Social Icons

25 February 2011

"KURINDU DEKAPAN KASIH-MU"

Sabtu, 26 Februari 2011
Mrk 10: 13-16


“Jika engkau sungguh memaafkanku, 
jangan cuma katakan bahwa aku telah memaafkanmu, tapi datanglah, 
peluklah aku, dan aku akan tahu bahwa engkaulah saudaraku.”


Mendekap/memeluk seseorang bukan saja menjadi tanda kedekatan, tapi lebihnya adalah ungkapan cinta yang berwujud (kecuali rekayasa dalam film mafia cina...hehehe). Memeluk erat seseorang memberikan suasana kehangatan, menyalurkan energi cinta untuk saling merasakan betapa cinta itu menjadi sebuah pengalaman nyata, dan bukan hanya sebatas kata yang terucap di bibir. Setiap orang boleh menilai dirinya sendiri ketika membuat sebuah pelukan atau dipeluk oleh seorang yang dicintainya.
Ulasan Injil hari ini mengisahkan sebuah pengalaman indah anak-anak yang dipeluk dan diberkati oleh Yesus. Dalam salah tatap muka paus Benediktus XIV di Vatikan beberapa bulan yang lau, tiba-tiba seorang bocah berlari dari tempat duduknya, melintasi para pendengar dan mendapati sang papa yang duduk di kursi pengajarannya. Mata para cardinal cuma memandang haru, kaki para pengawal paus tak bisa bergerak mencegahnya. Semua seakan terpaku menatap sang bocah yang mencari dekapan sang gembalanya, sang ayah. Sang bocah lalu tersungkur dengan kedua lututnya yang mungil di hadapan sang papa. Mata si anak bertemu tatap kasih sang papa. Hati anak – papa terpaut dalam gelora cinta yang membara, dan kehangatkan kasih sungguh membuat semua yang ada di ruangan itu diam terpaku memadang apa yang sementara terjadi antara sang papa dan anaknya. Dengan kedua tangan mungil di dada sebagai tanda berdoa dan memohon, pandangan mata polos sedikit ternganga kepada wajah sang ayah, si anak mengharapkan sesuatu. Kata tak mampu melukiskan, hanya perbuatan yang menjadi bahasa komunikasi antara papa dan anak. Sang papa, lalu mengangkat tangan kanannya, memberkati si anak dengan tanda salib; Bapa, Putra dan Roh Kudus, sementara si anak terpaku dalam tatapan kemesraan mengikuti ayunan tangan sang papa. Tangan sang papa kemudian menyatuh dan memeluk erat si anak, dan tiba-tiba gemuruh tepukan tangan semua hadirin membahana mengiringi ayunan langkah si anak yang berlari kecil meninggalkan tahkta sang papa.
  
Jika hari ini kita mendengarkan cerita Injil tentang datangnya beberapa ibu yang membawa anak-anak mereka untuk diberkati oleh Sang Guru, maka ingatan kita akan syarat-syarat masuk Kerajaan Allah mulai terbentang di dalam hati dan pikiran kita. Betapa tidak, beberapa sabda Sang Guru selalu menekankan pentingnya mendapatkan kepolosan jiwa sang anak, dan inilah syarat memiliki Kerajaan Allah. Jiwa polos anak akan selalu merasakan kedamaian ketika berhadapan dengan orang dewasa yang jujur dan kudus. st. Fransiskus Asisi menjadi contoh indah untuk menguji seberapa dalamnya kekudusan dan kejujuran hati kita saat ini; Ia bukan hanya menjadi sahabat anak-anak polos, tapi bahkan sampai burung-burung di udara, binatang di darat, serta ikan di laut yang disapanya sebagai saudara pun menyambutnya. Demikian pun matahari pun berhenti, bulan dan bintang ikut menari mengiringi langkah St. Fransiskus Asisi sepanjang hidupnya. Karena itu, terasa aneh dan perlu pembuktian lagi, tapi bila Anda ingin tahu seberapa besar kekudusan dan kejujuran hatimu maka ujilah di hadapan seorang bocah. Berhadapan dengan mereka, tanpa kata ajakan pun jiwa polos akan menemukan jodohnya di hatimu dan mereka akan berlari padamu untuk merasakan pelukan hangatmu, jika memang kejujuran dan kekudusan sedang bersemi di dalam jiwamu. Sebaliknya, jika anak takut dan berlari darimu, maka bukan masalah benar atau salahnya teori ini tapi baiklah Anda bermenung diri. Siapa tahu Tuhan mengingatkanmu lewat pengalaman penolakan sang anak terhadapmu untuk belajar memperbaiki sifat dan tingka laku. Mungkin ini lebih sebagai sebuah dugaan tapi tidak salah kalau Anda mencobanya hari ini.
  
Karena itu, biarlah di akhir pekan ini, kita datang dan memohon kepada Sang Khalik; Biarlah aku Kauizinkan merasakan dekapan hangat kasih-Mu. Buatlah aku agar mampu memberi kehangatan yang sama, yang mengalir dari hati dan jiwa-Mu kepada mereka yang berada di sekitarku hari ini, di kantor, komunitas dan mereka yang ada di rumahku sendiri. Biarlah semua yang melihatku, walaupun tidak berlari seperti bocah kepada sang papa, tapi setidak-tidaknya merasakan getaran kehangatan kasih lewat kehadiranku.



Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,


Post a Comment