Social Icons

26 April 2011

Seorang "TRENDSETTER"

Setiap zaman selalu menciptakan tren yang bisa menjadi penanda era. Bisa dibilang, saat ini kaum muda di kota sedang tergila-gila dengan berbagai "gadget" yang sedang digandrungi di eranya seolah sudah menggenggam status sosial di lingkungannya. Ia seolah ditahbiskan sebagai pencipta tren atau "trendsetter" di sekolah.

Kindle Wireless Reading Device, Wi-Fi, Graphite, 6" Display with New E Ink Pearl Technology

B
oleh mengikuti tren si “trendsetter” itu biar kita tidak terkesan norak. Namun, jangan sampai ikut arus. MuDaers yang cerdas harusnya bisa memosisikan diri agar tampil beda karena beda itu sudah wajib hukumnya buat setiap individu.
Berikut ini merupakan tips-tips agar kita bisa memanfaatkan teknologi dan tren dengan cermat. Jangan sekedar ikut-ikutan ya! okey…

 1. Di balik hura-hura cicit di Twitter dan Facebook kita bisa memanfaatkannya untuk kepentingan merengkuh jejaring sosial yang lebih serius. Jangan mau hanya menjadi budak teknologi jejaring sosial. Tapi juga harus ada manfaatnya, baik dari sisi kemampuan intelektual maupun sosial ekonomi.
Jika kamu seorang pemain biola, kenapa tidak “memasarkan” dan mematangkan kemampuanmu untuk dipublikasikan ke jejaring kamu? Bagi yang hobi desain, kenapa tidak mencoba mendesain T-shirt keren untuk disebarluaskan? Siapa tahu banyak yang tertarik. Seperti beberapa orang yang sudah memanfaatkan kesempatan seperti ini. Tapi ingat!!! Jangan menjadi “penjahat” jejaring sosial.

2. Jika teman dekat kita pamer Blackberry atau iPad, Anda tak harus mengikuti jejaknya. Tohh… Anda masih bisa eksis dengan perangkat lain. Smartphone lain bisa jadi lebih keren jika Anda tahu cara bagaimana mengopreknya. Jadilah orang yang kreatif dan jangan mau pasif menerima teknologi.

3. Jika teman kita menjadi kolektor berbagai konten “mobile” yang dianggap sedang tren, misalnya wallpaper unik, koleksi lagu, ringtone lucu-lucu, game-game seru, dan masih banyak lagi, kita tak harus iri dan berkecil hati.
Dengan sedikit usaha dan trik, kita bisa memproduksi sendiri atau transfer file sendiri ke perangkat gadget kita. Jorjoran dalam mengoleksi konten yang tak perlu bukanlah tren. Ini bahkan harus dilawan dengan sedikit pengetahuan teknis.

4. Jika teman kita sudah malang melintang di dunia blog, bisa menjadi kontributor berbagai media online maupun cetak, bahkan elektronik, bisa magang di media nasional ternama… Nah inilah yang harus kita waspadai dan khawatir!
Kita boleh banget mengikuti jejaknya, dan dengan harapan bisa melampaui kebesaran nama teman kita itu. Caranya? fokuskan pada tema spesifik dan perkaya referensi kita untuk menulis. Misal, kita hobi dan dekat dengan komunitas musik indie, tulislah secara terus-menerus semua yang terkait musik indie. Niscaya, kita akan menjadi sumber utama untuk masalah musik indie.

5. Blackberry dan “smartphone” lainnya telah menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. (Nah…ini perlu Anda hati-hati. Jangan sampai ini terjadi pada Anda ya… hahaha) Walau kita pengguna gadget ini, kita harus sadar bahwa dunia luar sedang mengkritik habis perilaku generasi seangkatan ini.
Pengetahuan soal ini harus kita pahami. Jika tidak, kita menjadi bagian dari badut-badut pengguna teknologi. Kita akan terlihat keren jika bisa menulis esai Bahasa Indonesia soal kritik perilaku yang tidak sehat ini.

6. Jangan terpancing emosi dalam berbagai percakapan di perangkat mobile dan internet, baik di forum-forum diskusi internet, chatting di perangkat messenger, atau di Blackberry Messenger. Semakin kasar bahasa kita, semakin menandakan kita tak mengerti teknologi karena percakapan yang menjurus bullying dan pelecehan sedang diperangi.
Kita harus fasih menjelaskan apa itu cyber bullying dan mengapa harus diperangi. Intinya, jangan melecehkan, mengancam, merendahkan, rasis, apalagi menyebarkan kebencian.

7. Jika teman kita mengaku seorang “hacker” dan menjadi pusat perhatian karena telah membobol beberapa web, kita patut curiga bahwa dia tak lebih dari seorang “cracker”, perusak tatanan yang stratanya paling rendah. Strata terendah disebut “lamer”, biasanya hanya memanfaatkan tools yang sudah ditemukan orang lain untuk dicoba di web-web kecil.
Hacker adalah istilah bagi seseorang yang paham komputer dan teknis jaringan. Seorang hacker tak akan menyerang website-website kecil. Selain bukan pekerjaannya, cracking itu tak sesuai dengan etika, paling ia hanya akan memperingatkan tentang celah keamanan yang ada.
Oleh karena itu, jika teman kita mengaku hacker tapi merusak, maka dia hanya sok jago dan tak paham istilah hacker versus cracker itu sendiri.

8. Jika teman kita heboh menjadi “blogger” di blogspot atau wordpress, kita dengan mudah bisa “menandinginya” dengan cara membuat website sendiri dengan alamat domain yang lebih professional (ada yang gratisan dan ada juga yang berbayar) dan di-install software gratis yang ada.
Software untuk membuat website, umumnya disebut Content Management System (CMS). Contoh CMS gratis yang popular adalah Joomla dan Wordpress. Kita bisa install salah satu CMS itu di website kita. Lebih bagus hasilnya. Namun, jangan lupa agar kontennya diperhatikan juga. (Amir Sodikin, Kompas-Jumat, 15 April 2011).

Post a Comment