Social Icons

27 February 2011

TANTANGAN PENDIDIKAN DEWASA INI

Sekolah adalah potret kecil dari masyarakatnya, tetapi dalam konteks masyarakat yang sudah global lalu potret macam apa yang harus tergambar dalam sebuah lembaga pendidikan?  Itulah pertanyaan yang tidak ada habis-habisnya dari banyak pemerhati dan praksis pendidikan di tengah-tengah iklim kompetisi yang semakin sengit.

Realitas itu sudah tidak bisa terbantahkan lagi. Globalisasi telah menerjang sekat-sekat teritorial, wilayah negara, hingga benua. Dampaknya, banyak nilai-nilai mapan yang selama ini menjadi referensi tindak-tanduk masyarakatnya, tergerus oleh banjir nilai baru yang diimpor apa adanya bak benda mulia.


Ditegaskan, hakekat globalisasi dunia adalah mengemukakannya realitas penghuni bumi ini yang plural, saling tergantung, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya tanpa adanya batas-batas wilayah lagi. Oleh karena itu, tugas lembaga pendidikan yang utama dalam iklim global ini adalah membantu para peserta didik agar menyadari sebagai warga global.

Agar warga masyarakat tidak jatuh menjadi korban globalisasi-khususnya informasi, maka ia harus dibantu agar mempunyai seperangkat kemampuan untuk memilih dan memilah informasi, mana yang perlu dan tidak perlu, mana yang baik dan mana yang tidak bagi dirinya maupun juga bagi masyarakat.

Dalam konteks globalisasi, seorang peserta didik perlu dibantu untuk membangun kesadaran diri bahwa sebagai individu warga dunia, segala perilakunya berdampak pada orang lain dan masyarakatnya, oleh karenanya kepedulian terhadap dampak perbuatannya terhadap orang lain dan warga masyarakat, merupakan keharusan. Contoh mudah adalah kebiasaan buang sampah sembarangan, kebiasaan pemborosan energy, kebiasaan tidak peduli terhadap lingkungan dsbnya, harus disadarkan pada konsekuensi yang ditimbulkannya yang bisa mengglobal. Persoalan lingkungan hidup bukan hanya persoalan orang perorangan melainkan persoalan seluruh warga dunia.

Di dalam pembelajaran yang mempertimbangkan aspek globalisasi, peserta didik harus dibantu melalui tindakan-tindakan kecil  yang dilakukan di lingkungan rumah, sekolah, jalan raya, dan lingkungan sekitarnya bisa membantu masalah global. Dengan pola hidup berhemat energy ternyata akan berkontribusi mengurangi proses percepatan pemanasan global. Lebih tepatnya peserta didik telah mempunyai wawasan global dengan melakukan tindakan-tindakan kecil di lingkungan sekitarnya.

Think Globally Act Locally
Mengembangkan pola pikir think globally act locally di sekolah tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses sosialisasi dan akhirnya harus menginternalisasi dalam nilai-nilai pribadi masing-masing peserta didik membutuhkan proses panjang. Ini menjadi tantangan tidak ringan para guru.

Pasalnya, para guru sendiri harus lebih dahulu melakukannya untuk menjadi teladan atau contoh sebelum meminta kepada anak didiknya untuk melakukannya.

Apalagi menyangkut Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), banyak di lingkungan guru sendiri khususnya yang sudah berumur, banyak yang mengidap penyakit gagap teknologi (gaptek), sementara bagi anak yang dilahirkan pada abad 21 ini segala sesuatu yang berbau teknologi informasi telah menjadi makanan sehari-hari.

Pendidikan Berwawasan Global
Pendidikan berwawasan global sering ditafsirkan tidak tepat oleh banyak kalangan. Orang berpikir sebuah sekolah sudah mengembangkan wawasan global bagi peserta didiknya jika telah memenuhi perangkat TIK di sekolahnya. Akhirnya karena pemahaman wawasan global pada pemenuhan perangkat TIK lalu muncul pola latah jor-joran seluruh perangkat yang berbau TIK.

Pemasangan perangkat TIK di sekolah seharusnya didasarkan pada alasan utama meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan ini mau dicapai melalui penggunaan metode yang lebih interaktif yang memanfaatkan berbagai alat inderawi manusia, dan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang lebih  lengkap-yang tersedia dengan melimpah di jaringan internet.

Pembelajaran dengan mengintegrasikan TIK perlu dilakukan dengan kajian mendalam dan rancangan secara sangat cermat soal bagaimana peserta didik belajar ketika kepadanya disajikan informasi dan tantangan belajar dengan berbagai media dan bimbingan seperti apa yang harus diberikan oleh guru agar peserta didik sungguh belajar. Bila tidak, maka metode pembelajaran tetap saja terperangkap pada pemberian informasi satu arah “dari guru kepada siswa”, hanya bedanya sekarang menggunakan alat-alat yang canggih dan mahal. Maka sekolah-sekolah yang memiliki komitmen untuk memanfaatkan TIK secara optimal dalam pembelajarannya perlu tekun mendalami, mencoba, dan mengembangkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan teknologi yang digunakan.

Kegagalan dalam memanfaatkan TIK sebagai sumber belajar dan media pembelajaran tidak sedikit, malahan melahirkan masalah baru. Sudah banyak kasus perihal tidak efektifnya pemanfaatan TIK yang terjadi di lingkungan masyarakat luas yakni penyalahgunaan TIK-internet yang seharusnya menjadi sumber belajar yang mendukung pendidikan, justru menjerumuskan pada perilaku amoral atau kejahatan yang berujung pada tindak pidana. Hal yang paling sederhana adalah soal penghargaan hak cipta terhadap bahan-bahan yang tersedia di internet.

---ooOoo---
Post a Comment