Social Icons

24 April 2011

SALIB PRIBADI KITA


Beberapa isi dari tulisan ini sengaja saya modifikasi agar si Robot Google tidak mengabaikan blog ini. Selamat membaca.

 Friends, sering kali kita mengasihani diri kita sendiri dan mengatakan bahwa salib kita berat.
Saya ada sedikit contoh .. mgk bisa membantu rekan2 lain utk lebih mengerti bahwa setiap orang memiliki salib sendiri2 yang beratnya disesuaikan untuk tempaan Tuhan. Setiap salib, tentu memiliki makna tersendiri.
Jadi saran saya : buat yang merasa sedang kelelahan memikul salib, berhentilah sejenak & berdoa.
Minta lah kekuatan untuk memikulnya besama Yesus.
Berikut ini contohnya :  (sumber :  http://www.bhaktiluhur.org/salib-anak-kecil-yang-berat/)

SALIB ANAK KECIL YANG BERAT

Foto anak di samping ini adalah Dina Novita. Ia adalah putri dari pasangan Ibu Suprihatin dan Jasemo. Ayahnya meninggalkan ibunya tanpa pesanatau berita. Dina berasal dari desa yang Sidorejo Sukorejo Kec.Wates Blitar. Dengan kakek-neneknya (orang tua dari ibu Suprihatin). Suprihatin bekerja di Surabaya sebagai PRT. Dina berasal dari keluarga petani miskin, yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dina dan ibunya di sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu dekat rumah kakek & neneknya. Sejak Dina berusia 7 bulan, ayahnya meninggalkan ibunya tanpa pesan atau berita. Sampai sekarang, Dina hanya merasakan cinta seorang ibu dan kakek-nenek tanpa mengalami cinta seorang ayah.

Dina adalah anak yang pintar, hanya kadang-kadang sedikit nakal. Ia anak yang ceria, aktif, suka menyanyi dan cepat menangkap dan menghafal semua lagu dan gerakan di TK. Saat ini Dina berusia 6 tahun dan dia bersekolah di TK 0 besar.
Pada bulan Desember tahun 2010, Dina pingsan dan jatuh saat bermain sendirian di rumah tetangga yang tidak jauh dari rumahnya. Tidak ada yang tahu bahwa ia jatuh. Dina juga tidak pernah memberitahu bahwa dia telah jatuh. tetapi beberapa minggu kemudian, Dina mengalami semacam kelumpuhan tubuh. Jika berjalan, kaki kanan dan tangan kanannya sulit digerakan dan tidak bisa menggerakkan kepalanya ke samping kiri. Setelah Dina jatuh sakit, neneknya  bertanya mengapa kakinya memar, kemudian Dina memberitahu bahwa beberapa minggu lalu dia jatuh. Dina mengatakan bahwa dia jatuh, dan tidak ada yang menolong ,dia bangun sendiri. Kerena neneknya mengira bahwa ia keseleo, lalu neneknya membawa Dina kedukun untuk dipijat. Memang ada perubahan beberapa hari kemudian, Dina bisa berjalan normal lagi. Tapi sejak itu, Dina mulai mengeluh sering sakit kepala, mual dan muntah. Kemudian neneknya membawanya ke bidan terdekat di desanya. Menurut bidan tersebut Dina terkena penyakit Tifus dan bidan memberikan obat.
Pada tanggal 9 Januari 2011, ia menghadiri perayaan Natal. Pada saat itu Dina masih bisa melihat. Tapi sebelum selesai acara Dina harus pulang lebuh dulu karena tubuhnya panas dan muntah-muntah. Beberapa hari kemudian situasi mulai membaik. Tapi beberapa minggu kemudian, penglihatannya mulai kabur, akhirnya pada akhir Januari, anak itu tidak bisa melihat lagi. Lalu ibunya membawa Dina untuk perawatan ke rumah sakit di Wlingi. Karena peralatan medis terbatas, Dina dirujuk ke Rumah Sakit Umum Saiful Anwar Malang ke Poliklinik untuk perawatan mata. Pemeriksaan awal di Rumah Sakit Umum Saiful Anwar Malang dilaksasanakan pada tanggal 2 Februari 2011 dan ia mulai tinggal beberapa minggu di Bhakti Luhur. Lambat laun bukan hanya matanya yang tidak bisa melihat tetapi dia juga menjadi tuli.
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan MRI pada 02 Maret, akhirnya diketahui bahwa:
Organ penglihatannya normal (tidak ada kerusakan).
Ada tumor otak di otak kecil yang tersumbat cairan dari otak yang seharusnya mengalir ke seluruh bagian tubuh. Karena tumor ini telah lama ada, cairan itu kini menjadi terlalu banyak dan mengakibatkan tekanan besar pada otak. Tumor ini merusak saraf yang mengarah ke mata dan telinga sehingga ia tidak bisa lagi melihat dan tidak bisa lagi mendengar.
Operasi di lakukan 2 tahap:
Tahap 1. Operasi untuk mengeluarkan cairan dan memungkinkan untuk mengalir ke perut pada tanggal 23 Maret 2011 oleh Dr Farhad Bal Afif. Operasi pertama berjalan dengan baik dan anak tinggal di Bhakti Luhur untuk pemulihan setelah operasi.
Satu bulan kemudian dilakukan operasi tahap dua untuk menghilangkan tumor pada otak kecil dan dilaksanakan pada tanggal 19 April 2011 di Rumah Sakit Umum Saiful Anwar.
Biaya operasi pertama adalah Rp.19.842.900 .
Biaya operasi kedua dan diperkirakan Rp. 40.000.000


Post a Comment