Social Icons

24 April 2011

"MENELUSURI JEJAK ORANG KUDUS"


Sapaan seorang sahabat untuk para sahabat,

Sebuah kisah kecil kiranya menemani Anda sekalian malam ini. "Menelusuri jejak orang Kudus"adalah hasil refleksi perjalanan/kunjunganku ke "Melaka" (Malaka) yang terkenal dalam pelajaran sejarah sebagai "selat Melaka." Ada yang spesial di sana karena di situ pulalah tempat disemyamkannya jenasah St. Fransiskus Xaverius yang terkenal itu.



“MENELUSURI JEJAK ORANG KUDUS”


Ada sebuah lagu rohani bagus yang syairnya kira-kira begini; “Ada satu bukit jauh dari situ...”  Ya, kalau Anda mau melancong ke Melaka (Malaka)-Malaysia, jangan pernah lupa mengunjungi “St. Paul’s Hill”  karena di atas bukit kecil di tengah kota itu terdapat reruntuhan Gereja St. Paulusyang kini menjadi obyek wisata para tourist meskipun kesannya tidak dirawat dengan baik. Menurut data sejarah yang tertulis di situ, gereja kecil ini yang sebelumnya hanyalah sebuah kapel didirikan oleh seorang kapten Portugis, namanya Duarto Coelho pada tahun 1521 sebagai tanda syukur atas keselamatannya dari serangan musuh. Berhubung karena pemerintah tidak mengizinkan gereja ini direnovasi kembali oleh uamt  Katolik setempat maka  dibangunlah sebuah gereja baru dengan nama gereja St. Fransiskus Xaverius pada tahun 1849.

 Di dalam reruntuhan gereja St. Paulus di atas bukit indah itu Anda bisa melihat tempat disemayamkannya mayat St. Fransiskus Xaverius setelah meninggal di Cina. Sedangkan tempat yang ada salib kayu kecil itu adalah kawasan air laut dimana St. Fransiskus Xaverius menanamkan sebuah salib lalu meninggalkan tempat itu karena ditolak oleh penduduk Melaka pada saat kedatangannya yang  pertama (daerah sekitar itu sekarang menjadi pusat bisnis dan pertokoan yang dibangun oleh pihak pemerintah) Wow..kembali ke laptop soalnya aku bukan guru sejarah atau mentri parawisata....hehehe.

Memasuki kawasan bukit kecil nan indah itu hati dan pikiranmu sebagai seorang Katolik pasti teringat akan bukit Golgota yang jauh di sana. Kalau di bukit golgota menjadi tempat disalibkannya Sang Guru Cinta, maka di bukit Santo Paulus pernah disemayamkan seorang murid Sang Pencinta Sejati yakni St. Fransiskus Xaverius yang terkenal itu. Jejak-jejaknya adalah jejak cinta dan kesetiaan sebagai seorang murid yang sungguh mencintai Gurunya. Ia rela meninggalkan negara dan sanak keluarganya dan datang ke Melaka bahkan sampai ke Maluku hanya mau membuktikan cintanya yang berkobar-kobar kepada Dia Yang lebih dulu mencintainya. Menelusuri jejak orang kudus ini membuat kita merasa malu terhadap diri sendiri atas caranya kita beriman di dunia dewasa ini yang serba mudah tapi kadang punya banyak alasan untuk tidak melayani dengan cinta yang besar seperti St. Fransiskus Xaverius.

Kalau di bukit Golgota telah terpaku Sang Pencinta Sejati; kalau di bukit St. Paul-Melaka terlah terbaring tubuh kaku St. Fransiskus Xaverius maka detik-detik terakhir menjelang Tri Hari Suci ini kita sejenak merenung bahwa baik Yesus maupun St. Fransiskus Xaverius telah mati untuk dan karena sebuah cinta, yang bukan untuk diri mereka tetapi untuk saudara dan aku. Yesus telah mati untuk menebus dosa-dosa kita; St. Fransiskus Xaverius telah mati untuk memberi jalan dan teladan bagaimana harus membalas cinta Yesus kepada kita, maka sekarang saatnya kita merenung sejenak untuk bertanya; “Apa yang telah, sedang dan akan kuberikan kepada Yesus sebagai balasan cintaku kepada-Nya?”

Baiklah jika malam ini kita meminta rahmat khusus dari Tuhan untuk mengizinkan kita masing-masing merasakan atau setidak-tidaknya dapat memaknai peristiwa-peristiwa agung yang akan terjadi mulai dari esok sampai minggu paskah nanti. Aku mau memberitahukan dan mengingatkanmu sebagai saudara dalam Gereja yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik bahwa “jangan pernah lewatkan perayaan-perayaan besar mulai dari kamis putih sampai minggu paskah, karena dari sanalah Anda akan mengerti tentang beberapa sakramen penting dalam Gereja Katolik, seperti  pembaptisan, Ekaristi dan Imamat, serta mengapa Yesus harus mati untuk saudara  dan aku.” Selamat menyongsong Tri Hari Suci.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,


Wasting LightThe Secret Holocaust DiariesSo Beautiful or So What
Post a Comment