Social Icons

09 October 2013

DI ATAS KERIKIL

Saya teringat kembali pada kejadian sore itu di rumahnya teman saat saya berkunjung ke sana.

Pulang kerja seperti hari-hari biasanya. Tiba di rumah, merpati kecilku sudah menyiapkan makan siang buatku. Selesai makan, merpati minta izin untuk bermain Counter Strike di laptop. Tepat jam 15.00 kami berdua melakukan aktifitas yang biasanya dilakukan oleh orang Katolik. "KERAHIMAN ILAHI". Setelah selesai, merpatiku minta izin untuk ikut acara ulang tahun saudaranya. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Saya sendiri ke Rantepao untuk membeli obat dan vitamin. Tapi saya masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah teman. Di rumah teman, kami bercerita tentang beberapa hal. Ada beberapa anak kecil bermain di situ. Kami membicarakan tentang sakit yang dialami oleh teman ini. Dia sakit pada bagian punggung belakang sebelah kanan. Sudah ke dokter penyakit dalam. Kata dokter dia kekurangan oil (Saya juga tidak tau oil yang dimaksudkan oleh dokter itu. Dalam hati saya berkata, kenapa tidak minta saja oil dari istrimu ya??? hahahaha).
Tiba-tiba teman (pak "D") bilang, "Sssttt...tunggu sebentar. Sepertinya ada suara yang saya kenal di belakang rumah." Sayapun diam. Teman berdiri dan berjalan menuju ke belakang rumah. Beberapa menit kemudian teman datang dan memberitau bahwa ada beberapa anak kecil (ponakan dari teman ini) sedang bermain di kebun coklat (Kebun coklat milik orang lain. Yang punya tanah itu). Kata teman, "Itu anak-anak nakal sekali. Coba kau lihat, sekarang mereka petik coklatnya orang lagi". Saya cuma tersenyum saja mendengar itu. Dalam hati saya bergumam sendiri, namanya juga anak-anak. Pasti nakal.
Tak lama kemudian muncullah pak "P" dari jalanan bawah dengan diikuti oleh anak-anak itu. Anak-anak itu dipukuli tangannya oleh pak "P" sampai menangis. Dalam hatiku saya cuma berkata, 'tidak apa-apa. itu juga termasuk sebuah ajaran buat anak-anak itu agar lain kali tidak melakukan hal-hal yang sangat merugikan orang lain. Agar anak-anak itu tau bahwa yang mereka lakukan itu tidak baik.'
Jam menunjukkan pukul 17.-- lebih. Saya pun pamit hendak ke Apotik/Toko Obat di Rantepao. Tapi saya dipersilahkan minum teh dulu. Kami beramai-ramai minum kopi-teh sore.
Asyik minum....kedua anak kecil yang nakal tadi dipanggil masuk oleh bapa "S". Kedua anak itu disuruh berlutut dan bapa "S" pun keluar sebentar lalu masuk lagi dengan membawa kerikil-kerikil di tangannya. Kerikil-kerikil itu ditabur dibawah lantai. Kedua anak nakal itu disuruh berlutut diatas kerikil-kerikil itu. Baru beberapa menit, sudah ku lihat anak yang satunya mulai tidak tahan. Dia pun agak sedikit menjongkok, tapi dibentak dan disuruh berlutut yang lurus dan baik. Kasihan juga saya melihatnya...

Tak lama berselang, anak yang satu disuruh berdiri karena tidak pernah berjongkok. Yang satunya tetap berlutut sambil berjongkok.
Akhirnya...karena kasihan, saya langsung menggendong anak yang satu ini dalam pangkuan. Anak ini langsung menangis keras karena merasa ada yang membela dia menyayangi dia dalam keadaan seperti ini. Saya yakin, peristiwa ini akan tetap membekas seumur hidup dalam hatinya....

BERLUTUT.... sebuah hukuman yang baik??? Anak seusia ini harus menjalani hukuman berlutut di atas kerikil??? Kasihan bangeeettt....

 



Post a Comment