Social Icons

26 February 2011

TANTANGAN GLOBALISASI

Bagi "Pendamba Ketenangan dan Kenyamanan", status quo adalah "surganya". Sementara sebuah perubahan selalu dipersepsikan dengan potensi bencana karena takut akan deretan panjang resiko yang sudah mengantri di belakangnya.

Realitasnya sebuah institusi termasuk didalamnya institusi pendidikan tidak luput dari perjalanan menyejarah berhadapan dan harus berbenturan dengan perubahan. Sebuah proses menjadi dan akhirnya sampai pada suatu titik dimana para pelaku di dalamnya harus berani mengatakan "YA" atau sebaliknya menyiapkan diri untuk mati sia-sia!
Berubah memang tiedak mudah, tetapi buat apa suatu institusi terus dipertahankan kalau ia hanya menjadi beban masyarakatnya? Hidup tetapi mengidap penyakit ketuaan, tidak memberi manfaat, dan hanya akan menyulitkan banyak orang.
Namun, untuk menciptakan sebuah perubahan tentu tidak semudah membalikan tangan! Pertama-tama harus ada seseorang yang bisa mengajak semua pihak "melihat". Itu belum cukup, pasalnya mereka yang melihat belum tentu mau bergerak dan yang bergerak belum tentu mampu menyelesaikannya. Lebih parah lagi jika semuanya secara sadar atau tidak disadari telah terperangkap nostalgia kejayaan masa lalu. (kutipan bebas Rhenald Kasali, Ph.D : 2006)

Dalam prakteknya, para pelaku pendidikan tidak boleh menjadi hamba status quo, tetapi harus mau berubah dengan menghayati institusi sekolah sebagai sebuah sistem yang hidup dan mau belajar apa yang menjadi pusat perhatiannya. Dinamika di dalam sekolah-sekolah semacam itu dipastikan berefek domino pada proses pembelajaran yang hidup.
Akhirnya semua itu dengan sendirinya akan mengalir ke arah muara yakni menjadi inti terdalam sebuah proses pembelajaran yang berpusat pada para pembelajar (student oriented). Pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher orientend) harus berani ditinggalkan jauh-jauh. Jika itu bisa diwujudkan, maka dampaknya akan luar biasa karena sekolah akan menjadi lahan subur persemaian keberagaman (pluralitas), bukan lagi homogenitas. Aktualitasnya pada penghormatan yang tinggi pendekatan multiple intelligence yang terpateri pada kredo masyarakat plural.
Lebih jauh hal itu akan melibatkan pemahaman seluruh warga sekolah bahwa semua umat manusia merupakan warga dunia yang saling tergantung dan mempengaruhi terjadinya peubahan. Itu sangat berbeda dengan pemahaman lama yang mengondisikan institusi sekolah tidak lebih dari tempat transfer fakta-fakta dan mencoba membantu para siswanya untuk mencari jawaban-jawaban yang benar menurut versi bank data yang telah ditumpuk lama dalam memori otak mereka.
Oleh karena itu dirasa sangat penting bagi institusi-institusi sekolah untuk mau membongkar dan kembali membangun dasar-dasar esensial bahwa, "Kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup", Non scholae sed vitae discimus. Itu menjadi sangat penting untuk memampukan generasi berikutnya menghadapi tantangan, menggapai peluang, dan ketidakpastian abad 21.
Jika masih diperkenankan memakai istilah kata mengajar untuk para gurunya, mengajar yang dimaksudkan adalah membekali peserta didik dengan hal-hal yang dasariah sembari membenturkan pengalaman peserta didik tentang seni hidup. Hal itu akan lebih bermanfaat untuk membantu para peserta didik melihat seluruh kehidupan, melampaui tahun-tahun yang dihabiskan seseorang di sekolah, sebagai institusi pendidikan (Walters Educational for Life.  2004).



Sumber: Educare.


Post a Comment