan bahwa sekolah-sekolah Katolik harus dilihat sebagai “tempat bertemunya semua orang yang berkehendak untuk mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam bidang pendidikan”.[9] Dengan demikian, sekolah adalah sebuah komunitas dari para pribadi, komunitas yang asli tentang iman. Kesadaran akan sekolah sebagai sebuah komunitas iman, akan mempengaruhi suasana yang harus diusahakan di sekolah.


3.2 Sekolah Katolik harus merupakan sekolah dengan atmosfir kekeluargaan

“… Sekolah-sekolah dasar harus berusaha untuk menciptakan iklim komunitas sekolah yang menghasilkan, sedapat mungkin, atmosfir kehidupan keluarga yang hangat dan akrab. Karena itu, mereka yang bertanggungjawab untuk sekolah-sekolah ini akan melakukan segalanya yang dapat mereka lakukan untuk meningkatkan semangat kebersamaan untuk saling percaya dan spontanitas. Tambahan lagi, mereka akan memperhatikan untuk mendorong kolaborasi yang dekat dan konstan dengan para orang tua murid. Integrasi antara sekolah dan rumah adalah keadaan yang esensial bagi lahirnya dan perkembangan semua potensi yang dapat dinyatakan oleh anak-anak ini…. termasuk keterbukaan mereka terhadap agama dan segala sesuatu yang menjadi konsekuensinya.”[10]

3.3. Sekolah Katolik harus melibatkan para orang tua dalam proses pendidikan

Dengan demikian, semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan harus bekerjasama sebagai satu tim: para guru, kepala sekolah, bersama para orang tua, demi kebaikan bersama dan hak mereka untuk terlibat dalam tugas tanggungjawab mereka sebagai pendidik. Tahta Suci mendorong keterlibatan yang sepantasnya dari para orang tua dalam sekolah-sekolah Katolik.[11] Para guru dan administrator sekolah harus lebih sering mendorong partisipasi orang tua. Kerjasama ini tidak saja untuk urusan masalah akademis anak-anak, dan turut memantau perkembangan mereka, namun juga untuk merencanakan dan mengevaluasi ke-efektifan misi sekolah tersebut.

3.4 Sekolah Katolik adalah sekolah yang menerapkan/ menekankan dialog yang wajar

Filosofi pendidikan Katolik selalu menekankan kepada hubungan timbal balik antara komunitas pendidikan di sekolah, secara khusus antara guru dan murid. Sebab di masa kanak-kanak dan remaja, seorang murid perlu mengalami adanya hubungan personal dengan para pendidiknya. Apa yang diajarkan oleh guru akan mempunyai efek yang lebih besar, ketika pengajaran itu ditempatkan dalam konteks keterlibatan pribadi, saling timbal balik yang tulus, sikap-sikap guru itu sendiri yang sesuai dengan apa yang diajarkannya, dan tingkah laku sehari-hari yang wajar. Maka kontak langsung dan personal antara para guru dan murid adalah suatu ciri khas sekolah Katolik. Demikian yang dikatakan dalam dokumen Kongregasi Pendidikan Katolik dari Vatikan:
“… Hubungan personal selalu berupa dialog dan bukan monolog, dan guru itu harus yakin bahwa hubungan sedemikian akan saling memperkaya. Tetapi misi tidak pernah boleh terlupakan: sang pendidik tidak dapat melupakan bahwa para murid memerlukan seorang pendamping dan pembimbing sepanjang waktu perkembangan mereka; mereka membutuhkan bantuan dari yang lain untuk mengalahkan keraguan dan kebingungan. Juga, hubungan dengan para murid harus merupakan gabungan antara hubungan yang dekat dan hubungan yang berjarak. Hubungan yang dekat membuat hubungan personal menjadi lebih mudah, tetapi jarak tertentu juga diperlukan. Para murid perlu belajar untuk mengekspresikan kepribadian mereka tanpa dikondisikan sebelumnya (pre-conditioned); mereka perlu dibebaskan dari rasa takut dihukum, dengan melaksanakan kebebasan mereka secara bertanggungjawab.”[12]
Sekolah Katolik, merupakan perlindungan bagi pribadi manusia, baik murid maupun guru. Mereka mengusahakan hubungan yang pantas di antara mereka dalam proses belajar mengajar. Dengan cara inilah proses pembentukan karakter murid dapat berjalan dengan baik, sebab dimulai melalui hubungan personal antara kedua belah pihak. Dengan penekanan akan hubungan personal antara mereka yang terlibat dalam pendidikan di sekolah, maka sekolah menjadi kelanjutan dari suasana kekeluargaan di rumah. Dan dengan menerapkan prinsip-prinsip iman Katolik dalam hubungan personal ini, maka lingkungan tersebut dapat dikenali sebagai lingkungan sekolah Katolik.

3.5. Sekolah Katolik adalah komunitas pendidikan yang bercirikan Katolik

Melalui Inkarnasi, Kristus Sang Putera Allah menjelma menjadi manusia, Sabda menjadi daging. Ia menjalani setiap jengkal kehidupan sebagai manusia, dan dengan demikian meninggalkan suatu ‘meterai’ dalam setiap aspek dalam kehidupan Kristiani yang kita alami di dunia ini. Maka Inkarnasi mengajarkan kepada kita bahwa dunia ini merupakan alat yang dipilih Tuhan, untuk menyampaikan kehidupan-Nya kepada kita. Maka apa yang bersifat manusiawi dan kelihatan dapat mengandung apa yang ilahi. Demikianlah, sekolah Katolik juga harus dapat menunjukkan kehidupan sakramental ini. Dalam sekolah Katolik, perlu ditampilkan secara fisik dan kelihatan, semua tanda-tanda tradisi Katolik, melalui gambar-gambar, tanda, simbol, ikon, dan berbagai macam devosi. Sebuah kapel, ruang kelas dengan crucifix, tanda-tanda, dan perayaan, serta segala yang menggambarkan kehidupan gerejawi, termasuk seni rupa yang baik, harus nampak di sekolah. Tanda-tanda ini mengingatkan semua anggota komunitas akan fokus utama kegiatan belajar dan mengajar di sekolah, yaitu agar bersama-sama mencapai kekudusan.
Ciri Katolik ini juga ditampakkan oleh komunitas yang bersama berdoa, membaca Sabda Tuhan, yang mengambil bagian di dalam liturgi dan sakramen. Setelah dikuatkan oleh Kristus yang hadir di dalam doa, firman, liturgi dan sakramen, semua anggota komunitas dapat berusaha untuk bersama menerapkan ajaran Kristus, dan dengan demikian menjadi para saksi iman. Dijiwai oleh ajaran iman inilah maka baik para guru maupun sesama murid berusaha untuk saling membantu. Maka ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kemajuan diri sendiri, tetapi untuk melayani dan saling bertanggungjawab satu sama lain.[13] Dalam komunitas ini, saling menghargai berarti melayani Kristus yang hadir di dalam sesama, sehingga segala sesuatu yang dilakukan di sekolah bertujuan untuk juga memajukan kebaikan bersama[14]

4. Diresapi oleh pandangan Katolik di seluruh kurikulumnya

Ciri ke-empat ini adalah ciri yang ditekankan oleh Tahta Suci.Pendidikan iman Katolik harus menjiwai keseluruhan kurikulum dan bukan hanya dibahas pada saat pelajaran agama atau kegiatan pastoral di sekolah. Gereja menganjurkan pendidikan yang menyeluruh, yang menanggapi semua kebutuhan pribadi manusia. Untuk itulah Gereja mendirikan sekolah-sekolah Katolik, sebab di sanalah tempat istimewa untuk membentuk keseluruhan manusia, baik itu dimensi intelektualnya, psikologis, moral maupun religius.
Agar maksud pendidikan secara keseluruhan ini, maka pendidikan di sekolah Katolik harus secara terus menerus mengambil kekuatannya dari Injil, yaitu dari teladan Kristus itu sendiri. Banyak orang menyangka bahwa identitas pendidikan Katolik terletak dari kualitas ajaran religiusnya, pelajaran agama dan aktivitas pastoral. Namun sebenarnya, sekolah Katolik itu disebut Katolik, bahkan di luar program ajaran religius. Ciri katolik-nya nampak dari keseluruhan upaya untuk mendidik muridnya secara keseluruhan, untuk mencapai kesempurnaannya secara kodrati maupun adikorati. Maka pendidikan tidak hanya mengejar kepandaian intelektual, tetapi juga kebajikan moral, untuk mempersiapkan para murid kepada kehidupan yang penuh untuk melayani sesama, dan untuk kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.
Memang pihak Vatikan tidak menentukan dokumen yang menyebutkan tentang “lesson planning” atau berbagai mata pelajaran yang disarankan, ataupun metodologi yang diterapkan. Namun Tahta Suci memberikan prinsip dan tolok ukur yang mendorong penentuan isi kurikulum, agar para murid dapat diarahkan kepada pendidikan yang menyeluruh. Berikut ini adalah aspek yang penting, yaitu: 1) prinsip kebenaran dan 2) integrasi antara iman, kebudayaan dan kehidupan.

4.1 Mencari Kebijaksanaan dan Kebenaran

Sekolah Katolik perlu mengupayakan agar tidak hanya menyampaikan informasi kepada para murid yang pasif. Para pendidik perlu mengajarkan kebijaksanaan, mendorong para murid untuk bersikap aktif, mempunyai hasrat untuk belajar sehingga mereka menemukan suka cita dalam proses belajar, mereka menjadi ‘senang belajar’.
Dalam proses belajar mencari kebijaksanaan, Gereja mengajarkan bahwa manusia, walaupun terbatas dalam banyak hal, tetap mempunyai kapasitas untuk sampai kepada pengetahuan akan kebenaran. Keyakinan akan kebenaran ini sangatlah penting untuk ditekankan di sekolah. Tidak seperti orang-orang yang skeptik dan relativistik, para pendidik Katolik perlu menyampaikan tentang keyakinan akan kebenaran: yaitu bahwa kita -walaupun secara terbatas namun tetap nyata- dapat mengejar, mencapai dan menyampaikan kebenaran. Sekolah Katolik mengemban tugas yang penting untuk membebaskan para muridnya dari akibat-akibat yang membahayakan terhadap apa yang disebut oleh Paus Benediktus XVI sebagai “dictatorship of relativism” (pemaksaan paham relativisme), sebuah pemaksaan yang melumpuhkan hakekat pendidikan yang murni. Maka para pendidik juga perlu memiliki di dalam diri mereka sendiri, dan mendorong para muridnya untuk mencari kebenaran, yang mengalahkan paham relativisme dalam hal moral maupun budaya. Anak-anak harus dididik di dalam kebenaran, sehingga mereka mampu membuat keputusan yang benar dan bijaksana, meskipun di sekeliling mereka melakukan hal yang keliru secara moral, menurut ajaran Injil Kristus.
Pendidikan Katolik menganggap ilmu pengetahuan sebagai kebenaran untuk ditemukan. Penemuan dan kesadaran akan kebenaran memimpin manusia kepada penemuan akan Sang Kebenaran, itu sendiri. Maka walaupun sekolah-sekolah Katolik menyampaikan kurikulum yang disyaratkan, namun mereka mengimplementasikannya dengan keseluruhan perspektif religius. Perspektif ini termasuk kriteria seperti keyakinan akan kemampuan kita mencapai kebenaran, walau dalam cara yang terbatas- keyakinan yang berdasar akan iman dan bukan atas dasar perasaan, dan kemampuan untuk membuat penilaian akan sesuatu yang benar, dan sesuatu yang salah. Keyakinan semacam ini harus ada dalam sekolah-sekolah Katolik.

4.2. Integrasi iman, budaya dan kehidupan

Prinsip penting yang kedua, yang berlangsung sejak zaman para rasul sampai sekarang adalah bahwa umat beriman harus berperan dalam mengubah budaya dalam terang Injil. Sekolah-sekolah harus mempersiapkan para murid untuk menghubungkan iman Katolik dengan budaya mereka dan untuk menghidupi imannya itu dalam perbuatan.
“Dari hakekat sekolah Katolik, juga memancar satu dari elemen-elemen yang paling penting untuk proyek pendidikannya: sintesis antara budaya dan iman. Sungguh, pengetahuan yang diletakkan di dalam konteks iman menjadi kebijaksanaan dan visi kehidupan. Usaha untuk menggabungkan akal budi dan iman, yang telah menjadi inti dari setiap mata pelajaran, menciptakan persatuan, artikulasi dan koordinasi, yang menghasilkan dalam apa yang dipelajari di sekolah, sebuah visi Kristiani tentang dunia, kehidupan, budaya dan sejarah. Dalam proyek pendidikan di sekolah Katolik, tidak ada pemisahan antara waktu belajar dan waktu membentuk karakter, antara mendapatkan pengetahuan dan bertumbuh dalam kebijaksanaan. Berbagai mata pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai untuk diperoleh dan kebenaran-kebenaran untuk ditemukan. Semua ini menuntut atmosfir yang ditandai dengan pencarian kebenaran, yang di dalamnya para pendidik yang kompeten, yakin dan koheren, para guru pelajaran dan guru kehidupan, menjadi cerminan, walaupun tidak sempurna, namun tetap jelas, dari Sang Guru yang satu. Dalam perspektif ini, dalam proyek pendidikan Kristiani, semua tokoh yang bekerjasama, masing-masing menurut bagiannya yang khusus, untuk pembentukan pribadi-pribadi yang dewasa”[15]
Sekolah-sekolah membentuk para murid, di dalam budaya mereka di mana mereka mengajarkan penghargaan akan elemen-elemen positifnya dan berusaha membantu mereka untuk memajukan selanjutnya inkulturasi Injil di dalam keadaan mereka sendiri. Namun demikian, mereka, selayaknya menurut umur para murid, menjadi kristis dan evaluatif. Iman dan budaya secara erat berhubungan, dan para murid harus diarahkan, denga cara yang cocok/ sesuai dengan perkembangan tingkat intelektualnya, untuk menangkap pentingnya hubungan ini. Kita harus selalu mengingat bahwa iman tidak untuk diidentifikasikan dengan budaya apapun, dan iman harus tidak tergantung oleh semua budaya, tetapi iman harus menginspirasikan setiap budaya.
Maka sekolah Katolik menjadi tempat di mana terdapat keharmonisan iman, budaya dan kehidupan. Yang menjadi pusat dalam sekolah Katolik adalah misinya akan kekudusan, untuk menjadikan para muridnya sebagai orang-orang yang kudus. Sekolah Katolik bertujuan membentuk para muridnya dalam kebajikan-kebajikan yang memampukan mereka hidup di dalam Kristus dan membantu mereka untuk memainkan peran mereka untuk membangun Kerajaan Allah, sesuai dengan tanggung jawab yang mereka terima melalui Sakramen Baptis.
Di samping pentingnya penerapan prinsip pendidikan Katolik di seluruh kurikulum secara terintegrasi, adalah penting dan mendasar bagi sekolah Katolik untuk memberikan ajaran agama dengan baik. Pendidikan iman merupakan bagian yang penting dan menentukan baik tidaknya sekolah Katolik. Bagi anak-anak, ajaran ini merupakan pengetahuan iman namun juga penerapannya dalam kehidupan. Namun sekali lagi, pendidikan agama bukan hanya satu-satunya yang menentukan ciri sekolah Katolik. Pandangan yang hanya membatasi pendidikan iman Katolik dengan pelajaran agama Katolik, menyuburkan kesalahpahaman bahwa iman dan kehidupan sehari-hari merupakan sesuatu yang terpisah, dan bahwa agama hanya merupakan urusan pribadi pada waktu-waktu tertentu saja, yang tidak memberikan kewajiban moral yang terus berlaku di dalam kehidupan sehari-hari.

5. Didukung oleh kesaksian Injil

Akhirnya, identitas sekolah Katolik ditentukan juga oleh peran yang vital/ sangat penting dari para gurunya. Pada pundak mereka, baik secara pribadi maupun bersama-sama, terletak tanggungjawab untuk menciptakan iklim sekolah Kristiani. Maka Tahta Suci menekankan bahwa panggilan sebagai guru adalah suatu panggilan, bukan hanya sekedar profesi atau pekerjaan. Sebab dengan melakukan panggilan ini, seorang guru mengambil bagian dalam misi Gereja untuk mendidik generasi penerusnya.
Dengan kata lain, mereka yang Katolik dan terlibat di dalam sekolah-sekolah Katolik, harus menghayati pekerjaannya sebagai pemenuhan panggilan hidupnya. Berikut ini adalah beberapa ciri yang semestinya dimiliki oleh seorang guru di sekolah Katolik:

5.1. Seorang Katolik yang melaksanakan imannya, yang mempunyai ketaatan kepada Gereja dan menghidupi kehidupan sakramental Gereja.

Guru-guru yang mempunyai pemahaman yang jelas dan tepat tentang hakekat dan peran pendidikan Katolik, sangatlah diperlukan. Maka pemilihan guru-guru Katolik dengan cermat juga akan memajukan katolisitas sekolah tersebut. Guru-guru Katolik yang mengenali imannya dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka, merupakan saksi iman yang diperlukan oleh Gereja untuk pendidikan Katolik.
Kesetiaan terhadap maksud pendidikan sekolah-sekolah Katolik mensyaratkan sikap yang kritis dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, agar terus memeriksa diri, kembali ke prinsip-prinsip dasar dan kepada hal-hal yang mendorong keterlibatan Gereja dalam hal pendidikan.[16] Artinya, agar seseorang dapat menjadi seorang guru yang baik di sekolah Katolik, ia pertama-tama harus mempunyai visi rohani, yang mampu melihat tugas-tugasnya sebagai guru adalah jalan yang dipilihnya untuk melaksanakan imannya, dalam kesatuan dengan Gereja untuk memperkenalkan Kristus kepada anak-anak didiknya dan mengarahkan anak-anak didiknya kepada Kristus.

5.2. Seorang yang dapat menjadi teladan dalam hal iman, kebajikan dan kasih

Untuk memajukan pandangan Katolik di seluruh kurikulum, bahkan dalam mata pelajaran yang sekuler, maka teladan para guru dan para pendidik menjadi sangat penting. Kesaksian iman para pendidik di komunitas sekolah memainkan peran yang sangat vital bagi identitas sekolah. Anak-anak lebih cepat meniru dari teladan, daripada dari teknik-teknik yang diajarkan, terutama dalam mempraktekkan kebajikan Kristiani. Para pendidik diharapkan menjadi teladan bagi para murid dengan menjadi saksi Injil. Maka benarlah perkataan Paus Paulus VI, “Orang modern lebih mau mendengarkan para saksi iman daripada para pengajar, dan jika mereka mendengarkan para pengajar, itu disebabkan karena mereka adalah para saksi iman.”[17] Dalam pendidikan Katolik, pesan Kristiani yang disampaikan tidak tergantung dari mata pelajaran atau metodologi yang dipergunakan, tetapi oleh para guru itu sendiri, yaitu bagaimana di dalam diri mereka para murid dapat melihat bagaimana ajaran iman diterapkan dan menjadi satu dengan kehidupan sehari-hari.[18]
Jadi apa yang dilakukan oleh para guru dan bagaimana mereka bertindak menjadi sangat penting daripada apa yang mereka katakan, baik di luar maupun di dalam kelas. Demikianlah caranya Gereja melakukan evangelisasi. Semakin sempurnanya seorang pendidik dapat memberikan kesaksian yang nyata tentang teladan Kristus kepada para muridnya, semakin contoh ideal ini dipercaya dan ditiru. Maka, jika para guru gagal untuk menjadi teladan kesetiaan kepada kebenaran dan kebajikan, bahkan kurikulum yang terbaik sekalipun tidak akan dapat menghasilkan ethos yang baik bagi sekolah Katolik tersebut.

5.3. Seseorang yang menjalankan semangat Injil: berpihak kepada yang lemah


Sesuai dengan semangat Injil untuk berpihak kepada yang lemah dan miskin, sekolah-sekolah Katolik juga dipanggil untuk mengambil bagian dalam semangat ini, yang perlu nampak pula dalam sikap para gurunya. Seorang guru yang baik tidak memusatkan perhatian hanya kepada anak-anak yang pandai, tetapi justru kepada anak-anak yang kurang pandai, yang bermasalah di sekolah, karena kurang mendapat perhatian dan kasih dari keluarganya, atau mereka yang jauh dari imannya.[19] Sejujurnya, peran para guru sangatlah besar untuk mendukung mereka yang lemah ini, dan bahkan berperan untuk mengubah sikap dan karakter anak-anak yang sedemikian agar mereka kembali mempunyai rasa percaya diri, mempunyai semangat belajar, dan bersikap positif menghadapi kehidupan. Anak-anak seperti ini, yang oleh pertolongan gurunya dapat mengejar ketinggalannya dan meraih prestasi, tidak akan pernah melupakan pengorbanan gurunya seumur hidupnya. Demikian juga, adalah suatu suka cita yang besar di pihak sang guru, karena dengan bertindak demikian, ia sungguh telah mengambil bagian dalam menampakkan kasih Kristus, yang selalu memihak kepada yang lemah dan miskin.

5.4. Seseorang yang menjalankan tugas panggilan sebagai guru dengan suka cita!

Injil adalah Kabar Gembira, maka adalah wajar bahwa tugas mewartakan Injil selayaknya dilakukan dengan gembira. Kristuslah sumber suka cita kita, Dia-lah yang menyertai dan mengerjakan di dalam kita, pekerjaan-Nya untuk membimbing anak-anak didik kita. Rasul Paulus mengajarkan: “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu bagik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia…. Dan kamu juga harus bersukacita…“ (Flp 2:14-15,18)
Marilah kita melakukan tugas panggilan kita dengan suka cita, agar kita dapat meneruskan terang Kristus kepada dunia di sekitar kita.

Kesimpulan

Tahta Suci melihat bahwa sekolah-sekolah Katolik merupakan sarana yang tak tergantikan untuk melanjutkan misi Gereja di milenium yang ketiga ini. Adalah tantangan Gereja untuk menentukan identitas Katolik dalam sekolah-sekolah ini. Sekolah-sekolah Katolik dapat berperan membantu peran para orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Sekolah-sekolah ini harus terbuka untuk semua, untuk membangun komunitas umat beriman, untuk meng-evangelisasi budaya dan melayani kepentingan bersama dalam masyarakat.
Anak-anak perlu diajarkan untuk mengenali keberadaan dan kebesaran Tuhan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Kesadaran ini akan membentuk karakter anak sebagai seorang yang menghargai kebaikan Tuhan dan campur tangan-Nya mengatur dan menyelenggarakan kehidupan mahluk ciptaan-Nya, sehingga kelak mereka akan terdorong untuk melestarikannya, ataupun menyikapinya dengan penuh tanggungjawab demi kesejahteraan manusia dan seluruh mahluk ciptaan lainnya. Akhirnya,  kesadaran akan kebaikan dan kasih Tuhan ini mendorong anak-anak untuk membalas kasih Tuhan dan mengasihi sesama. Dengan hidup dalam kasih yang dijiwai oleh iman inilah, anak-anak mengarahkan hati mereka kepada tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu Sorga.

 

CATATAN KAKI:
  1. Sacred Congregation for Catholic Education, The Catholic School, 10 []
  2. Lih. The Catholic School, 12 []
  3. lih. Archbishop J. Michael Miller CSB, The Holy See’s Teaching on Catholic Schools []
  4. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan para Uskup Amerika dalam kunjungan ad limina, di tahun 2004 []
  5. Sacred Congregation for Catholic Education, The Catholic School, 10 []
  6. Sacred Congregation for Catholic Education, The Catholic School, 35 []
  7. The Sacred Congregation for Catholic Education, Lay Catholics in Schools: Witnesses to Faith, 18 []
  8. Congregation for Catholic Education, Religious Dimension of Education in a Catholic School, Guidelines for Reflection and Renewal, 31 []
  9. Pope Paul VI, Allocution to the 9th Congress of the OIEC in, L’Osservatore Romano, June 9, 1974 []
  10. Religious Dimension of Education in a Catholic School, 40 []
  11. lih. The Catholic School, 21 []
  12. The Sacred Congregation for Catholic Education, Lay Catholics in Schools: Witnesses to Faith, 33 []
  13. lih. The Catholic School, 14 []
  14. lih. The Catholic School, 16 []
  15. Congregation for Catholic Education, The Catholic School on the Threshold of the Third Millennium, 14 []
  16. The Catholic Church, 18 []
  17. Paus Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 41 []
  18. lih. The Catholic School, 11 []
  19. lih. Konsili Vatikan II, Gravissimum Educationis, 8 []

Sumber : http://katolisitas.org/11664/apakah-sekolah-katolik-sungguh-katolik
Post a Comment