Social Icons

24 April 2011

GETSEMANI DILIHAT DARI MENARA LONDON


Ketika menghadapi kemartiran, St. Thomas Moore mendapat kekuatan dari sengsara Yesus di Taman Getsemani

By Kevin Perrotta

St. Thomas Moore

Pada suatu hari di musim panas tahun 1534, Thomas Moore dipanggil menghadap komisi pemerintah Inggris. Apakah ia mau atau menolak untuk bersumpah menyetujui undang-undang Parlemen yang menyatakan Raja Henry VIII sebagai kepala Gereja di Inggris? Demi alasan yang tidak mau disebutkannya, Thomas Moore menolak mengucapkan sumpahnya. Ia ditahan dan dimasukkan ke dalam salah satu sel di Menara London, suatu penjara bagi tahanan politik. Bagi “pria segala musim” ini, musim terakhir hidupnya telah dimulai. 
Moore ditahan selama 15 bulan dalam Menara sebelum dihukum mati dengan tuduhan pengkhianatan. Bagi pemerintah, masa itu merupakan masa frustasi. Tokoh-tokoh pemerintah bergantian mendatanginya, berusaha untuk menakut-nakutinya, atau membujuknya untuk mengesahkan kebijaksanaan Henry, semuanya tanpa hasil. Bagi Moore persoalan-persoalan politik yang menyebabkan ia dipenjara telah lenyap dari perhatiannya. Dalam kesendiriannya, ia membaca Kitab Suci, berdoa, dan menulis selama berjam-jam. Kepada suatu komisi yang menginterogasinya setelah ia ditangkap, Moore menyatakan bahwa ia sudah berhenti mengikuti perkara-perkara yang terjadi dalam Parlemen. Ia menjelaskan bahwa setelah ia ditahan.

“Saya memutuskan untuk tidak mempelajari atau berurusan dengan hal-hal duniawi, dan seluruh waktu akan saya pergunakan untuk merenungkan sengsara Kristus serta perjalananku meninggalkan dunia ini.”

Masa terakhir dalam hidup Moore merupakan masa untuk mempersiapkan kematian dengan merenungkan kematian Tuhannya.

Secara khusus perhatian Moore tertarik pada Yesus di Getsemani. Mungkin karena ia sendiri sedang menghadapi kematian yang mengerikan, maka ia merenungkan Yesus yang menghadapi kematian yang mengerikan. Moore menulis renungan-renungannya dalam sebuah buku kecil “The Sadness of Christ” (Kesedihan Kristus). Dalam buku itu, ia mempelajari kisah-kisah Injil tentang Getsemani dengan mengingat situasinya sendiri, dan mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai peristiwa itu. Moore membayangkan Yesus tiba di taman setelah Perjamuan Terakhir dan mengalami “perasaan sedih, duka, takut, dan letih yang sangat tajam dan menyakitkan”. Menurut Moore, beberapa hari dari kesusahan Yesus tentunya adalah rasa takut akan kesakitan jasmani.

Ia mengetahui bahwa siksaan-Nya akan segera tiba: pengkhianatan yang keji, musuh-musuh yang membenci-Nya, tali-tali yang akan mengikat-Nya, tuduhan-tuduhan palsu, fitnahan, pukulan, duri-duri, paku-paku, salib, dan siksaan yang mengerikan selama berjam-jam.

Dan Moore membayangkan bahwa kesedihan lain juga akan menimpa Yesus:
“Di atas segalanya, Ia merasa tersiksa oleh pikiran tentang ketakutan yang dialami oleh para murid, kehilangan orang-orang Yahudi, bahkan kehancuran orang yang telah mengkhianati-Nya, dan yang terakhir kedukaan yang tak terlukiskan dari ibu-Nya yang terkasih. Badai dari segala kesedihan itu menerpa hatiNya yang sangat lembut dan membanjiri hati itu seperti air laut yang menghantam tanggul retak.”

Moore dapat membayangkan kesedihan Yesus di Getsemani karena ia sendiri mempunyai banyak keprihatinan. Dalam bulan-bulan sebelum ia ditahan, Moore telah melalui malam-malam di mana ia telah membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika ia menolak untuk menyetujui kebijakan Henry VIII. Ia kemudian menguraikan ketakutannya itu.
“Seringkali dengan berat hati dan penuh ketakutan, saya membayangkan semua bencana dan kematian yang mengerikan yang mungkin akan menimpaku. Dan dengan pikiran demikianlah saya berbaring, gelisah dan berjaga, sedang istriku mengira saya sedang tidur.”
Bencana dan kematian yang mengerikan yang dibayangkan Moore itu adalah penyiksaan yang seringkali dilaksanakan di Menara dan hukuman mati yang biadab yang biasanya dijatuhkan kepada para pengkhianat Inggris abad ke XVI – semacam penjagalan di mana orang digantung dan isi perutnya dikeluarkan. Maka tidaklah mengherankan ketika Moore merenungkan peristiwa Getsemani, perhatiannya tertuju pada ketakutan yang dialami oleh Yesus.

Suatu pikiran muncul dalam benar Moore bahwa di Getsemani, Yesus sebenarnya sungguh merasakan ketakutan. Para teolog abad pertengahan sepertinya misalnya Thomas Aquinas berpendapat bahwa dalam siksaan dan penyaliban-Nya, Yesus menderita kesakitan lebih banyak daripada manusia mana pun. Ketika Moore mengamati Yesus di Getsemani, ia merasa yakin bahwa Yesus juga menderita jauh lebih banyak dari siapa pun juga karena rasa takut.

Ini menimbulkan pertanyaan. Yesus mengajar para murid-Nya untuk tidak takut kepada mereka yang dapat membunuh hanya badan tetapi tidak dapat melakukan lebih dari itu (Luk 12:4). Lalu mengapa Yesus merasakan sangat ketakutan di Getsemani?

Jawaban itu menurut Moore adalah bahwa ketika Yesus mengatakan kepada para murid untuk tidak takut, yang dimaksudkan-Nya bukanlah bahwa para murid tidak boleh takut menghadapi kematian yang mengerikan, tetapi janganlah mereka melarikan diri dari ketakutan karena kematian yang tidak kekal dengan menyangkal iman, sehingga mereka malahan lari ke dalam kematian yang kekal.

Moore menunjukkan bahwa Yesus bukan meminta kita untuk menyakiti hidup kita karena tidak merasa takut akan kematian. Ia memberikan kita kebebasan untuk menghindari kematian kalau dapat, tanpa mengorbankan tujuan-Nya. “Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain (lihat Matius 10:23).

Yesus mau supaya para pengikut-Nya bersikap seperti prajurit. Betapapun gelisahnya seorang prajurit karena ketakutan, tetapi jika ia maju bertempur karena perintah jenderalnya, ia akan maju, dan mengalahkan musuh. Ia tidak perlu merasa kuatir bahwa rasa takutnya itu akan mengurangi pahalanya. Bahkan sebenarnya, ia justru harus menerima lebih banyak pujian, karena ia telah mengalahkan bukan hanya musuh, tetapi juga mengalahkan ketakutannya yang seringkali lebih sulit untuk dikalahkan daripada musuhnya.

Mungkin sekali Moore memikirkan tentang dirinya sendiri ketika ia menulis tentang prajurit yang gelisah karena ketakutan. Kelihatan Moore bukanlah seorang pemberani.  “Aku mengenal dengan baik kelemahan dan kekecilan hatiku”, demikian ia menulis dari Menara. Ia mengatakan bahwa ketika ia ditangkap, ia merasa kurang kristiani karena “tubuhnya mengkerut karena kengerian dan takut akan kematian”. Ia menulis kepada puteri sulungnya, “Meg, pasti engkau tidak dapat menemukan hati yang lebih pengecut daripada hati ayahmu yang lemah ini. Sifatku yang takut akan rasa sakit ini membuatku takut kepada seekor burung pipit”.

Pernyataan-pernyataan itu bukan kepura-puraan. Memang Moore lebih berani daripada kebanyakan orang di Inggris, yang meskipun tidak sependapat dengan Henry tetapi menerima kebijakan Henry. Tetapi Moore sama “mengkerutnya” seperti setiap martir. Sahabat Moore, Uskup John Fisher, yang juga dihukum mati oleh Henry VIII, secara terang-terangan menentang pemisahan dari Gereja (Katolik). Sebaliknya, Moore menahan diri untuk mengeluarkan pendapatnya. Moore tetap diam karena dengan berdiam diri ada kesempatan untuk menghindari hukuman mati. Setelah ia dianggap bersalah karena pengkhianatan barulah Moore secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa undang-undang Henry merupakan sesuatu kejahatan besar.

Ketika Moore yang ketakutan itu merenungkan Tuhannya yang ketakutan di Getsemani, timbullah pertanyaan lain di benaknya. Andaikata dianggap wajar ada rasa takut menghadapi siksaan dan kematian, tetapi dalam perjalanan sejarah terdapat beberapa orang pemberani yang secara terbuka mengakui diri sebagai penganut agama Kristen,  meskipun tidak ada seorang pun yang menuntutnya, sehingga dengan demikian mereka menghadapi kematian. Lalu, mengapa tidak dapat dikatakan tidak pantas jika Kristus sendiri, pemimpin para martir, panutan mereka, menjadi begitu takut ketika sengsara mendekati, begitu gemetar, begitu sedih? Bukankah Ia sebaiknya dengan sangat hati-hati memberi teladan yang baik dalam hal ini supaya orang lain dapat meneladan-Nya untuk menghadapi kematian dengan bersemangat demi kebenaran?

Moore mendasarkan jawabannya pada pengamatan bahwa kebanyakan orang bukanlah orang yang sangat pemberani. “Hampir semua orang merasa takut menghadapi kematian”. Beberapa orang memang berani karena wataknya, sehingga ketika harus menghadapi kematian sebagai martir, mereka “dengan bersemangat berlari menemui kematian”. Beberapa orang menerima rahmat luar biasa dari Allah sehingga mereka tidak takut menghadapi sengsara rahmat yang menolong tetapi merupakan “kebahagiaan yang diperoleh bukan oleh usaha sendiri”, yang tidak diberikan kepada setiap orang.

Meskipun demikian, Yesus melihat bahwa akan ada banyak orang yang mempunyai “keadaan jasmani yang rapuh sehingga mereka akan tergoncang oleh kengerian menghadapi bahaya siksaan”. Karena alasan inilah, Yesus memilih untuk membesarkan hati mereka dengan teladan-Nya melalui kesedihan-Nya. Kedukaan-Nya, keletihan-Nya, dan ketakutan-Nya yang tak bertara, supaya mereka tidak merasa kecil hati jika mereka membandingkan ketakutan mereka dengan keberanian para martir yang paling berani.

Dengan kata lain, Yesus ingin menjadi teladan yang dapat kita ikuti karena pengalaman-Nya sama dengan pengalaman kita. Karena ketakutan akan kematian dan siksaan merupakan pengalaman yang alami bagi kebanyakan orang, maka rasa takut adalah “penderitaan yang juga ditanggung oleh Yesus, dan tidak untuk dihindari”.

Moore menulis bahwa di Getsemani kita menyaksikan Allah menjadi manusia yang lemah supaya “Ia dapat memelihara orang-orang lemah melalui kelemahan-Nya”. Yesus mau supaya rasa takut-Nya di Getsemani “berbicara dengan suara-Nya sendiri”. Kepada setiap pengikut-Nya yang merasa tidak sanggup menghadapi penderitaan dengan berani. Moore menggambarkan Yesus bersabda kepada setiap pengikut-Nya yang merasa takut:
“Wahai hati yang lemah, janganlah takut, jangan putus asa. Kamu takut, kamu sedih, kamu dibebani kelelahan dan ketakutan akan penderitaan yang mengancammu dengan sangat. Percayalah kepada-Ku.  Aku telah mengalahkan dunia, namun Aku menanggung derita yang jauh lebih besar karena ketakutan, Aku lebih sedih, lebih menderita karena kelelahan, lebih ketakutan mengetahui bahwa siksaan yang kejam semakin mendekat. Biarlah orang-orang pemberani itu memiliki martir-martir yang bersemangat tinggi, biarlah mereka bersuka cita meneladan martir-martir itu. Tetapi kamu, domba-Ku yang lemah dan ketakutan, merasa puaslah dengan hanya memiliki Aku sebagai gembala-Mu, ikutilah bimbingan-Ku. Jika kamu tidak mempercayai dirimu sendiri, percayalah kepada-Kua. Lihatlah, Aku berjalan mendahului melalui jalan yang menakutkan ini.”
Kita hanya dapat menduga bahwa Moore yang duduk sendirian di dalam selnya, dalam ketakutan akan apa yang dihadapinya, mendengar kata-kata itu sebagai kata-kata Yesus yang ditujukan kepadanya.

Gambaran tentang ketakutan dan doa Yesus di Getsemani meneguhkan hati Moore. Setelah beberapa bulan berada di Menara, ia mengatakan kepada Meg bahwa ia bersyukur kepada Tuhan karena dengan berlalunya hari, kematian semakin lama semakin kurang mengerikan. Ia menulis bahwa ia merasa yakin bahwa jika seseorang berusaha “sujud dalam kenangan akan penderitaan mendalam dari Penyelamat kita di Getsemani sebelum sengsara-Nya” maka ia “akan menerima penghiburan yang besar”. Pada pagi hari sebelum hukuman mati dijalankan, Moore melangkah keluar dari selnya dengan tenang. Ia bahkan berjalan menuju tempat eksekusi sambil bergurau (Ia dijatuhi hukuman penggal kepala). Dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan, ia menulis kepada Meg sehari sebelum hukuman matinya: “Selamat tinggal anakku, berdoalah untukku, dan aku akan berdoa untukmu dan untuk semua sahabatmu. Semoga kita berjumpa dalam sukacita di surga”.

Moore membaca kisah-kisah Injil tentang Yesus di Getsemani sebagai sabda Allah baginya, namun pemahamannya mengandung arti bagi kita semua dalam situasi hidup kita. Jika ketakutan karena menghadapi kematian sebagai martir tidak menjadi beban pikiran kita, kita tetap mempunyai ketakutan-ketakutan kita sendiri – takut kehilangan pekerjaan, takut akan masa tua, akan bencana yang menimpa orang-orang yang kita kasihi, akan kemungkinan bahwa anak-anak kita meninggalkan Allah. Kita mempunyai kesedihan kita: karena orang yang kita kasihi meninggal, sedih melihat keadaan Gereja dan kecenderungan moral masyarakat, sedih karena melihat penderitaan orang-orang yang tidak kita kenal yang kita saksikan dalam berita malam di TV. Kita mungkin merasakan kelelahan yang kronis karena beban pekerjaan serta tugas membesarkan anak-anak.

Jika demikian, seperti Moore, kita dapat memandang Yesus di Getsemani dengan “kesedihan-Nya, kedukaan-Nya, kelelahan-Nya, dan ketakutan-Nya yang tidak ada bandingan”. Contoh yang diberikan Yesus menunjukkan kepada kita bahwa ketakutan, kesedihan dan kelelahan tidak merupakan jawaban kelas dua kepada Allah. Jika Yesus tidak mengharapkan calon-calon martir untuk “tidak menyakiti hidup mereka” ketika Ia mengatakan “jangan takut”, maka Ia juga tidak mengharapkan kita untuk menyakiti hidup kita ketika Ia berkata “Bersukacitalah” atau “Berharaplah”. Tentu saja suka cita dan pengharapan merupakan unsur-unsur penting dari pengalaman Kristiani. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Moore, Allah telah membuat bermacam-macam watak manusia; tidak semuanya pemberani, ataupun periang. Kita mengalami penderitaan hidup secara berbeda-beda. Seperti yang diamati oleh Moore:
“Saya merasa pasti bahwa Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita, tetapi saya tidak meragukan bahwa Ia juga mengasihi Tobias dan Ayub yang saleh. Memang benar mereka berdua menanggung malapetaka dengan berani dan sabar, tetapi sepengetahuan saya, mereka masing-masing tidak menerimanya dengan sukacita dan tepuk tangan karena merasa bahagia.
Pada waktu-waktu tertentu, Allah membebaskan kita dari rasa takut, sedih, letih, sebagaimana Ia kadang-kadang memberi seseorang keberanian untuk bersemangat menghadapi siksaan dan kematian demi Kristus. Tetapi seperti yang ditunjukkan oleh ketakutan Yesus di Getsemani, yang terpenting dan yang paling berarti adalah kesetiaan kita kepada Allah, apapun perasaan kita."
Dalam segala kesukaran yang kita hadapi, kita dapat berbuat seperti Moore di Menara, yaitu membiarkan Dia yang mengalami ketakutan, kesedihan, dan keletihan di Getsemani “berbicara dengan suara-Nya” kepada kita yang ketakutan, sedih dan letih. Apapun kesukaran yang kita hadapi, kita dapat mengikuti nasihat Moore:
Barangsiapa yang sangat tertekan oleh perasaan takut dan kuatir, hendaklah ia mengingat sengsara Kristus, biarlah ia selalu merenungkannya dan selalu memikirkannya, hendaklah ia minum dari sumber yang menyehatkan dan yang menghibur ini. Hendaklah kita mohon kepada-Nya dengan segala kekuatan agar Ia memberi kita penghiburan dalam penderitaan kita dengan  memandang penderitaan-Nya. Dan bila kita dalam kesedihan kita, mohon dengan sangat agar Ia melepaskan kita dari bahaya, hendaklah kita meneladan-Nya dengan mengakhiri doa kita seperti doa-Nya: “Janganlah apa yang aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki”.

Sumber: Sabda Allah Bagi Anda, Maret 1997

PAX ET BONUM

Post a Comment